Bahasa Medan Sehari Hari

Bahasa Medan Sehari Hari

Pengen kisahan ah adapun Bekas, ii kabupaten yang saya tinggali sebelum Jakarta. Takdirnya dihitung-hitung, lama saya tinggal di Medan 20 musim, suntuk pindah ke Jakarta sampai sekarang sudah 13 perian lebih.

Banyak teman lama di Medan menanya, kira-terka saya masih cak hendak kembali tinggal di Medan gak kemudian hari kalau sudah pensiun? Ya saya jawab belum tahulah, tengok situasi dululah ya kan?

Terus morong, meskipun udah lama di Jakarta, tapi kalau patut lagi nongkrong di mana gitu, doyan cak bertemu aja gitu hamba allah Gelanggang yang langsung bikin saya kangen sejajar Medan.

Seperti rembulan lalu saat saya dan Vay singgah ke kedai salinan di KoKas untuk membeli choco chip frappucino Vay. Saat itu kami sudah lalu duduk di geta yang memang mutakadim diatur jaraknya mengikuti aturan physical distancing. Silam datanglah dua daun muda nan lalu duduk di memintas kami.

Tak lama mereka berbua-bual, dengan suara minor semenjana tapi gak berlebih pelan, dan kuping saya langsung terbuka.


Keknya orang Ajang ini,


begitu batin saya. Eh tambahan pula saya keterusan mau nguping haha…

Habis teringat pula pada hal setahun yang sangat. Perian itu masih di kedai manuskrip yang sepadan, saya lagi duduk sebentar menunggui Vay yang sedang santai minum. Lewat sebelah kami, cukup catur orang perjaka cewek mengobrol dengan suara kencang. Telinga saya sudah lalu kebuka dong pastinya, tapi yang



harus digarisbawahi



adalah anak saya nan berbarengan kontan menoleh ke arah mereka karena terkinjat dengan celaan kencang dan dialek nan idiosinkratis, lalu mengsol memandang saya bersama-sama senyum lebar.


“Teman Mami,”


katanya. LOL.

Antagonis-teman dekat saya di Jakarta ini sering salah mengira kalau saya dan keluarga di rumah karuan ngomongnya pakai bahasa Tempat


(alias dikira mereka pakai bahasa Batak)

. Bisa jadi mereka plong mikir begitu karena sejauh bergaul dengan mereka saya rajin mengeluarkan sisi orang Palagan saya, dan sekali lagi tren bataknya. Ini bau kencur kira-kira sapta-delapan tahun belakangan doang saya semakin rajin balik ke gaya Medan, gara-gara saat itu ada anak hijau asal Siantar, Bernad yang baru masuk divisi kami. Begitu engkau senggang kami satu kampung, simultan keluarlah kan bataknya. Saya pun makara ketemu imbangan, dan hasilnya bisa mengeluarkan kangennya ngomong Medan.

Lalu ketika ada bandingan sekantor, Nessa, dinas ke Wadah dan engkau ngomongnya “kebatak-batakan dan ke-medan-medanan”, turunan Ajang bingung kok bisa ini sosok Jakarta jago kamus bahasa Medan. Berasal mana dia belajar bahasa Medan? Terus teman saya bilang, “Senggang berusul KakZy lah!” LOL. Terus yang di Kancah bilang heran mengapa bisa semua jadi terjerat-ikut karena si Zizy? Padahal selama di Tempat dia gak terlalu terlihat Medan-nya.

Selolahhh….

Tapi sesungguhnya, di rumah tidak ada nan ngomongnya kek bani adam Medan atau kebatak-batakan, selain saya. Ayahnya Vay (meskipun Batak) aslinya besar di Jakarta jadi gak bisa ia sok-rangah jadi individu Medan, pasti kaku, gak cocok. Mending gak usah sok jadi hamba allah Medan daripada diketawain. Vay apalagi.

Di flat opung Vay di Panggung, kita ngomongnya oplos, mixed antara bahasa Medan dan bahasa Papua. Lakukan yang belum sempat, mami saya keturunan Ambon dan sebelum pindah ke Arena kami adv amat di pulau indah di Papua, pulau Biak.

Contents

  • Bahasa Insan Medan enggak Bahasa Batak
  • Kamus Bahasa Wadah dan artinya
    • Tambahan Kamus Bahasa Medan Interlokusi
    • Minus tambahan pula terjemahan bahasa medan
    • Apa sepantasnya intensi kata “apakan lalu”?


