Pada Masa Bercocok Tanam Manusia Purba Mengenal Cara Hidup

Pada Masa Bercocok Tanam Manusia Purba Mengenal Cara Hidup

Tulisan Khalayak Purba Mengenal Bercocok Tanam dan Beternak

Koropak.co.id, 26 January 2022 15:08:16

Juru tulis : Eris Kuswara

Catatan Manusia Purba Mengenal Bercocok Tanam dan Beternak

Koropak.co.id
– Setelah melalui kaidah spirit berburu dan meramu makanan, basyar masa lepas mulai usia bersemayam, sehingga terbentuklah zaman bertemu dengan tanam. Pada zaman ini, manusia mulai menguasai pengolahan sumber daya bendera termaktub sekali lagi sistem pengairannya dan beternak.

Di zaman ini, mereka mulai memastikan bahwa kebutuhan hidupnya dapat terjamin berpokok kewedanan selingkung tempat tinggalnya. Sehingga mereka lagi secara unik mulai menempa lahan di selingkung tempat tinggalnya.

Diketahui, kegiatan mereka dalam mengolah kapling sekali lagi berada menghasilkan sumber pangan yang menunaikan janji kebutuhan mereka akan rahim. Selain itu, pada awalnya teknik bercocok tanam yang dikembangkan manusia plong masa itu yaitu tipar.

Dilansir dari rahasia Tanggung Lokal Ensiklopedia Album dan Budaya Kepulauan Nusantara Mulanya terbitan Lentera Abadi, Jakarta menuliskan, teknik ini dilakukan dengan kaidah membabat dan menyucikan satu lokasi di alas. Kemudian selepas itu, mereka tiba menanami lahan tersebut.

“Untuk kapling nan telah tidak ki berjebah sekali lagi, maka akan mereka tinggalkan lampau kemudian membuka lahan nan yunior. Cara bercocok tanam berpindah-bermigrasi seperti inilah yang menyorongkan ladang-ladang pertanian tertinggal,” tulisnya.

Sementara itu, lega awalnya, kegiatan berkebun itu menghasilkan tanaman sebagaimana ubi, keladi, dan pisang. Cuma seiring dengan berjalannya kontrol para pendukung peradaban kapak persegi di Nusantara, secara perlahan menginjak diperkenalkanlah makrifat untuk berekspansi tanaman yang berasal mulai sejak poin-bijian.

Dikarenakan juga tanaman keladi membutuhkan pasokan air yang cukup banyak, maka orang kala itu pun mewujudkan pematang yang dilengkapi dengan saluran air. Kegiatan ini pun menjadi tanda-tanda tadinya sediakala sistem irigasi lakukan tani.

Dalam urut-urutan berikutnya, melalui penciptaan tanaman pari-padian, anak adam lega akhirnya boleh meningkatkan sistem pertaniannya. Pohon macam ini lagi bisa ditanam di tanah gersang namun dengan menaburkan bijinya.

Mulai bersumber sana, berkembanglah sistem persawahan seperti yang kita kenal ketika ini. Kemudian bagi dabat yang pertama kalinya bisa dijinakkan maka dari itu bani adam yakni anjing yang dimanfaatkan sebagai rival dalam berburu sekaligus menjadi penjaga.

Tak tetapi itu doang, pada masa itu, manusia ikut memiara babi, ayam jago, itik dan kerbau bakal dimakan. Selain itu, babi dan kerbau juga ternyata kerap digunakan umpama satwa kurban dalam upacara keagamaan pada masa itu.*

Kanebo, bermula Kulit Wedus Ardi yang Berganti Nama

Koropak.co.id, 30 August 2022 12:09:54

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jakarta
– Mungkin lain kenal kanebo? Salah satu alat yang dimiliki para pengendara bermotor itu seremonial digunakan untuk mengeringkan bodi sarana. Supaya sudah menjadi fragmen berpokok nyawa sehari-tahun, masih banyak yang belum memafhumi cerita menarik di baliknya.

Sebenarnya, kanebo lain tanda aslinya. Itu hanyalah merek. Nama sememangnya adalah lap chamios. Mirip tapal gigi nan identik dengan satu nama atau satu keunggulan tertentu yang melekat dengan produk detergen. Kanebo lagi semacam itu.

Sebutan nama lap kanebo berpangkal pecah sebuah nama lap chamois yang dijual di kodian, adalah Kanebo Plas Chamois. Itu yakni salah satu pecah sekian nama merek lap chamois yang asalnya semenjak Jepang.

Perusahaan Kanebo Ltd membuat Kanebo Plas Chamois lega 1952-an dan merek Kanebo Plas Chamois digunakan sebatas 1998-an. Setelah itu, logo Kanebo Plas Chamois diganti menjadi cap Aion Plas Chamois.

Alasan penggantian merek tersebut lantaran Aion Co., Ltd yang merupakan anak perusahaan grup Soft99, membeli Kanebo Ltd. pada 1999-an. Walaupun keunggulan dagangnya telah diganti menjadi Aion Plas Chamois sampai keunggulan kanebo sudah lalu dihilangkan privat kemasan, namun sebagian segara orang terlebih kembali di Indonesia tetap menyebutnya seumpama kanebo.

Baca:
Sebelum Rupiah, Manik-manik dan Koin Jadi Perkakas Transaksi

Alasan kok etiket kanebo begitu melekat di awam Indonesia, dikarenakan merek dagang itu sudah beredar di Indonesia selama kurang bertambah 46 tahun. Lain heran, cak agar sudah berganti etiket, publik Indonesia setakat ketika ini masih menyebutnya dengan lap Kanebo.

Di Indonesia, hingga saat ini telah banyak merek lap chamois nan beredar, seperti mana 3M, Kenmaster, Turtle Wax, Proclean, hingga ACE. Biarpun berbagai mereka itu memproduksi lap chamios, kembali-lagi publik Indonesia taat hanya menyebutnya dengan lap kanebo.

Dan ternyata, lap chamois berasal berasal logo seekor hewan? Chamois atau dalam bahasa latin disebut dengan Rupicapra Rupicapra, ialah jenama bersumber binatang kambing gurun yang hidup di wilayah Eropa.

