Alat Mengajar Bagi Pendidik

Alat Mengajar Bagi Pendidik

Sumber BELAJAR, Wahana DAN ALAT PERAGA

A. PENDAHULUAN


Bergulirnya  Kurikulum futur yaitu kurikulum berbasis Kompetensi alias KBK, pada dasarnya harus menjadi tantangan bagi semua pihak mengamalkan beberapa persiapan dan pembenahan, diantaranya dalam mempersiapkan desain dan inovasi-inovasi dibidang sumber belajar, sarana penelaahan dan alat peraga.

Gaya dunia kreativitas berasal para pendidik bagi meres-bidang ini akan ditantang, sejauhmana mereka mewah mengimbangi peliknya rumusan-rumusan standar kompetensi yang harus dicapai pesuluh privat menuntut ganti rugi KBK ini. Atas pemikiran inilah maka juru tulis merasa perlu cak bagi menetengahkan juga target urun rembuk kerumahtanggaan makalah boncel ini, sebagai stimulus bagi kita semua bagi kembali mampu merefleksikan, mengamalkan-memproduksi, mengujicobakan serta menilainya. Dengan demikian apa yang menjadi tujuan n domestik KBK ini diantaranya mampu dioptimalkan pencapaiannya melalui eksploitasi dan penggunaan sumber membiasakan, media dan instrumen peraga.

Akan tetapi dalam pelaksanaannya terutama pada tahap prolog dan pemetaan dari ketiga konsep ini, yaitu
sumber belajar, media pembelajaran dan perkakas peraga,
kadang kelihatannya masih selisih basah. Untuk itu pada mulanya musyawarah ini juru tulis akan memulainya dengan salah satu ilustrasi yang boleh jadi dapat mengirimkan menjadi mangsa urun pendapat kita bagi kembali melakukan analisis secara lebih cermat.

B. ILUSTRASI DALAM Mengerti  Sendang BELAJAR, Media DAN Peranti PERAGA

Momen seorang temperatur bernama buntelan Ahmad akan mengajarkan sebuah kompetensi dasar, denga kepala karangan  ”bangun ulas ” pada pelajaran ilmu hitung, maka suhu tersebut  mencoba bikin  menyiapkan  sebuah kubus, kawat dan penggaris dengan dimensi-ukuran nan telah ditetapkan.  Mula-mula-tama Buntelan Ahmad  menyampaikan intensi pembelajaran yang ingin dicapai kerumahtanggaan cak bimbingan tersebut serta aktivitas yang harus dilakukan siswa selama pembelajaran berlantas. Kemudian Kelongsong Ahmad mengklarifikasi amanat  yang terdahulu tentang Dus tersebut, mulai berasal panjang, pesek dan jenjang, diagonal ruang dan rincih serta ukuran-matra yang penting kepada siswa. Selama menguraikan Pak Ahmad  cak acap mengikutinya  dengan cara menunjukkan bagian-bagian yang penitng dari ciri-ciri kubus tersebut pada  Kubus yang ia pegang. Siswapun meperhatikannya dengan mumbung seksama. Serentak sesekali  Cangkang Ahmad menghunjamkan benang kuningan-kawat yang dipeganggnya  ke dalam kubus tersebut pak Ahmad terus menjelaskan akan halnya apa yang dilakukannya kepada siswa. Sehabis sejumlah lama murid disuruh mengambil mistar , kemudian Sampul Ahmad  mengajak sendiri siswa ke depan kelas untuk mengukur  panjang benang kuningan yang dimasukkan secara simpang dalam kubus tersebut mulai dari sudut kiri atas hingga tembus ke sudut kanan radiks sama dengan terlihat lega lembaga di bawah ini.





Proses Mengukur Diagonal Ruang Sebuah Kubus

Saat itu pula siswa mengukurnya kemudian siswa tersebut menamakan berapa panjang kabel yang masuk tersebut kepada teman-temannya. Sesudah itu peserta  yang lain menjawabnya dengan sambil . Kemasan Ahmad pun tersenyum  puas, ternyata  jawaban siswa serta upaya siswa nan disuruhnya telah melakukan tugasnya dengan baik.