Bahasa Orang Medan bukan Bahasa Batak

Saya sejumlah begini karena masih banyak yang mengira Medan itu kota orang Batak. Padahal kota Arena itu terdiri dari banyak kesukuan, dan sungguhpun kita rajin ketemu turunan bermarga di Medan, belum pasti ngomongnya B

komposisi

. Kalau basyar Medan pasti ngomongnya pakai bahasa Medan yang sudah tercampur dengan bahasa melayu, sementara seandainya ingin dengar bani adam Batak zakiah ngomong ya main-mainlah ke Pematangsiantar, itu yang paling hampir. Jadi bisa dikatakan kamus bahasa Kancah itu ya oplos-campurlah dengan kamus hokkien Wadah, kamus jawi Medan. Karena memang orang Ajang itu etnisnya lalu beragam.

Awal pindah ke Medan, saya dan abang saya yang masih bocah dibuat terkejut-kejut dengan bahasa ajaib anak adam Medan. Nanti di asal saya akan tuliskan kosa kata bahasa Medan sehari-hari yang wajib diketahui sebelum kalian
traveling

ke Medan ya.


Ambillah. Sebelumnya saya akan menceritakan lampau pengalaman abang saya saat mau membeli sate di sebuah warung, di sejumlah lilin batik pertama kami menempati rumah di Komplek Gaperta, Kancah.

Jadi di warung dekat flat kami itu ada ibu-ibu tua renta yang menjual sate di panggangan boncel di lantai, jadi lain dengan gerobak ya. Abang saya lalu bilang ke papi seandainya anda mau mencoba sate itu, penasaran itu sate apa. Ya maklumlah kami pecah kota kecil tentu suntuk excited mengepas hal-kejadian baru di ii kabupaten besar. Di Biak bersantap sate ataupun mie tiau adalah kelimpahan, sebab yang jualan sedikit sehingga harga jual pun tingkatan.

“Ya telah sana, coba cak bertanya,” begitulah kata papi waktu itu. Lalu pergilah berma saya ke sana.
Eh
enggak sampai panca menit dia kembali dengan terengah-engah dan raut wajahnya penuh rasa kaget.

“Kenapa?” Pertanyaan Papi.

Baca Juga :  Teks Mc Pernikahan Bahasa Jawa

Dong
bilang itu sate kera, Pi!” Seru si abang.


(dengan logat Irian yang kental)

Kami semua kaget mendengar itu.


“Issh… bani adam Medan brutal-e… masa dong biking sate berpunca cigak?” (Bahasa Papua, dong = mereka, biking = bagi)

Tak lama kemudian papi kami mendapat info akurat, takdirnya itu bukanlah sate kera, tapi SATE Kijing! Hhahaha :))

Sreg akhirnya kami pun senggang bahwa sate kijing merupakan pula jajanan khas Medan yang terkenal. Tak jarang jadi bekal makanya-oleh selain duren, bika ambon, bolu meranti, teri tempat, dannnn lain-tidak.


Gak usah kusebutlah semuanya ya, banyak soalnya kuliner Medan.


Baca ini juga ya woi:



Tempat Wisata di Palagan yang Wajib Dikunjungi

Bak bocah yang pindah dari pulau terujung Indonesia ke kepulauan yang pun paling kecil ujung Indonesia, kami karuan beradaptasi dengan bahasa Wadah yang kemudian sekarang melekat intern diri kami. Kami pula beramah-tamah dengan anak-anak Medan dengan ragam tungkai nan pula penasaran dengan kami, teman-teman baru yang baru cak bertengger semenjak pulau yang nun jauh di sana, Irian Jaya. Saat itu juga saya baru sadar bedanya Tionghoa Medan dengan Tionghoa di Biak atau Jakarta. Kalau di Ajang mereka bicara pakai bahasa aslinya hokkien, tapi kalau di Biak, semua pakai bahasa tempatan, ya cacat lebih sebagai halnya di Jakarta alias di Jawa.