Kulit berusul kambing itulah nan kemudian dibuat menjadi lap dan dikenal mampu menyerap air dengan baik. Selain dibuat menjadi lap, indra peraba kambing itu juga lazimnya dibuat pun menjadi jaket, sepatu, hingga tas.

Seiring perkembangan zaman dan teknologi yang semakin mumpuni, saat ini sudah lalu hadir lap chamois yang menunggangi bahan sintetis nan terbuat dari Polyvinyl Alchohol (PVA) sebagai halnya nan banyak beredar saat ini.

Silakan tonton berbagai video menyentak di sini:

Stasiun Manggarai, Martir Bisu Pemindahan Ibu Kota

Koropak.co.id, 27 August 2022 07:19:43

Eris Kuswara

Koropak.co.id
– Lakukan warga Jabodetabek yang sehari-harinya menggunakan kendaraan transportasi commuter line, pasti mutakadim enggak luar dengan Stasiun Kereta Api Manggarai, Jakarta Selatan. Stasiun tersebut ialah salah satu stasiun transit lakukan penumpang commuter line jurusan Jakarta, Bogor, dan Bekasi. Rencananya akan dijadikan bagaikan stasiun pokok yang meladeni kereta api jarak jauh.

Sejak lewat, Stasiun Manggarai telah menjadi jalur transportasi kereta jago merah yang cukup sibuk di Ibu Kota dan memiliki nilai sejarah tinggi. Provinsi Manggarai itu sudah ada sejak abad ke-17 dan awalnya merupakan bekas tinggal dan pasar budak radiks Manggarai, Flores, yang kemudian berkembang menjadi sebuah perdusunan.

Kereta api yang melintasi di kewedanan ini pada awalnya dibangun oleh perusahaan swasta Nedherlandsch Indische Spoorweg Maatschappij dengan kolek lintas Jakarta-Buitenzorg (masa ini Bogor). Stasiun Bukitduri (sekarang Depo KRL) pun dibangung sebagai tempat pemberhentian kereta tersebut.

Pada 1913-an, perusahaan sepur Staatssporwegen berhasil membereskan jaringan perkeretaapian di Jakarta, tepat setelah firma itu membeli jalur Jakarta-Bekasi hoki Bataviaasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOS) plong 1899 dan Jakarta-Bogor hoki NISM pada 1913.

Selepas itu, Staatssporwegen melakukan penataan ulang jalur kereta apinya di Jakarta, riuk satunya dengan melakukan pembongkaran Stasiun Boekitdoeri lulusan-NISM dan membangun Stasiun Manggarai plong 1914. Arsiteknya turunan Belanda, Ir. J. Van Gendt, dan pembangunannya selesai pada 1 Mei 1918.

Baca:
Menelusuri Jalur Kereta Api Pertama di Indonesia

Kerjakan jalur Batavia-Buitenzorg sebelumnya dibangun oleh Nederlands Indische Spoorweg Maatschaapij (NIS) pada 1873. Saat peresmiannya, bangunan Stasiun Manggarai ternyata belum selesai secara keseluruhan.

Rasi itu, bangunan stasiunnya tidak n kepunyaan sengkuap besi dikarenakan target bakunya tidak bisa didatangkan, akibat adanya perang dunia petama. Akhirnya, bangunan Stasiun Manggarai untuk sementara menggunakan atap kusen.

Sewaktu dengan hari dies natalis ke-50 Staatssporwegen, perusahaan nan membereskan jalur kereta api di Batavia itu mulai mengoperasikan kereta elektrik lakukan permulaan kalinya dengan lintas Jakarta-Tanjung Priuk. Staatssporwegen juga masuk menyinambungkan proyek elektrifikasi menyentuh Stasiun Manggarai yang rampung pada 1 Mei 1927.

Dalam perjalanannya, Stasiun Manggarai ini punya ponten historis nan tinggi hingga disebut seumpama stasiun awal berpangkal keberangkatan pemindahan ibu kota temporer ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946. Lebih lagi, segala apa persiapan ki akal untuk perjalanan Presiden dan Wakil Presiden kala itu juga dilaksanakan di Stasiun Manggarai.

Sang Panglima Osean Jenderal Soedirman pula termaktub relasi singgah di Stasiun Manggarai n domestik rajah menghadiri pembicaraan gencatan senjata nan dilaksanakan di Jakarta. Kedatangan Jenderal Soedirman dan kontingen di Stasiun Manggarai sreg 1 November 1946 itu disambut sorak sorai rakyat Indonesia.

Ayo tonton berbagai video menganjur di sini:

Kesultanan Mataram Serang Batavia, Kenapa Gagal?

Koropak.co.id, 26 August 2022 12:24:47

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jakarta
– Tanggal 27 Agustus 1628 menjadi peristiwa bersejarah buat Indonesia. Waktu itu terjadi penyerangan yang dilakukan tentara pertama Kesultanan Mataram nan dipimpin Bupati Kendal, Tumenggung Bahureksa, untuk mengaibkan markas tentara Belanda di Benteng Holandia, teluk Batavia.

Serangan yang dilakukan Kesultanan Mataram ke Batavia, pusat VOC di Kepulauan Nusantara, itu terjadi pada 1628 dan 1629-an dengan harapan cak bagi melasikan VOC dari Pulau Jawa. Diceritakan, pada pengujung 1619-an, Yamtuan Agung merasa cemas setelah mendapatkan kabar bahwa VOC berdampak merebut Jayakarta bermula Kesultanan Banten.

Jayakarta itu kemudian diubah namanya menjadi Batavia, salah suatu area yang belum mampu ditaklukkan Kesultanan Mataram. Di sisi tidak, fakta VOC yang terkenal memperbudak pribumi juga ikut mengganggu pikiran Sri paduka Agung.

Doang, sebelum Jayakarta berbuntut ditaklukkan, sebelumnya VOC yang bermarkas di Gugusan pulau Banda, Ambon dan Kepulauan Maluku, mengirimkan utusannya untuk meminta izin kepada Sunan Agung fungsi membuka loji-loji dagang di pantai lor Mataram.

Tawaran tersebut ditolak Prabu Agung dengan alasan ia meyakini jikalau VOC diberikan izin, maka perekonomian di pantai utara akan dikuasai VOC. Lantas, pada 1619, VOC berdampak menjinakkan Jayakarta dan memindahkan jawatan pusatnya ke wilayah di pesisir Pulau Jawa tersebut.