Bermula ilustrasi di atas, maka terletak beberapa peranan penting yang dapat dipahami, mana yang termasuk sumber berlatih, mana, alat angkut dan mana nan disebut alat peraga. Ketiga peranan tersebut yaitu: (1) Cangkang Ahmad sebagai guru matematika  memberikan penjelasan dan bimbingan kepada siswa; (2) Karton dan kawat nan dipegang dan dipakai Pak Ahmad buat menjelaskan materi pembelajaran; (3) mistar  ataupun penggaris nan dipakai siswa cak bagi mengeti tingkatan kawat laksana diagonal ruang kubus. Maka sesuai dengan situasi dan kondisi serta proses penelaahan yang berlangsung seperti diatas, dapat ditemukan bahwa peranan (1), (2) dan (3) tertulis ke dalam sumber sparing. Peranan (2) termasuk ke dalam kendaraan pembelajaran , karena informasi pembelajaran nan diberikan kepada siswa disampaikan melampaui alat penampil  yaitu kardus dan kawat. Peranan (3) termasuk ke dalam alat peraga, karena mistar digunakan bagi membuktikan ancangan an perkiraaan pangkat dari diagonal ulas kubus tersebut yang diperagakan peserta.

Akan tetapi penatapan ketiga peraga yang dihubungkan dengan perbedaan antara sendang sparing, media dan alat peraga pada ilustrasi di atas mungkin akan menampilkan pendapat-pendapat enggak. Mungkin juga dus dapat dijadikan ibarat perabot peraga juga, maupun kawat  yang dipegang Pak Ahmad bisa juga tercantum ke dalam media. Hal ini sudah satu wara-wara di lapangan bahwa memang semuanya bukan salah. Akan tetapi perlu dijadikan tolok bahwa yang dimaksud dengan Sumber Berlatih itu lebih luas, daripada media dan alat peraga. Cak bagi lebih jelasnya perbedaan ketiganya bisa dilihat mulai sejak konteks tujuan penggunaan, dan konteks materi penataran yang diajarkan.

C. PEMETAAN ANTARA Perigi Belajar, Alat angkut DAN ALAT PERAGA


Berikut ini penulis mengepas mendiskusikan pun pemikiran-pemikiran ki akal mengenai ketiga konsep di atas baik antara sumber belajar, alat angkut penataran maupun peranti peraga.

Baca Juga :  Contoh Surat Izin Sakit Tidak Masuk Sekolah Lewat Sms


1. Sumber Belajar

Suatu pandangan yang keliru seandainya sumber belajar signifikan di luar apa yang dimiliki hawa, atau  siswa. Guru ialah sumber membiasakan yang utama, yakni dengan barang apa kemampuan, wawasan keilmuan, kesigapan dan pengetahuan yang luas, maka segala apa proklamasi pembelajaran boleh diperoleh terbit guru tersebut. Petatar, siswa n kepunyaan sejumlah diversifikasi aktivitas sparing, pengalaman belajar, makrifat dan keterampilan, maka dalam konteks tertentu apa yang terdapat plong diri siswa apat dijadikan seumpama sumber membiasakan intern mempelajari satu camar duka-pengalaman sparing yang baru.

Mata air membiasakan pada dasarnya banyak sekali baik nan terwalak di lingkungan inferior, sekolah, sekitar sekolah malar-malar di umum, tanggungan, di pasar, kota,desa, hutan dan sebagainya. Yang teristiadat dipahami dalam kejadian ini yaitu ki aib pemanfaatannya nan akan tersampir kepada daya kreasi dan budaya mengajar guru maupun pendidika itu seorang.

Vernon S. Gerlach &  Donald P. Ely (1971) memfokuskan plong awalnya terletak spesies sumber belajar yaitu

manusia, bahan, lingkungan, alat dan perlengkapan,  serta aktivitas.

a. Manusia

Basyar dapat dijadikan bagaikan sumber belajar, peranannya sebagai sumber belajar bisa dibagi ke dalam dua kelompok. Kerumunan purwa ialah manusia ataupun orang yang sudah lalu dipersiapkan khas sebagai perigi berlatih melintasi pendidikan yang partikular pula, seperti guru, konselor, administrator pendidikan, tutor dan sebagainya. Kerubungan Kedua adalah manusia atau anak adam yang enggak dipersiapkan secara unik kerjakan  menjadi seorang nara sumber akan tetapi n kepunyaan  keahlian nan mempunyai kaitan karib dengan program pembelajaran nan akan disampaikan, misalnya dokter, penyuluh kesehatan, petambak, polisi dan sebagainya.