Dan ternyata, orang Medan sekali lagi senang menyingkat-nyingkat perkenalan awal seperti kami di Papua, tapi bahasa Panggung jauh lebih beragam karena terserah unsur melayu di dalamnya. Dan karena sedemikian itu beragamnya budaya di Medan, jadi sangat lumrah sikap kesukuan cukup kuat. Basyar Tamil Medan bisa pakai bahasa sendiri, orang Tionghoa Tempat juga begitu, tapi kerjakan sehari-masa semua pakai bahasa Medan yang selevel.

kamus bahasa medan

Nan senang bikin saya mengernyitkan dahi adalah kalau suka-suka orang Tempat, di Bekas, tapi beraga becakap
lu gue. Lu gue itu dipakai sekiranya kau di Jakarta, pas kau balek Medan, ya konvensional ajalah, kan kau turunan Kancah.

Mungkin ini sebabnya, ketika saya yunior masuk hari pertama di SD Persit (murid pindahan paruh tahun), detik itu seorang n partner yunior, teruna berbadan kaya berjangat putih mengajak saya berandai-andai dengan bertanya-tanya seperti, “Irian itu di mana? Kamu tinggal di sana berapa lama?” dst…. habis ada teman lain yang komplen. Katanya, “Pakek
kau-kau ajalah ngomongnya… gak usah pakaikamu.”

Eh eh
afiliasi nih, udah lamaaaa sekali, waktu saya masih di Medan, cak hendak cetak foto, jadi saya turut ke tempat cuci cetak, terus sederum ke bagian CS, karena kan memang gak ada nomor antrian. Itu ya terserah CS-nya nanti yang harusnya kasih nomor, dong. Waktu saya urut-urutan ke depan, terdengar suara berbisik tapi pas abadi berbunga dari kedudukan berderet di rapat persaudaraan pintu ikut tadi. “Dasar orang Medan.” Harapan ia itu, karena dianggapnya saya gak luang antri. Saya menoleh sepemakan adv amat balik lagi membidik CS sambil berkata kembali cukup kuat, “Hhmpph….yaelah kayak dia enggak orang Medan aja.” Gak usah tipulah, dari cakap kau aja udah tahu aku kau orang Bekas. LOL.

Lagipula apa hubungannyaorang Medan
sama gak luang antrian? Di mana-mana lagi banyak kelakuan orang gak antri. Dan aku bukannya gak ngantri ya, memang gak cak semau penerima tamu di situ.
*Jadi emosi awak kan?


Kamus Bahasa Wadah dan artinya

Oke sekarang ini dia kamus bahasa Kancah. Semoga sepan ini bagi dihapal sebelum perkembangan ke Wadah sekitarnya.

  1. Aci: dapat. “Enggak aci la woi kayak itu.”


    Gak bolehlah kayak gitu

    .
  2. Acek: sebutan lakukan kiai-bapak Tionghoa di Bekas.
  3. Alamak: seruan! Alah Mak. Ini kosa pengenalan tertambat-ikut film P. Ramlee nan memang terkenal di Kancah berkat siaran TV3
  4. Alip: permainan petak sembunyi. “Main alip yok woi..”
  5. Anak asuh mudanya: sebutan bikin warok internal film. “Weees datang momongan mudanya.”
  6. Angek: sirik, hasad
  7. Apek: panggilan untuk kakek-poyang Tionghoa. Sering juga dipakai lakukan menggambarkan gaya orang, “Gaya kau kek apek-apek kutengok.” Memang di Medan sudah biasa campur kembali dengan kamus hokkien Medan.
  8. Awak: saya/sira pula bisa. “Awak masih di rumah ini, bentar lagilah meluncur.”
  9. Balen: bagi alias minta
  10. Baling: error, kemungkus. “Udah baling perseroan itu, becakap sendiri sira kutengok.”
  11. Seruan salat: bangkang. Di Medan memang biasa menjuluki semua lelaki muda dengan sebutan seruan sembahyang. Kaprikornus tak “mas”.
  12. Bandal: bandel, nakal
  13. Bedangkik: pelit
  14. Begadang: maksudnya adalah krecek segi empat warna coklat, enggak begadang tidak tidur semalaman ya.
  15. Bedogol: bodoh, bego
  16. Terasi: terasi
  17. Bengak: goblok
  18. Pekak: babak belur
  19. Betor: angkung motor
  20. Bereng: melirik dengan radikal. “Alamak, diberengnya aku tadi.” Ini serapan dari bahasa batak.
  21. Berondok: sembunyi
  22. Berhanyut: sebutan untuk kegiatan main ban menyusuri revolusi sungai.
  23. Beselemak: belepotan. “Beselemak kali kau makan.”
  24. BK: sebutan untuk mengatakan nomor petugas keamanan, “Berapa BK motormu?”
  25. Bocor alus: agak gila (sedeng)
  26. Bolong: lobang. “Banyak bolong kronologi di sebelah sana,” maksudnya mau beberapa jalannya berlubang-lubang
  27. Bonbon: permen
  28. Bos: sebutan buat orang wreda kita (bapak/ibu). “Gimana siaran Atasan? Sehat?”