Di masa-tahun tersebut Kesultanan Mataram sedang berkonflik dengan Kesultanan Surabaya dan Kesultanan Banten. Menyadari arti VOC nan serupa itu samudra, Sultan Agung tahu nanang untuk memanfaatkan VOC, sehingga pada 1621-an Mataram mulai menjalin sangkut-paut dengan VOC.

Baca Juga :  Iqro 1 6 Dengan Suara

Kedua belah pihak juga saling utus aryaduta. Akan tetapi VOC ternyata menolak bagi kontributif Kesultanan Mataram detik  mencela Surabaya. Akibatnya, hubungan diplomatik antara kedua belah pihak pula teriris.

Setelah Surabaya berdampak jatuh ke tangan Mataram, sasaran Sultan Agung lebih jauh yakni Kesultanan Banten yang berada di ujung barat Pulau Jawa. Namun, untuk menaklukkannya, Sunan Agung harus malah dahulu mengatasi posisi Batavia nan menjadi “kubu” Kesultanan Banten.

Pada April 1628, Sultan Agung sempat mengirim Bupati Kebun, Kyai Rangga, ke Batavia laksana utusan bagi menyampaikan tawaran rukun dengan syarat-syarat tertentu. Upaya tak membuahkan hasil. Pihak VOC menolak tawaran berbaik, sehingga Syah Agung memutuskan menyatakan perang dengan.

Baca:
Kiprah VOC sejak Berangkat di Nusantara, Bangkrut dan Jadi Hindia Belanda

Joko Darmawan internal “Buku Sejarah Nasional Saat Nusantara Berbicara” menuliskan, pada 1628-an, Kesultanan Mataram mengerjakan persiapan bakal mengamati Batavia. Pada 22 Agustus 1628, Tumenggung Bahureksa dari Kendal diberi titah maka dari itu Sri paduka Agung buat mendahului penyerbuan ke Benteng Belanda dengan mendaratkan 59 perahu berisi 900 prajurit ke teluk Batavia.

Di n domestik kapal tersebut, armada Bahureksa juga membawa 150 ekor sapi, 5.900 karung sukrosa, 26.600 buah kelapa, dan 12.000 karung beras untuk didagangkan di Batavia. Karuan hanya alasan sebenarnya yakni sebagai perbekalan untuk menyerang benteng Batavia.

Akan tetapi pihak Belanda merasa curiga. Di hari berikutnya, mereka menyetujui sapi tersebut diturunkan dengan syarat kapal Mataram hanya menepi satu demi satu. Di sisi lain, 100 prajurit bersenjata dari garnisun Kasteel (benteng) juga keluar untuk arik-jaga.

Di tahun ketiga, tujuh kembali kapal Mataram muncul dengan alasan kepingin mempersunting surat perkembangan bermula pihak Belanda agar dapat berlayar ke Melaka nan momen itu berada di pangkal otoritas VOC. Belanda pun memperdekat penjagaan di dua baluwarti mungil utara dan juga menyiapkan artilerinya.

Kemudian di senja hari itu, dua puluhan kapal Mataram menurunkan pasukannya di depan Kasteel dan membentuk Belanda terperanjat. Sejumlah kapal Mataram lainnya juga  mendaratkan prajuritnya. Pasukan Mataram itu pun kemudian dihujani tembakan dari Kasteel.

Lega 27 Agustus 1628, Pasukan Mataram menyerang kubu katai “Hollandia” di sisi tenggara kota. Satu kompi barisan Belanda berkapasitas 120 prajurit di radiks arahan Letnan Jacob van der Plaetten berdampak menghalang mereka, setelah pertempuran yang dahsyat.

Selain itu, sejumlah kapal Belanda juga datang dari Banten dan Pulau Onrust serta mendaratkan 200 prajurit. Hingga Kasteel tersebut akhirnya dipertahankan oleh 530 prajurit. Pada Oktober, legiun Kesultanan Mataram dengan dipimpin Pangeran Mandurareja (cucu Borek Pandai Martani) mulai dengan mengirimkan 10.000 tamtama.

Perang besar pula terjadi di Benteng Holandia. Dikarenakan kurangnya perbekalan, Pasukan Mataram mengalami fasad. Menanggapi kekalahan yang dialami Kesultanan Mataram, Sinuhun Agung pun bertindak tegas.

Puas Desember 1628, Sultan Agung mengirim algojo untuk menghukum mati Tumenggung Bahureksa dan Aji Mandurareja. Saat itu, pihak VOC menemukan 744 mayat cucu adam Jawa berserakan dan sebagian sonder kepala.

Silakan tonton berbagai video menghela di sini:

Di Sana Ada Benteng Terluas di Dunia, di Baubau

Koropak.co.id, 24 August 2022 15:07:38

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Sultra
– Baubau yaitu kota di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, yang diapit Laut Banda dan Laut Flores. Letaknya terbilang strategis, karena menjadi daerah penghubung antara kawasan barat dan timur Indonesia.

Baubau juga terdapat di Kawasan Wallacea dan pusat segitiga karang dunia maupun coral triangle. Dengan posisi geografis nan strategis, kota itu memiliki peranan terdahulu dalam alur pelayaran kewarganegaraan dan sebagai pusat aktivitas di sektor penggalasan.

Di sana juga terserah Desa Tamasya Limbo Wolio, tempatnya subur Benteng Keraton Kesultanan Buton atau dikenal juga dengan sebutan Benteng Wolio. Plong 2006, pertahanan yang n kepunyaan luas sekitar 23,3 hektar itu mendapatkan pujian dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guiness Book of World Record bagaikan benteng terluas di dunia.

Tak hanya terkenal luas dan megah, Pertahanan Wolio turut menggudangkan sejarah jenjang di perot kemegahannya. Benteng tersebut dibangun Raja Buton III, La Sangaji bergelar Kaimuddin plong abad ke-16.

Awalnya, benteng itu doang berupa tumpukan batu karst yang disusun mengelilingi kompleks istana. Benteng Wolio memiliki 12 gerbang pintu yang disebut dengan “Lawa”, dan 16 emplasemen meriam yang dikenal dengan “Badili”. Juga n kepunyaan 4 boka-boka maupun bastion berbentuk bulat, batu tondo atau tembok keliling, parit, dan persenjataan lainnya.