Pembagian Manusia Sebagai sumber Belajar

b. Incaran

Bahan yang dimaksud merupakan segala sesuatu nan membawa pesan/ manifesto bikin pembelajaran. Baik pesan itu dikemas dalam bentuk  buku selongsong, video, film, bola dunia, grafik, CD interaktif dan sebagainya. Kelompok ini biasany disebut dengan ki alat pengajian pengkajian. Demikian halnya dengan objek ini, bahwa intern penggunaannya untuk suatu proses pendedahan dapat dibedakan menjadi du akelompok yaitu bahan nan didesain khusus untuk pembelajaran, dan ada juga bahan/ki alat yang dimanfaatkan bikin memasrahkan penjelasan materi pendedahan yang relevan.

c. Lingkungan

Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan yang produktif memberikan pengkondisian membiasakan. Mileu ini juga di bagi dua kelompok yaitu lingkungan yang didesain khusus bikin pembelajaran, sebagaimana laboratorium, kelas dan sejenisnya. Sedangkan  lingkungan yang dimanfaatkan buat kondusif keberhasilan penyampaian materi pembelajaran, di antaranyai mileu museum, kebun binatang dan sejenisnya.

d. Alat dan perlengkapan

Sumber belajar dalam bentuk alat ataupun perlengkapan adalah alat dan perlengkapan nan dimanfaatkan bakal produksi atau menampilkan sumber-sumber sparing lainnya. Seperti TV  untuk takhlik programa belajar jarak jauh, komputer untuk membuat pembelajaran berbasis komputer, tape recorder untuk membuat program pembelajaran audio privat cak bimbingan bahasa Inggris, terutama untuk  menyampaikan siaran pembelajaran mengenai

listening
(mendengarkan),
dan sejenisnya.

e. Aktivitas

Biasanya aktivitas yang dapat diajdikan sumber belajar adalah aktivitas yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran, di mana didalamnya terwalak perpaduan antara teknik penyampaian dengan sumber sparing lainnya nan memudahkan siswa belajar.  Seperti aktivitas dalam bagan diskusi, mengamati, sparing latihan, dan sejenisnya.


2. Media Pembelajaran

Dalam media penataran terdapat dua atom yang terkandung , ialah (a) pesan atau bahan pencekokan pendoktrinan nan akan disampaikan atau perangkat panjang hati, dan (b) perkakas penampil maupun instrumen berkanjang. Sebagaii arketipe  guru akan mengajarkan  bagaimana urutan persuasi melakukan sholat. Kemudian guru tersebut meneteskan ide-idenya dalam susuk lembaga ke n domestik selembar kertas, kamu mencitrakan setiap kampanye sholat tersebut dalam jeluang tersebut, saat di kelas ia menjelaskannya kepada siswa bagaimana gerakan sholat tersebut dengan cara ogok poster nan bergambarkan kampanye-kampanye nan sudah lalu kamu buat sebelumnya. Kemudian siswapun berbuat propaganda sholati dengan segala apa yang terdapat dalam poster tersebut. Intern perkembangan selanjutnya poster ini termasuk ke internal sarana sederhana.

Kerumahtanggaan perkembangannya dan pemanfaatannya kendaraan pembelajaran ini dapat dibagi berdasarkan jenisnya, daya liputnya, incaran pembuatannya, yaitu andai berikut :






Penjatahan Jenis Wahana Pembelajaran


3. Alat Peraga

Kata kunci dalam mengetahui radas peraga dalam konteks penelaahan merupakan
Poin Keefektifan
, dalam arti segala sesuatu  alat yang boleh menunjang keefektifan dan efesiensi penyampaian, pengembangan dan kesadaran kenyataan atau pesan pembelajaran.  Cak semau istilah lain dari alat  peraga ini, diantaranya sering disebut sebagai
sarana belajar.

Ibarat ilustrasi, misalnya Pak Fiil akan mengajarkan bagaimana gambar privat televisi  bisa terlihat di layar, maka Kemasan Khuluk membawa televisi ke kelas, kemudian ia membukanya di depan papan bawah, kemudian menjelaskan suatu-persatu kelebihan dari sendirisendiri onderdil televisi tersebut kepada siswa sehingga petatar mengarifi kenapa gambar terlihat pad alayar televisi. Intern ilustrasi tersebut geta televisi merupakan sebagai peranti peraga , bukan sebagai media.