    Gimana kabar bapakmu, sehat?
  29. Cak: coba…. “Cak mainkan dulu.”
  30. Cakap: besar kecek. “Banyak boleh jadi cakapmu.”
  31. Rupawan kotor: besar mulut kotor
  32. Celat: pelat
  33. Celit: pelit
  34. Cemana: macam mana? Bagaimana?
  35. Cetek: dangkal, pendek. “Cetek ajanya airnya.”
  36. Cengkunek: kecondongan, besar kecek kosong. “Banyak kali cengkunekmu.”
  37. Cici: uni dalam bahasa Tionghoa. Kini jika kita jalan ke Fiskal Petisah pun, tiap suntuk dipanggil “Tengok-tengok dululah Ci..”Masa aku dipanggil cici? Gak ditengoknya kulitku gelap begini?
  38. Cincong: cakap. “Gak usah banyak cinconglah.”
  39. Cop: congor ketika mau memangkal melakukan sesuatu. “Coplah aku, letih.”
  40. Deking: cucu adam andalan yang membantu di pinggul. “Mana tahu dekingmu? Kok cepat kali beres urusanmu di kantor itu?”
  41. Demon: protes
  42. Dongok: bodoh
  43. Doorsmeer: basuh mobil. Nah ini mesti tahu, jadi kalau kita cak hendak menghindari ke juru cuci mobil, pasti bilangnya, “Ingin ku-doorsmeer lampau mobil.”
  44. Ecek-ecek: pura-kantung
  45. Enceng: selesai. “Udah enceng kami main.”
  46. Eskete: gak bekawan, musuhan. “Esketelah kita.” Lazimnya momongan kecil sekiranya adu jotos ngomongnya gitu.
  47. Joki: jagoan andalan. “Mana gacokmu. Ayo main kita.”
  48. Galon: pom bensin
  49. Gecor: ucapan ember, gak bisa simpan kiat
  50. Gedabak: sebutan bagi “fisik nan besar”
  51. Gelek: mariyuana
  52. Gelut: kelahi
  53. Gerot: singkatan terbit goyah otak, kata ini digunakan untuk mengatakan hamba allah nan nyana aneh tingkahnya
  54. Lanting: genit
  55. Golek-golek: tidur-tergeletak
  56. Struma: dongkol. “Gondok aku dibuatnya.”
  57. Jute botot: biram sado butut, biasa sangat depan kondominium berbarengan teriak “Booouuttt…. Botuttttt”
  58. Gosok/menggosok: menyetrika
  59. Keneker: kelereng
  60. Hajab: mampus, hancur. “Hajablah aku nanti dimarahi mamakku, ilang uangnya kubuat.”
  61. Honda: sebutan untuk sepeda gembong merek apa aja.
  62. Ikan laga: ikan cupang
  63. Kaco: bimbang, bongkar-bangkir. “Kaco kelihatannya kau. Kerjaan gak pernah kemas.”
  64. Kak: uni. Biasa dipakai cak bagi memanggil perempuan yang lebih renta sejumlah tahun di atas kita
  65. Kali: sekali, banget
  66. Kamput: merek minuman gentur Kambing Putih, jadi kalau mau bilang bani adam pun mabok, “Rame-rame kutengok orang itu lagi mereguk kamput.”
  67. Kedan: teman, sohib
  68. Kede sampah: kedai yang jual macam-macam sampai jualan sayuran
  69. Kede Aceh: warung kelontong (sebab dahulu yang biasa bertoko kelontong kebanyakan sosok Aceh)
  70. Kek: kayak, biasa disambung dengan pembukaan mana. “Kek mananya kau kerja? Mengapa gak siap-siap kerjaanmu?” Siap= radu
  71. Kekeh: ketawa.
  72. Kelen: kalian
  73. Keling: hitam. Gemar dipakai bagi menyebut tungkai India Tamil di Medan tapi juga dipakai untuk mengejek tampin yang kulitnya gelap (saya contohnya dulu diejek keling sekali lagi)
  74. Kelir: pensil corak
  75. Kepling: majikan mileu (di Sumatera gak ada pake istilah RT RW ya)
  76. Keplor: kepala lorong
  77. Kereta kilangangin kincir: roda
  78. Kereta: besikal motor
  79. Kocik: kecil.
  80. Kombur: ngobrol atau bersuara-cakap
  81. Burut: longgar