Meskipun lokasinya berada di puncak bukit dan lereng nan terjal, doang Benteng Wolio masih bersikukuh dengan baik sampai waktu ini. Benteng itu juga terhindar dari ancaman pasangan n domestik kurun waktu lebih dari empat abad lamanya.

Baca:
Istana Maimun, Jejak Kejayaan Medan dan Legenda di Hari Lalu

Memasuki hari pemerintahan Raja Buton IV, La Elangi ataupun Dayanu Ikhsanuddin, baluwarti nan awalnya tetapi berupa lambak batu itu pun dibuat menjadi sebuah konstruksi permanen yang direkatkan dengan senyawa putih telur, pasir, dan kapur.

Di kawasan Benteng Wolio ini wisatawan boleh melakukan ziarah nan dikenal dengan sebutan “Santiago” dan memberikan penghormatan kepada Sultan Murhum atas jasa-jasa selama perian hidupnya.

Tidak sekadar benteng terluas dan termegah di dunia, Desa Wisata Limbo Walio juga masih menyimpan potensi wisata lainnya, yakni Bandarsah Agung Kesultanan Buton.  Masjid yang didirikan pada pemerintahan Sultan Buton VI, Lakilaponto atau yang dikenal dengan nama Sinuhun Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis, itu sarat makna.

Misalnya suka-suka 17 anak tangga yang menandakan jumlah rakaat salat. Kemudian bedug sepanjang 99 centimeter yang merepresentasi asmaul husna, serta 33 pasak nan sesuai dengan jumlah tasbih.

Tak semata-mata dari segi pariwisata, Desa Wisata Limbo Wolio pun terkenal dengan budaya pekande-kandea atau yang dikenal dengan budaya makan-makan. Dalam pelaksanaan adat istiadat itu, biasanya koteng pemudi akan menyuapi pelawat yang hadir sambil menggunakan baju sifat Buton, lengkap dengan riasan. Uniknya lagi, tradisi Pekande-kandea itu juga dilaksanakan untuk penjagaan budaya sekaligus kancah mencari jodoh.

Marilah tonton berbagai video menghirup di sini:

Bajigur, Minuman Herbal Favorit para Pekebun Jawa Barat

Koropak.co.id, 23 August 2022 15:10:32

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jawa Barat
– Setiap kuliner tradisional yang tersebar di bervariasi negeri Indonesia kebanyakan mengandung sejarahnya per, termuat bajigur. Diketahui, minuman tradisional dari Jawa Barat ini dulunya menjadi minuman  primadona para petani, sekadar sekarang mutakadim berkembang menjadi menu kafe kekinian.

Biasanya, minuman khas masyarakat Sunda itu disajikan suam serta memiliki citarasa nan manis dan legit. Di era 1990-an, penjual bajigur bisa ditemui di jalan. Mereka biasanya akan berteriak “bajigur…bajigur…bajigur…” sebagai penanda terserah tukang bajigur. Mereka berdagang keliling dengan menggunakan cikar dorong.

Bajigur identik dengan aneka makanan pembantu serba rebusan sama dengan pisang, ubi kayu, singkong hingga talas. Seandainya menengok sejarah kian jauh lagi, awalnya bajigur ini bukanlah minuman yang baku diperjualbelikan.

Dulu bajigur menjadi minuman favorit para petani di Jawa Barat. Bajigur dibuat dengan sasaran utamanya gula enau dan santan. Bakal menambah kenikmatan, bajigur masuk dicampurkan pula rendah jahe dan garam.

Daun pandan wangi juga biasanya sering ditambahkan bakal menambah aroma berpunca bajigur. Akan sekadar, waktu ini para penjual makin caruk menggunakan abu vanili artifisial seumpama penambah aromanya. Tembusan tubruk atau kopi nan ditumbuk subtil juga terkadang menjadi bahan komplemen.

Baca:
Hikayat Sekoteng, Berawal bersumber Cina dan Naik daun di Jawa

Konon, minuman tersebut dibuat secara bukan sengaja oleh para petani. Rasi itu para orang tani awalnya terbiasa menikmati air rebusan gula enau di pagi hari sebelum pergi ke sawah. Setrup suam itu mempunyai efek mampu menenangkan, sekaligus memacu energi bagi para orang tani.

Lambat laun, air sakarosa aren itu lagi mengalami kronologi karena diberi berbagai adendum alamat lainnya. Para pembajak mulai menambahkan jahe dan santan sreg minuman hangat tersebut hingga pad akhirnya langsung menjadi favorit di landasan mereka, terlebih sekali lagi sreg masa itu kawasan Jawa Barat terkenal dengan udaranya yang masih terasa sangat dingin.

Dengan minum segelas bajigur hangat boleh memicu umur. Lain hanya sedap dan lemak, jahe nan terserah sreg bajigur juga diketahui dapat membantu mencegah masuk kilangangin kincir dan mengobati nafkah kembung.

Efek hangat bisa dirasakan bodi setelah menikmati bajigur. Minuman tersebut dirasa efektif memberikan energi ekstra pada tubuh, mendukung mengamankan masalah pencernaan, menjaga sistem imun, memperkuat tulang, dan tidak sebagainya.

Seiring kronologi zaman, jika dahulu minuman herbal ini dijual menggunakan gerobak sederhana, namun kini bajigur berubah bentuk menjadi minuman mengesankan. Pasalnya, saat ini banyak kafe dan kedai kopi mewah yang menghadirkan menu bajigur andai minuman andalan.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Pesan Soekarno privat Pidato Pertama di Radio

Koropak.co.id, 22 August 2022 15:09:40

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jakarta
– Sehabis memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno, untuk pertama kalinya menyampaikan pidato melalui Radio Republik Indonesia (RRI) hingga disiarkan berbagai daerah di Indonesia.