Baca Juga :  Contoh Surat Pengunduran Diri Karena Habis Kontrak

D. ESENSI Berbunga SUMBER BELAJAR, Wahana DAN ALAT PERAGA.

Sreg dasarnya baik sumber belajar, ki alat alias organ peraga memiliki sari terdepan jika ketiganya diintegrasikan dalam proses pengajian pengkajian. Di mana esensi pentingnya adalah
takrif.

Jadi informasi yang terkandung, yang melalui, yang diolah, alias nan disampaikan, semuanya akan mempengaruhi  pusat gendong kemajuan ketiganya dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran yang dimaksud. Dengan kata bukan ketiganya harus memperhatian karakteristik semenjak pesiaran itu sendiri, dalam situasi ini Santoso S. Hamodjoyo (2001) menyatakannya,  yaitu:

  • Dimensi
    Accessibility
    ( Ki akal Jangkau/Akses Informasi)

Informasi yang terdapat, atau dimuat kerumahtanggaan sumur belajra, media dan instrumen mestinya memperhatikan buku jangkau. Situasi ini  menjadi masukan kerjakan pendidikan bagaimana mampu menggunakan dan memanfaatkan sumber belajara kendaraan dan alat peraga agar deklarasi pembelajaran dapat mencapai kualitas akses yang optimal.

  • Matra
    Speed (Kecepatan Informasi)

Penggunaan dan pemanfaatan perigi  membiasakan, sarana dan alat pera sedikitnya harus mampu menambah atau membantu atau menjembatani karakteristik informasi nan cepat, akan sekadar gemuk didengan cepat sekali lagi difahami makanya pelajar didik dengan cepat pun.

  • Format
    Amount (Besaran/ Kuantitas Informasi)

Keluasan dan varisi pengetahuan pengajian pengkajian nan menyulitkan petatar bakal memahaminya, maka diperlukan pula sumber, media, dan instrumen peraga nan berlambak menampungnya. Dengan demikian serumit apapun wara-wara pembelajran tertentu, maka dengan adanya penggunaan dan pemanfaatan sumber belajar, kendaraan dan gawai peraga yang kondusif, maka informasi tersebut akan bisa diterima peserta didik  dengan sistematis.

  • Dimensi
    Cognitive Effectiveness (Keistimewaan Memperoleh Maklumat)

Pemberitahuan yang tepat, sesuai dengan objek yang dipelajari maka pencapaian kenyataan yang dibutuhkan akan dengan efektif dicapai melewati pendayagunaan sumber membiasakan, media dan perlengkapan peraga. Tren keterangan yang bersifat  kognitif akan kongkrit  dan makin bermakna jika menunggangi mata air  belajar, alat angkut maupun perabot peraga nan kongkrit.

  • Matra
    Relevance (Kesesuaian Pemberitaan)

Kenyataan penataran yang sesuai kebutuhan petatar akan lebih bermakna dan akan makin lama tersimpan kerumahtanggaan memori petatar bimbing. Hal ini terutama akan cepat terlampiaskan jika  informasi tersebut diperolehnya melintasi pancaindera baik visual, rungu ataupun perabaan. Dalam kaitannya dengan keadaan tersbeut, maka sumber membiasakan, sarana dan alat peraga yang digunakan terlazim kiranya diperhatikan relevansinya.

  • Dimensi
    Motivating (motivasi )

Deklarasi  yang terlahir dari proses berpikir manusia akan memiliki parasan bokong  kebutuhan untuk  keadilan berpikir. Spesies dan buram  kabar nan dikemas, maupun yang terkandung semenjak perigi belajar, wahana, dan gawai peraga akan fertil memberikan motivasi untuk peserta ajar.

E.  PEMILIHAN  DAN PEMBERDAYAAN Sumur Belajar, Sarana DAN ALAT PERAGA


Agar  mata air belajar, media dan alat peraga yang digunakan internal proses pembelajaran dapat membantu pencapaian kualitas penerimaan, maka teradat diketahui beberapa kriteria, komplet, kriteria atau prinsip masing-masing. Demikian sekali lagi n domestik melakukan pemberdayaannya maka seorang guru harus memperhitungkan aspek-aspek yang mendukungnya.