  82. Kongsi: bikin-bakal. “Beli suatu aja, sekutu kita.”
  83. Kopek: kelupas
  84. Koyak: sobek, robek
  85. Kuaci: permainan plastik kecil dengan aneka rangka yang halal dipakai buat taruhan
  86. Masjid: Benturan/tabrak.
  87. Lantak: terlampau
  88. Lasak: gak bisa diam. “Lasak kali kaulah.”
  89. Lego: over bola. “Kampiun kali bah persekutuan dagang itu ngelego bola.”
  90. Lengkong: cincau hitam
  91. Lepuk: pukul. “Kena lepuk dia sama orang di kampung sisi.”
  92. Lewong/leyong: hilang, raib. “Leyong udah uangku dibawa lari.”
  93. Ligat: lihai, lincah.
  94. Limper: lima perak, dulu dipakai untuk uang lelah ferum pecahan Rp 5
  95. Limpul: lima desimal fidah, Rp50
  96. Limrat: lima dupa, Rp500
  97. Keranjang sampah: payah, jelek, bongkar-bangkir. “Loak kali serikat itu sekarang.”
  98. Lobok: keredaan, kebesaran
  99. Longoh/longor: lompong, dungu
  100. Lorong: gang. Makanya tadi ada keplor
  101. Mak: panggilan antara ibu-ibu muda atau sesama kawan. “Cemana kabarmu, Mak?” Atau, “Mak Vaya apakabar?”
  102. Manipol: Mandailing polit. Entah bilamana istilah ini cak semau, makara bani adam yang pelit disebut manipol terlebih jika ternyata beliau basyar mandailing, padahal aturan pelit mah bisa berpokok kaki mana saja
  103. Main-main: istirahat. Protokoler dipakai bakal menamakan jam istirahat sekolah, “Keluar berlaku,”
  104. Masuk angin: udah amem. Ini kerjakan mengatakan perut semisal kemplang kondisinya telah amem dan gak akan kriuk lagi saat dimakan. “Udah masuk kilangangin kincir tu kerupuknya, gak enak lagi.”
  105. Melalak: keluar terus, jalan terus
  106. Mengkek: manja
  107. Mentel: centil
  108. Mentiko: belagu, suka cari masalah
  109. Merajuk: ngambek
  110. Mereng: miring
  111. Merepet: mengomel
  112. Petro: minyak bumi. “Patutlah lumpuh, habis pulak minyaknya.”
  113. Minyak lampu: petro lahan
  114. Minyak bersantap: minyak manis
  115. Monja/monza: sebutan lakukan kawasan di jalan Monginsidi, yang menjual baju dan barang2 jebolan impor, disebut Mongonsidi Plaza, tapi sekarang setiap penjualan rok alumnus di Medan sekitarnya disebut “monza”.
  116. Biang keladi: mobil
  117. Nampak: Terpandang, kelihatan. “Padalah, udah nampak itu gunungnya dari sini.”
  118. Nembak: seram. “Habis makan, nembak kongsi tu.” Habis makan kabur gak bayar.
  119. Ngeten: mengintip, adaptasi dulu dari bahasa Batak.
  120. Nokoh: menipu. “Nokoh aja dia kerjanya,” menyilap saja kerjanya anda.
  121. Ompa’an: untuk menyebutkan aturan orang nan gemar dibaik-baikin
  122. Orang itu: mereka. “Udah capek siapa raga bilangin Kak. Tunak gak mau dengar khalayak itu.”
  123. Oyong: kalangan, keleyengan
  124. Pajak: pasar. Pajak Petisah, Pajak Sambas
  125. Pala: bukan terlalu. “Gak pala bagus sekali lagi barangnya.”
  126. Palak: bukan kena palak, tapi ini kerjakan mengatakan rasa sebel atau kesal. “Palak kali aku dibuatnya.”
  127. Palar: demi, dibela-belain
  128. Panas: demam. “Anakku pula panas ini.”
  129. Pande: pandai
  130. Panglong: toko konstruksi
  131. Pangkas: sebutan bakal runjam rambut
  132. Parah: sebutan untuk manusia yang gak bisa diharap. “Parah kali kawan itu, gak bisa dimintai tolong.”
  133. Paret: serokan, got besar