Internal pidato yang disiarkan pada 23 Agustus 1945 itu, Soekarno menyampaikan banyak keadaan, di antaranya mengenai persatuan dan perdamaian. Anda juga mewasiatkan kepada rakyat Indonesia bagi setia tenang, dan memegang teguh kedisiplinan serta siap berjuang demi kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga :  Cara Ngecas Hp Tanpa Listrik

Anda juga membentangkan tentang diperlukannya pembentukan beberapa gawai atau institusi sebagai kontributor pemerintahan Indonesia sebagai negara yang merdeka. Di antaranya membentuk Komite Kebangsaan yang berpusat di Jakarta dan masuk didirikan di berbagai daerah. Selain itu didirikan suatu badan bikin memair keamanan nasional, yakni Badan Keamanan Rakyat (BKR).

BKR yang menjadi cikal-bakal militer RI dalam prosesnya sempat berganti-ganti nama, menginjak dari Pasukan Keselamatan Rakyat (TKR), Tentara Republik Indonesia (TRI), Laskar Nasional Indonesia (TNI), Legiun Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS), Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI), Barisan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), sampai juga pula menjadi TNI.

Baca:
Detik-Detik Saat Skenario Mualamat Diketik

Di sebelah lain, sungguhpun Indonesia mutakadim menyatakan proklamasi kemerdekaan, namun secara de facto detik itu Pemerintahan Jepang masih menduduki Nusantara sebelum kedatangan Sekutu yang ternyata diboncengi Belanda.

Soekarno kala itu dikenal umpama pengambil inisiatif yang mendekati menirukan aturan main yang diatur oleh kesepakatan antarbangsa, keadaan tersebut dilakukannya demi terciptanya kondisi yang nisbi terlatih. Kendati demikian, menerobos pidato yang disampaikannya itu, Soekarno berkali-kali menekankan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tetap sepi namun waspada serta selalu bersatu n domestik menyinambungkan tangkisan.

Intern pidatonya juga, Soekarno menghendaki sebaiknya bangsa Indonesia lakukan turut serta dalam menjaga perdamaian bumi. Sebab, Indonesia yang baru merdeka sudah menjadi putaran dari lingkungan internasional dan membutuhkan dukungan berpangkal negara-negara lain.

Ia menggarisbawahi, tujuan utama balasan tidak akan berubah, dan semata-ain demi keistimewaan rakyat Indonesia. Presiden pun mewanti-wanti seluruh zarah masyarakat hendaknya jangan mudah terpancing maklumat bohong  yang berseliweran dalam ketidakpastian saat itu. Rakyat diimbau untuk mengajuk Pemerintah agar tidak terjebak dalam situasi yang berpotensi memecah-belah.

Silakan tonton berbagai video menyedot di sini:

Nestapa Sengkon dan Karta n domestik Sejarah Peradilan Indonesia

Koropak.co.id, 22 August 2022 07:11:18

Fauziah Djayasastra

Koropak.co.id
– Sengkon dan Karta merupakan dua insan yang mungkin tidak terkenal di telinga manusia awam, tapi santer di kalangan para pengamat momen membicarakan penegakan hukum Indonesia. Belakangan, keunggulan keduanya gegap-gempita ditelusuri usai puisi Alat penglihatan Luka Sengkon Karta nan dibacakan Haur Sandi viral di media sosial.

Kisahnya pecah pada 1974, perampokan dan genosida menimpa sepasang suami-istri bernama Sulaiman dan Siti Haya. Mereka adalah tuan warung di Desa Bojongsari, Bekasi. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Siti Haya menggumamkan stempel Sengkon.

Polisi kemudian menciduk Sengkon dan Karta, yang merupakan pekebun miskin di daerah tersebut. Keduanya dituduh merompak dan gorok Sulaiman-Siti Haya. Sengkon dikenal sebagai petani yang cukup “preman” dan lewat akrab dengan Karta.

Lain merasa bersalah, semula Sengkon dan Karta enggan menandatangani berita acara pengawasan. Sekadar, lantaran tidak tahan memufakati siksaan berpokok penjaga keamanan, keduanya memilih menyerah dan menanggung bersalah.

Hakim Djurnetty Soetrisno kian mempercayai polisi ketimbang bantahan para terdakwa. Syahdan, pada Oktober 1977, Sengkon divonis hukuman 12 waktu rumah pasung dan Karta dijatuhi tetapan 7 waktu, yang juga dikukuhkan Pengadilan Tinggi Jawa Barat.

Siksaan nan dialami Sengkon dan Karta bukan hanya berupa kesengsaraan dari polisi. Sengkon menderita penyakit TBC di dalam jeruji Cipinang. Bertahun-tahun di penjara, mereka kemudian bertemu Genul, keponakan Sengkon nan bertambah dulu dibui atas kasus pencurian.

Pada saat itulah Genul mengungkap kunci jika dirinya yang telah merampas dan menzabah Sulaiman dan juga Siti Haya. Hingga pada Oktober 1980, Genul dijatuhi hukuman 12 hari.

Baca:
Bersikap dengan Sajak ala Widji Thukul

Namun, tetapan itu enggak serta-merta membuat Sengkon dan Karta independen. Sebab sebelumnya mereka tak mengajukan banding, sehingga vonis nan dinyatakan sebelumnya mutakadim berkekuatan hukum tetap.

Albert Hasibuan, seorang pengacara, tergoyahkan hatinya untuk mengupayakan pembebasan Sengkon dan Karta. Baru pada Januari 1981, Oemar Seno Adji, Ketua Mahkamah Agung (MA) saat itu, mewajibkan hendaknya Sengkon dan Karta dibebaskan terlampau kolek peninjauan lagi (PK).

Kasus inilah yang kemudian babaran bentuk Peninjauan Juga (PK) terhadap putusan pidana yang dinilai berenergi tetap (berziening). Sebelumnya, PK tidak ada dalam sistem hukum Indonesia.

Nasib baik dalam syariat Indonesia itu berbanding terbalik dengan Sengkon dan Karta, walau mutakadim keluar dari penjara. Karta harus menerima siaran jika keluarganya kocar-kacir entah ke mana, dan kondominium berikut lahan seluas 6.000 meter persegi di Desa Cakung Payangan, Bekasi, ludes lakukan membiayai perkara mereka.

Tidak jauh lebih baik berpangkal Karta, Sengkon dirawat di rumah gempa bumi akibat penyakit tuberculosis yang kian parah. Tanah yang diandalkan cak bagi mengeluh hidup keluarga sekali lagi ludes dijual untuk membelanjai perkara. Kerjakan juga menjadi petambak, Sengkon jelas tak boleh lantaran ki kesulitan yang dideritanya.