1.  Pemilihan Sendang Belajar, Meida dan Gawai Peraga

a.  Pemilihan Perigi Belajar


Dalam pemilahan sendang belajar tergantung kepada (1) motivasi; (2) kemampuan guru dalam penggunaannya. Selanjutnya akan ditentukan berdasarkan :

    1. Acara Pengajaran
    2. Kondisi Mileu
    3. Karakteristik siswa
    4. Karakteristik  sumur  belajar

Kelima kejadian tersebut harus menjadi tolok dalam mengidas sumber belajar yang akan dimanfaatkan n domestik proses penataran.

b. Pemilihan Sarana Pembelajaran


Kerumahtanggaan penyaringan alat angkut pembelajaran harus dikaitkan dengan : (1) kompetensi dasar; (2) strategi penelaahan; (3) sistem evaluasi yang digunakan.
Mandu Pemilihan media:
a) Tujuan Pemilahan; b)karakteristik ki alat; 3)alternatif pemilahan.
Faktor yang perlu diperhatikan :
1) objektivitas; 2) program pengajaran; 3) Korban program (pesuluh); 4) situasi dan kondisi; 5) kualitas teknis; 6) keefektifan dan efesiensi penggunaan.
Kriteria Pemilihan
, mencaplok:

  1. Topik menghela minat siswa.
  2. Materi privat media penting bagi siswa.
  3. Relevan dengan kurikulum yang berlaku.
  4. Apakah materinya autentik dan maujud.
  5. Apakah fakta atau konsepnya benar.
  6. Format sistematis dan logis.
  7. Objektif adaptasi kebutuhan siswa.
  8. Cerita, gambar, efek, dandan dan sebagainya memenuhi syarat kualitas.
  9. Bahasa, simbol dan ilustrasi cukup komunikatif.
  10. Sudah lalu teruji daya dukungnya.


c.  Penyortiran Gawai Peraga


Terwalak kriteria yang perlu diperhatikan kerumahtanggaan seleksi peranti peraga untuk penelaahan masa kini terutama jikalau melihat karakteristik KBK, yaitu mencakup:

  1. kesesuaian alat pengajaran yang dipilih dengan materi pencekokan pendoktrinan atau jenis kegiatan yang akan  dilakukan oleh siswa;
  2. kemudahan internal memperoleh alatnya dan kemudian dalam perancangannya;
  3. kemudahan internal penggunaannya;
  4. terjamin keamanan dalam penggunaannya;
  5. kemampuan dana;
  6. fasilitas dalam penyimpanan, pemeliharaan dan sebagainya.
Baca Juga :  Pelajaran Apa Yang Dapat Diambil Dari Kehidupan Timotius Dan Keluarganya

2. Pemberdayaan Sumur Belajar, Media dan Instrumen Peraga

Dengan ketersediaan atau hasil produksi, maka pengusahaan sumur membiasakan, wahana dna alat peraga tidak hanya dilakukan sedemikian itu saja dari perian ke masa. Untuk itu perlu upaya pihak guru, sekolah, murid, orang tua, komiter sekolah dan dewan sekolah bagi mengerjakan upaya-upaya pemberdayaan kearah yang lebih optimal. Situasi ini sangat berjasa agar penggunaannya enggak monoton.


Asep Herry (2002), mengemukakan bilang lengkap upaya pemberdayaan sumber sparing nan mudah, murah dan efektif terhadap pencapaian maksud pengajian pengkajian, diantaranya :

  1. Barang Bekas (Babe), seperti bekas, contong rokok, korek api, kertas, kotak bungkus, dan sebagainya dapat dimanfaatkan privat proses penataran begitu juga n domestik melakukan pembekalan keterampilan dalam  menyair, menggunting, dan kerjasama.
  2. Realitas (sekolah, apartemen , pemukiman), misalnya akan efektif dalam memberikan camar duka tentang perjalanan siswa dari rumah smapai ke sekolah.
  3. Benda nan memiliki ponten khusus, dapat digunakan bagi menyodorkan materi mengenai perilaku, sikap dan moral murid didik yang nilai-nilainya diambil berpunca perlakukan mereka terhadap benda-benda terebut.

Pemberdayaan sendang sparing, media dan peranti peraga bisa dilakukan pada tahapan :

  1. diawal pembelajaran
  2. sepanjang proses pengajian pengkajian
  3. akhir proses pembelajaran
  4. di luar perian pembelajaran

Dalam hubungannya dengan upaya memelihara sumber berlatih, media dan instrumen peraga di sekolah, maka terlazim dilakukan kerjasama antara , guru dengan Ketua Sekolah dan tenaga kependidikan lainnya, supervisor akademis, supervisor, orang tua lontok, dewan sekolah, bahkan siswa itu seorang.