  134. Pasar: jalan
  135. Paten: bagus, hebat
  136. Paok: bodoh
  137. Payah: terik. “Soal ujiannya payah bisa jadi.”
  138. Pengang: tuli
  139. Pencorot/corot: nomor paling kecil pantat. Legal dipakai kerjakan mengistilahkan ranking di inferior. “Pencorot dia di kelasnya.”
  140. Perli: menggoda gadis
  141. Perei, prei: libur. “Perei lewat kami hari ini.”
  142. Serong: lain waras
  143. Pinggir: kalo naik angkot mau menepi teriaknya gini: Pinggir Bang!
  144. Ponten: nilai
  145. Porlep: sebutan kerjakan ahli angkut barang di bandara
  146. Raun-raun: jalan-jalan, keliling-keliling kota
  147. Recok: berisik
  148. Rol: bilah, penggaris
  149. Roti: sebutan untuk semua spesies kue basah atau biskuit disebut roti
  150. RBT: Rakyat Banting Lemak tulang, ini sebutan buat ojek
  151. Rupanya: ternyata
  152. Sarap: gila
  153. Sedeng: gila, sinting
  154. Selop: sandal
  155. Selow: slow, lambat
  156. Belukar: bongkar-bangkir, enggak terurus. “Pangkaslah rambutmu, semak kali kutengok.”
  157. Semalam: Kemarin (mau pagi, siang tunggang, malam atau prematur hari tetap dikatakan kemarin)
  158. Sengak: ketus!
  159. Senget: sinting, tidak waras
  160. Sepeda janda: sepeda jaman dulu yang osean itu
  161. Setil: tren
  162. Setip: tipeks
  163. Sewa: digunakan oleh supir angkot atau betor andai pengganti pembukaan penumpang. “Mau cari sewa dulu hari ini.”
  164. Siap: selesai. “Aku udah siap bersantap, ni. Pergi kita yok.”
  165. Sikit: kurang
  166. Silap: keliru, salah
  167. Simpang: pertigaan alias perempatan jalan
  168. Somboy: buah tandus asinan cina yang terkenal di Ajang, rasanya asem-asem dan bercelup sirah
  169. Sor: suka
  170. Stedy: keren. “Lu orang stedy terus ya, gayanya oke.”
  171. Sudako: angkot paling legendaris di Wadah, pintunya tak samping tapi belakang
  172. Tahapahapa: entah apa-segala. Merujuk pada anak adam yang susah dipahami perbuatan atau perkataannya. “Tahapa-hapalah kawan tu elok. Gak ngerti aku.”
  173. Tarok: letakkan
  174. Teh tong: air minum halal
  175. Teh manis dingin (mandi): es teh manis
  176. Telekung: telekung
  177. Tenggen: mabok
  178. Tepos: bokong rata
  179. Tepung roti: debu terigu
  180. Terge: peduli. “Gak ditergenya aku dari tadi, lho.”
  181. Tekongan: belokan
  182. Tekong: tikung, seremonial dipakai di kalimat, “Kasihan sang A, kena tekong cewek dia setara sang B.”
  183. Toleh: lihat atau maksudnya ialah perhatikan baik-baik. Contoh jika adv amat toko akan dipanggil seperti ini, “Masuklah Kak. Tengoklah tinggal, mana tahu setuju.”
  184. Titi: jembatan
  185. Tokoh/nokoh: melebun. “Kawan itu gampang siapa ditokohi orang.”
  186. Tokok: jitak. “Mo kutokok kepalanyalah. Bikin panik orang aja ngilang gak ada permakluman.”
  187. Tonggek: bokong raksasa (kebalikan berbunga tepos)
  188. Toyor: pukul
  189. Tukam: takziah, melayat
  190. Tumbok: martil/tumbuk
  191. Tungkik: cirit telinga, demen dipakai menyapa orang yang dipanggil gak peduli. “Tungkik kurasa sira.”
  192. Kaspe: ubi
  193. Uwak: sebutan buat anak adam yang mutakadim wreda
  194. Wak Geng: ketua geng, bos remannya
  195. Wayar: kabel
  196. Woi: “Hei!”
Baca Juga :  Cara Membuat Es Agogo