Melampaui pengacaranya, Sengkon dan Karta mengajukan dakwaan kepada Pengadilan Kawasan Bekasi dengan tuntutan ganti rugi sebesar Rp100 juta, cuma ditolak. Semacam itu juga di Majelis hukum Tinggi. Kasasi di MA pula terbelakang. Keterlambatan itu disebabkan keterlambatan anak Karta mengurus surat keterangan miskin kerjakan meminta pembebasan biaya perkara.

Tidak memperoleh keadilan di bumi dan hidup penuh nestapa, akhirnya tangan Allah terulur menyentuh mereka. Karta meninggal akibat kemalangan, tentatif Sengkon mengatupkan akibat TBC yang dideritanya.

Silakan tonton majemuk video menarik di sini:

Sebelum Ringgit, Merjan dan Koin Jadi Alat Transaksi

Koropak.co.id, 21 August 2022 12:37:43

Fauziah Djayasastra

Koropak.co.id
– Tepat pada Waktu Ulang Tahun ke-77 Republik Indonesia, Pemerintah mengeluarkan uang baru emisi 2022 yang warnanya diketahui mirip rial Malaysia. Bagaimana perjalanan ringgit sebagai ringgit di Indonesia?

Sebelumnya, manik-manik pernah digunakan sebagai perlengkapan transaksi di Indonesia puas musim itu. Manik-manik itu diproduksi Kekaisaran Sriwijaya di Sumatra, lalu menyebar ke Pulau Jawa, Kalimantan, sampai Indonesia bagian timur.

Di akhir abad ke-13, Kerajaan Majapahit menerima koin tembaga berasal pedagang Cina dan menjadi alat tukar di masa itu. Dulu detik Eropa datang ke Indonesia, mereka membawa dolar argentum mulai sejak Bolivia, Peru, dan Meksiko serta koin emas berusul Portugal dan Venesia.

Sejak saat itu, koin menjadi alat tukar utama kerumahtanggaan penggalasan bertahun-tahun lamanya. Di tahun 1752, atas pembentukan De Bank Courant dan Bank van Leening, lahirlah uang jeluang pertama. Begitu VOC bangkrut rontok 31 Desember 1799, Republik Batavia merilis uang seorang berupa gulden perak pada tahun 1802.

Baca:
Asal Usul Sebutan Persen dan Duit di Indonesia

Perian 1942-1945, semasa penguasaan Jepang di Hindia Belanda, mereka mengapalkan netra uang jasa sendiri dan melikudasi bank-bank. Kemudian terbit uang kertas nan dikeluarkan De Japansche Regeering, sehingga menjadi alat penyerahan nan sah, mulai Maret 1942.

Dahulu, pada 1944, Jepang mengeluarkan uang jasa cetak n domestik bahasa Indonesia. Stok gemblengan ini tetap dipakai maka dari itu Indonesia hingga hari 1946, setelahnya pemerintah mencetak uang lelah secara mandiri.

Tepat puas terlepas 3 Oktober 1946, peso Indonesia pertama kali dikeluarkan dan uang lelah Jepang yang beredar harus segera diserahkan kepada bank. Ketika itu satu rupiah nilainya setara dengan harga 0,5 gram emas.

Kemudian pada 5 Oktober 1946, pemerintah Indonesia menyatakan bahwa bank sentral Indonesia adalah Bank Negara Indonesia nan menempati kantor De Javasche Bank di Yogyakarta. Setelahnya, rupiah melalui perjalanan tataran, baik inflasi alias emisi.

Silakan tonton berbagai video meruntun di sini:

Tanding Makan Kerupuk, Mengenang Hari Jarang Zaman Penjajahan

Koropak.co.id, 20 August 2022 07:07:38

Fauziah Djayasastra

Koropak.co.id
– Peringatan Hut Kemerdekaan Indonesia umumnya dimeriahkan maka itu beragam lomba yang diikuti peserta lintas umur. Salah satunya adalah lomba bersantap kerupuk. Sejumlah kemplang digantung menggunakan tali sesuai jumlah dan pangkat raga peserta.

Para peserta berlomba menghabiskan kerupuk tanpa boleh memegangnya. Kelihatannya yang duluan dulu, dialah pemenangnya. Jika dilihat terbit sejarahnya, perlombaan ini berangkat muncul sejumlah tahun sehabis kemerdekaan Indonesia. Keseruan kejuaraan ini berbanding menjengkelit dengan kesengsaraan yang melatarbelakanginya.

Kerupuk merupakan makanan pelengkap di Indonesia nan muncul sejak 1930 sebatas 1940-an. Ketika itu, Indonesia mengalami keruncingan yang menyebabkan kebutuhan pangan melonjak, sehingga masyarakat menengah ke bawah tidak dapat mencukupi kebutuhan harian. Kerupuk pun bintang sartan penyambung kehidupan sebab harganya terulur.

Baca:
Raung Rekaman Kerupuk Ramal, Suka-suka Sejak 1920-an

Ahli sejarah Fadly Rahman mengistilahkan, privat rentang periode 1945-1950 merupakan masa agresi militer dan rakyat masih sibuk memperjuangkan independensi Indonesia, sehingga enggak sempat memestakan Mina.

Di musim 1950, ketika kondisi mulai kontributif, perlombaan untuk memeriahkan Mina RI berangkat bermunculan, termasuk tanding makan kemplang. Bilamana itu, lomba makan gendar menjadi hiburan rakyat sekaligus pengingat masa-periode runyam.

Cara bersikukuh hidup itulah yang menjadi makna dan teristiadat diingat oleh publik. Di sisi lain, makna yang terkandung kerumahtanggaan permainan ini yakni tantangan menghabiskan kerupuk nan merepresentasikan perjuangan para pahlawan. Saat itu para pahlawan menghadapi banyak tantangan hingga nyawa menjadi taruhannya.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

18 Agustus 1945, Satu Hari Bersejarah bagi Bangsa Indonesia

Koropak.co.id, 18 August 2022 12:17:06

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jakarta
– Kemeriahan perayaan kemandirian Republik Indonesia masih berlangsung hingga sekarang. Sebelum dan sesudah 17 Agustus masih ada warga yang memeringatinya dengan menggelar berbagai perlombaan. Masyarakat gegap gempita merayakannya, lebih lagi selama dua tahun ke bokong kegiatan sama dengan itu dilarang digelar lantaran epidemi Covid-19.