F.  PRODUKSI DAN Ekspansi  Mata air BELAJAR, Kendaraan DAN Perabot PERAGA


Terdapat beberapa kendaraan sederhana yang dapat dikembangkan suhu bakal keefektifan nan segera dipenuhi, misalnya  membuat ki alat-kendaraan sederhana sebagaimana poster,  ceritera berlukis dengan menggunakan foto, OHT,
rekaman ceritera (penataran melalui audio), papan planel dan sejenisnya. Berikut ini merupakan contoh langkah-langkah yang harus ditempuh dalam memproduksi bilang macam media sederhana.

1. Awalan Produksi Poster dalam Pengajian pengkajian Ilmu Sosial

Dalam memproduksi sebuah plakat, maka ada beberapa hal nan harus diperhatikan, yaitu: a)bulan-bulanan sasaran; b)bekas penyajian; c)lama presentasi; d)perhatikan alas kata sentral dan simbol yang sesuai; e)harus berharta dibaca dengan singkat.

Persiapan n domestik takhlik poster merupakan andai berikut :

  1. Menjadwalkan rancangan isi : tema surat tempelan; tujuan khusus; sosi-pokok materi yang akan dituangkan dalam poster.
  2. Mereka cipta gambar sketsa.
  3. Memperjelas/ memperbesar sketsa.
  4. Hadiah warna.
  5. Latering yang pintar pesan wacana pada poster.

2. Persiapan Produksi OHT

Langkah nan ditempuh mulai dari :

1)    membuat silabus pembelajran

2)    mewujudkan sketsa tranfaran pada kertas

3)    membuat transfaransi dengan menuangkan kata-introduksi kunci pecah materi pokok.

4)    Pembuatan bingkai, dengan berbagai teknik  presentasi:

  • Disclosure, yaitu oht dengan pengutaraan penutupan bagian yang belum dijelaskan serta meperlihatkan bagian yang menengah dijelaskan.
  • Overlays , adalah oht dengan presentasi fragmen demi bagian yang saling melengkapi dengan sistem tumpuk, dimulai pecah adegan daya materi (rencana –proses) kemudian dilengkapi dengan putaran tulangtulangan selanjutnya pecah oht berikutnya hingga terjaga gambar-proses nan teoretis.

5)    Penyimpanan tranfaransi dalam rekaman bernomor.

Pada dasarnya masih banyak mata air belajar, media dan alat peraga sederhana yang dapat diproduksi  oleh kita. Bermula uraian di atas kita dapat mencobanya secara kian baik.

G. Penutup


Lega dasarnya jabaran informasi pelatihan privat makalah kecil ini satu-satunya-mata hanya merupakan
rethinking
(relaksasi pemikiran kembali) plong diri kita semua terhadap apa yang telah resmi dilakukan. Akan tetapi semenjak apa yang sudah didiskusikan akan bernas memberikan galakan bagi kita semua bagi kian makmur meningkatkan kualitas pembelajaran di era KBK ini melalui pemanfaatan dan pendayagunaan sendang belajar, media dan alat peraga secara kian tepat dan  optimal.

H. DAFTAR PUSTAKA

  • Ase S. Muchyidin, 2001. Kajian Kebutuhan Sumber  Informasi dan Sumur Belajar. , Incaran Diklat e- Learning Propinsi Baten  hari 2001. Dinas Pendidikan Propinsi Banten
  • Asep Herry Hernawan. 2001. Sumber Berlatih: Bahan Diklat e- Learning Propinsi Baten  tahun 2001. Kantor Pendidikan Propinsi Banten.
  • Gerlach S. Vernon & Donald P. Ely,  1971, Teaching & Sarana : A Systematic Approach.New Jersey:  Prentice hal- Company.
  • Depdiknas Propinsi  Banten, 2002, Pelatihan g Suhu Kelas Sekolah Dasar, Banten: Jawatan Pendidikan propinsi Banten.
  • Santoso S. Hamidjoyo internal Deni Darmawan, 2001,
    Computer Mediated Communication dalam Meningkatkan Kualitas output SDm Divlat PT. Telkom.

    Bandung : Pascasarjana Unpad.
  • Sudirman, dkk, 1991, I Ilmu pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.
  • Triggs Teal. 1995.  Communicating Design in Visual Communication. London: Basford Ltd.

Alat Mengajar Bagi Pendidik

Source: https://sites.google.com/site/tirtayasa/sumber-belajar-media-dan-alat-peraga