Lalu cak semau istilah di asal ini yang makin populer karena dipakai oleh Alm. Sutan Bathoegana tapi sebenarnya mutakadim makara bahasa gaul sehari-hari orang Bekas.

197. Ngeri-ngeri sedap: ketar-ketir, empot-empotan menghadapi keadaan. Situasi yang seia digambarkan, misalnya kita mau atau habis ketemu seorang CEO untuk final temu ramah dan kita ceritakan sreg n antipoda kalau situasinya tadi “agak gelap-kabur sedap”, sangka ngeri tapi aman pun… kurang lebih seperti itu.

198. Turut barang tu / masok dia: idiom ketika akhirnya keluar jurus pamungkas yang ditunggu-tunggu


Tambahan Kamus Bahasa Gelanggang Percakapan

Jadi ingat lagi, bilang ahad lalu koteng sahabat lama di Medan menelepon. Namanya Rossita, temen orasi saya lewat.

Sejenis ini kita ngobrolnya:


“Mak, apa warta? Sehat kelen kan?”


“Afiat aku, Mak Ros. Kau sehat?”



“Alhamdullilah sehat.” jawabnya. “Aku lagi di kede kenalanku ni, Mak. Orang ini jualan tembusan, terus kukasihlah piagam darimu, meski dicobak orang ini kan.”



“Udah kusuruh orang ini





polo





kau, ya.” Polo = follow.




“Tapi kau kutelepon dululah, aku tahu nanti kau karuan gak mau nerge orang, kalau kau gak kenal.” (terge-red)



“Iyalah,





namanya





pun gak kenal.” jawab saya. Maksudnya, ‘iyalah, kan gak kenal’.


Lalu kami berdua ketawa.

Sedikit tambahan kembali terjemahan bahasa ajang

  • Bahasa Panggung aku sayang kamu,
    Holong rohanghu tu ho.
    Ini sebenarnya bahasa Batak, ya, tapi diadaptasi juga misal bahasa Medan
  • Bahasa kancah barang apa keterangan, sebenarnya adaptasi juga berusul bahasa Batak, “Songon dia baritana”
  • Apa arti bodat dalam bahasa Arena. Alas kata “bodat” ini berasal dari bahasa Batak,artinya beruk. Biasanya dipakai untuk mengumpat makhluk lain.

Barang apa sebenarnya maksud kata “apakan dulu”?

Inilah yang paling pelalah mengundang gelak. Jangankan individu luar Kancah, orang Palagan ajapun kadang suka ketawa sendiri jika udah sampai pada percakapan pamungkas ini.

Baca Juga :  Huruf Abjad Bahasa Jepang

“Dek, tolonglah lampau
apakan
itu biar
segala
dulu.” Maksudnya barang apa coba? Hahaha… ini maksudnya hanya dapat terkejar kalau ada peraganya. Misalnya saya cak hendak minta tolong anak saya merapikan sesuatu, maka saya akan tunjuk barangnya, lalu entah kenapa mau beberapa tangga-panjang teko capek ya, jadilah pakai “Tolonglah apakan silam biar apa.” Dan anak asuh saya terkekeh-kekeh koteng karen jijik dengan bahasa maminya.

Ya terbatas kian itulah yang saya sadar ya, jikalau ada nan ingin menambahkan yuk lho. Sebaiknya tulisan ini boleh membantu lakukan nan cak hendak berlatih bahasa Wadah.

Oh iya, kalau kalian makara jalan-jalan ke Medan, jangan lupa melipir lagi ke sekitarnya, main-mainlah ataupun kemping di Ancala Gajah Bobok, atau bisa sekali lagi mampir ke Taman Simalem Resort. Dua tempat tamasya di Persil Karo itu memang tersurat yang kelewatan indahnya, saking keterlaluan indahnya, tentu nyesal kalau gak singgah. Di sana kalian akan dapat melihat indahnya Danau Toba dari sisi tidak. Percayalah kataku, prodeo kelepasan jauh-jauh ke luar negeri, tapi jika belum pernah mengintai berbarengan danau fenoemenal di negeri sendiri ini, RUGI!


Salam,


ZD

Bahasa Medan Sehari Hari

Source: https://tehsusu.com/kamus-bahasa-medan/