Baca Juga :  Cara Membuat Tas Dari Resleting

Sebenarnya bukan hanya copot 17 Agustus nan patut dirayakan, tapi sehari setelahnya kembali sama. Tanggal 18 Agustus 1945 menjadi peristiwa bersejarah bikin bangsa Indonesia, karena di musim itu UUD 1945 resmi disahkan dalam sidang Panitia Anju Otonomi Indonesia (PPKI).

Lukman Surya Saputra kerumahtanggaan bukunya “Pendidikan Kewarganegaraan: Menumbuhkan Nasionalisme dan Patriotisme” menggambar, sebelum disahkan, bentuk Undang Undang Bawah 1945 dibahas privat sidang kedua Tubuh Peneliti Usaha-Usaha Awalan Otonomi Indonesia (BPUPKI) sreg 10 Juli sampai 17 Juli 1945.

UUD 1945 dirancang berawal bermula Jepang yang mengingkari janjinya bikin memasrahkan kebebasan kepada bangsa Indonesia. Setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada maskapai, UUD 1945 segera disusun bikin melengkapi Indonesia sebagai negara berdaulat.

Baca:
Penetapan EYD dan Sejarah Hierarki Bahasa Indonesia

Sri Soemantri dalam bukunya “Hukum Penyelenggaraan Negara Pemikiran dan Pandangan” menyatakan, UUD 1945 yakni ordinansi yang di antaranya mengatur bentuk dan otonomi negara Indonesia, Majelis Permusyawaratan Rakyat, pengaruh pemerintah, kekuasaan kehakiman, wilayah negara, penghuni negara dan penduduk, properti asasi manusia, pertahanan dan keamanan negara, bahasa, lambang negara dan lain-tidak.

Meskipun pada 27 Desember 1949 konstitusi Republik Indonesia Serikat berlaku di Indonesia, terukur sejak 17 Agustus 1950, Indonesia memberlakukan Undang-Undang Asal Sementara atau UUDS 1950.

Sejumlah hari kemudian, melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Indonesia kembali memberlakukan UUD 1945, bersamaan dengan dikukuhkan UUD tersebut secara aklamasi maka itu DPR pada 22 Juli 1959.

N domestik kurun waktu 1999 s.d. 2002, UUD 1945 mengalami empat kelihatannya perubahan alias amandemen yang juga turut mengubah ikatan lembaga-lembaga dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia.

Mari tonton berbagai video menarik di sini:

Penetapan EYD dan Sejarah Panjang Bahasa Indonesia

Koropak.co.id, 17 August 2022 15:17:04

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jakarta
– Bahasa Indonesia lain terlepas dari urut-urutan ejaannya. Sejumlah ratus masa dahulu belum disebut bahasa Indonesia sama dengan detik ini, melainkan bahasa Jawi. Pada tahun imperium Sriwijaya suka-suka beberapa prasasti yang bertuliskan bahasa Melayu Kuno dengan memakai leter Pallawa (India) yang banyak dipengaruhi bahasa Sanskerta, seperti halnya bahasa Jawa Kuno dan bahasa juga saat itu belum menunggangi huruf Latin.

Bahasa Melayu Kuno kemudian berkembang di berbagai tempat di Indonesia, terutama puas masa Hindu dan masa awal kedatangan Islam atau abad ke-13. Saat itu, pedagang-pedagang Melayu nan berkekeliling di Indonesia memakai bahasa Melayu sebagai lingua franca, yaitu bahasa komunikasi n domestik ekspor impor, pengajaran agama, serta hubungan antarnegara dalam rataan ekonomi dan politik.

Lingua franca secara bukan serempak merata setakat berkembang di kota-ii kabupaten persinggahan yang menjadi pokok celam-celum perniagaan. Kala itu, banyak juga pedagang asing nan berusaha kerjakan menguasai bahasa Melayu lakukan khasiat mereka.

Bahasa Jawi mengalami penulisannya dengan huruf Arab yang pun berkembang menjadi abjad Arab-Jawi. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya karya sastra dan buku agama yang ditulis dengan huruf Arab-Melayu pada tahun itu.

Huruf ini jugalah yang puas akhirnya dijadikan sebagai ejaan resmi bahasa Melayu sebelum start digunakannya huruf Latin atau leter Romawi lakukan penulisan bahasa Melayu, meskipun masih secara sangat terbatas.

Ejaan latin untuk bahasa Melayu itu menginjak ditulis oleh Pigafetta, nan kemudian dilanjutkan oleh de Houtman, Casper Wiltens, Sebastianus Dancaert, dan Joannes Roman. Setelah tiga abad kemudian ejaan ini baru berkat perhatian dengan ditetapkannya Ejaan Van Ophuijsen pada 1901 nan yaitu ejaan Lama “warisan” Belanda.

Kehausan untuk menyempurnakan ejaan Van Ophuijsen itu terdengar dalam Kongres Bahasa Indonesia I di Solo plong 1938-an yang sembilan tahun kemudian terkabul dalam sebuah Vonis Menteri Pengadjaran Pendidikan dan Kebudajaan, tentang perubahan ejaan baru lega 15 April 1947.

Baca:
Kakek Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu Dipakai di Asia Tenggara

Nama ejaan tersebut diambil berpokok sang perumusnya bernama Charles van Ophuijsen, seorang ahli bahasa berkebangsaan Belanda. Kerumahtanggaan menyusun Ejaan van Ophuijsen itu, Charles van Ophuijsen nan juga dikenal misal profesor bahasa Jawi di Universitas Leiden Belanda tersebut tak berputar sendirian.

Sebagai halnya ditulis Sudaryanto dalam Ejaan van Ophuijsen (1901-1947) puas Iklan Tempo Doeloe dan Kebermaknaannya, intern upaya ekspansi Bahasa Indonesia van Ophuijsen, Charles dibantu Engku Nawawi dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Setelah sempurna, ejaan itu pun tiba diberlakukan plong 1901-an.

Tentatif itu, untuk ciri yang terletak sreg Ejaan van Ophuijsen di antaranya pemanfaatan leter “oe” yang dibaca “u”, serta penggunaan huruf “j” yang dibaca “y”. Biarpun ejaan ini sudah lalu lama tak diberlakukan, namun hingga saat ini kita masih bisa menemukan ejaan tersebut di nama-nama cucu adam Indonesia.

Lebih jauh, perkembangan yang cak semau lagi turut menghasilkan konsep ejaan bersama yang diberi segel Ejaan Melindo atau Ejaan Melayu-Indonesia. Sayangnya, pada 1962-an, lembaga kerjakan meresmikan ejaan tersebut mengalami kekecewaan dikarenakan adanya konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia.

Pada 1966-an, Rancangan Bahasa dan Kesusastraan (LBK) membuat panitia yang kala itu diketuai oleh Anton M. Moeliono untuk mengusulkan konsep hijau pengganti konsep Melindo. Sesudah adanya bermacam ragam penyesuaian dan bilang kali seminar, sreg akhirnya konsep LBKA juga menjadi konsep bersama Indonesia-Malaysia serta menjadi sistem hijau yang menghasilkan Ejaan Nan Disempurnakan (EYD).

Pada 16 Agustus 1972, EYD itu kesudahannya diresmikan dan diberlakukan sebagaimana dimaklumkan maka itu Presiden Soeharto intern pidato kenegaraannya pada 16 Agustus 1972. N domestik pidatonya, Kepala negara Soeharto mengemukakan bahwa penggunaan ejaan baru itu dilakukan secara bertahap dan tidak perlu menimbulkan beban perincian tambahan.

Lewat, sreg 26 November 2015, EYD diganti menjadi Pedoman Awam Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dengan alasan perubahannya dikarenakan adanya kemajuan zaman dan teknologi. Selain itu, penggantiannya ditujukan cak bagi memantapkan fungsi dari bahasa Indonesia. PUEBI yang diberlakukan itu menutupi pemanfaatan abc, pengunaan alas kata, penggunaan jenama baca, serta pemakaian kata serapan.

Seiring dengan berkembangnya zaman dan pertumbuhan masyarakat, kini  banyak Bahasa Indonesia nan pun berasal dari perkenalan awal serapan, sehingga Bahasa Indonesia menjadi lebih kaya berbarengan menjadi perigi guna-guna.

Silakan tonton bermacam ragam video menarik di sini:

Sebelum Ahmar Putih Berkibar Netral di Langit Indonesia

Koropak.co.id, 16 August 2022 15:15:41

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jakarta
– Janji kedaulatan itu sudah diucapkan sejak 7 September 1944. Perdana Menteri Jepang detik itu, Kuniaki Koiso, mengiming-imingi hadiah kemerdekaan bakal Indonesia bila Jepang unggul dalam Perang Asia Timur Raya.

Kabar itu disambut Ir. Soekarno dengan memimpin rapat pada 12 September 1944. Privat berdampingan itu dibahas soal pengaturan pemakaian liwa dan lagu kebangsaan nan sama di seluruh Indonesia. Lampau dibentuk panitia duaja kebangsaan biram salih diketuai Gapura Hajar Dewantara dan panitia lagu kewarganegaraan Indonesia Raya yang dikomandani Soekarno.

Cak bagi membuat bendera, kainnya diambil di gudang yang rani di jalan Portal Air kemudian diantarkan ke jalan Pegangsaan Nomor 56 Jakarta. Kejai itu lantas dijahit jadi bendera oleh Fatmawati, istri Soekarno.

Liwa Merah Ceria nan pertama kali dikibarkan momen proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1945, memiliki panjang 300 centimeter dengan lebar 200 centimeter. Bendera tersebut terbuat dari sasaran katun halus alias sejajar dengan jenis primissima bagi batik catat halus.

Pada 4 Januari 1946, Presiden, Wakil Presiden, dan para menteri bermigrasi ke Yogyakarta, karena keamanan di Jakarta tidak terjamin. Bendera Pusaka lagi turut dibawa dan dikibarkan di Gedung Agung.

Baca:
Detik-Detik Ketika Skrip Kabar Diketik

Ketika Yogyakarta dikuasai Belanda plong 19 Desember 1948, Soekarno menitipkan Alam Warisan kepada ajudannya, Husein Mutahar. Agar bendera enggak disita Belanda, Husein melepaskan sutra jengkal sehingga episode berma dan putihnya terpisah.

Puas pertengahan Juni 1949, Husein menyatukan lagi duaja pusaka dengan mengimak lubang jahitannnya satu persatu. Bendera pusaka itu dikirim kepada Presiden Soekarno, dan pada 17 Agustus 1949, bendera pusaka kembali dikibarkan di pekarangan depan Gedung Agung.

Sejak 1958, bendera tersebut ditetapkan misal Bendera Pusaka dan selalu dikibarkan setiap 17 Agustus dalam ritual otonomi di Kastil Merdeka. Hanya, lantaran kondisinya sudah rapuh, sejak 17 Agustus 1968, bendera pusaka tidak lagi dikibarkan dan diganti dengan duplikat.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, umbul-umbul Abang Asli sebenarnya sudah dipakai kerajaan Majapahit. Kalimantang tersebut menjadi lambang keagungan kerajaan. Selain kekaisaran Majapahit, kekaisaran Kediri lebih dulu memakai panji-panji bercelup merah asli.

Sisingamangaraja IX pecah Batak juga memakai sirah dan kudus untuk liwa perang. Bahkan, pedang kembar pusaka ratu-raja Sisingamangaraja I-XII turut memakai warna berma tunu dan putih.

Selain itu, ketika perang di Aceh berlantas, pejuang-pejuang menggunakan pan-ji-panji warna biram murni dengan rangka sabel, rembulan sabit, matahari dan bintang serta beberapa ayat yang diambil dari Al-Qur’an. Dalam Perang Jawa, Sinuhun Diponegoro juga menggunakan panji berwarna bangkang dan asli bersama pasukannya yang berjuang melawan Belanda.

Mari tonton bineka video menarik di sini:

Pada Masa Bercocok Tanam Manusia Purba Mengenal Cara Hidup

Source: https://koropak.co.id/17374/catatan-manusia-purba-mengenal-bercocok-tanam-dan-beternak