Pemuliaan Tanaman Dapat Dilakukan Dengan Cara

Pemuliaan Tanaman Dapat Dilakukan Dengan Cara

Plot demonstrasi (demplot) memperlihatkan variasi hierarki pohon berbagai macam kultivar jagung.

Pemuliaan tanaman
adalah kegiatan mengubah susunan genetik manusia atau populasi tumbuhan bikin satu tujuan. Pemuliaan pohon kadang-kadang disamakan dengan pemijahan pokok kayu, kegiatan memelihara tanaman bagi memperbanyak dan menjaga kemurnian; sreg kenyataannya, kegiatan pemijahan adalah sebagian berpunca pengagungan. Selain melakukan pemijahan, deifikasi berusaha memperbaiki mutu genetik sehingga diperoleh tanaman yang lebih berfaedah.

Embaran mengenai perilaku biologi tumbuhan dan pengalaman intern budidaya tanaman merupakan hal yang minimal menentukan kesuksesan kampanye pemuliaan, sehingga taktik-trik teks sering kali menyebut pemuliaan pokok kayu laksana seni dan guna-guna memperbaiki keturunan tanaman demi kemaslahatan individu.[1]
Di perguruan tinggi, pemuliaan pokok kayu biasa dianggap sebagai cagak agronomi (mantra produksi tanaman) alias genetika terapan, karena adat multidisiplinernya.

Pegiat pendewaan pokok kayu disebut
pemulia tanaman. Karena pengetahuannya, koteng pemulia tanaman biasanya juga mengendalikan agronomi dan genetika. Tugas resep koteng pemulia tanaman ialah merakit kultivar yang kian baik:[2]
memiliki ciri-ciri yang individual dan lebih bermanfaat bagi penanamnya.

Permintaan kultivar berjaya padi dan gandum merupakan salah suatu onderdil terdepan n domestik Sirkuit Bau kencur,[3]
satu paket penggunaan teknologi modern secara massal bakal menggenjot produksi hutan mayapada, khususnya gandum roti, milu, dan antah. Dilihat pecah tesmak pandang agribisnis, ikram tanaman ialah bagian bermula propaganda perbenihan yang menempati posisi mulanya/hulu berusul keseluruhan ain rantai industri pertanian.

Tujuan dalam pemuliaan tanaman

[sunting
|
sunting sendang]

Tujuan dalam pemuliaan tanaman dapat bersifat spesifik. Tanaman di bagian kanan atas warna daunnya menjadi bangkang apabila tempat tumbuhnya mengandung nitrogen dioksida. Rasam ini dimanfaatkan untuk mendeteksi keberadaan ranjau yang mengasingkan paduan tersebut.

Harapan n domestik programa ikram tumbuhan didasarkan puas garis haluan jangka panjang untuk mengantisipasi beraneka rupa peralihan arah pemakai maupun keadaan lingkungan. Pemuliaan padi, misalnya, perpautan diarahkan pada peningkatan hasil, tetapi sekarang tutul musykil diarahkan puas perakitan kultivar nan toleran terhadap kondisi radikal (resistan kubangan, tahan kehilangan, dan tahan lahan bergaram) karena proyeksi perubahan iklim dalam 20–50 periode mendatang. Tujuan pemuliaan akan diterjemahkan menjadi acara deifikasi.

Ada dua tujuan umum intern pemuliaan tanaman: peningkatan kepastian terhadap hasil nan tahapan dan perbaikan kualitas bermula produk yang dihasilkan.[4]

Peningkatan kepastian terhadap hasil biasanya diarahkan pada peningkatan sentral hasil, cepat dipanen, ketenangan terhadap organisme pengganggu alias kondisi duaja yang kurang baik bikin usaha bertanam, serta kesesuaian terhadap perkembangan teknologi persawahan nan lain. Hasil yang tinggi menjamin terjaganya persediaan bahan mentah bagi diselesaikan bertambah lanjur. Pokok kayu yang berumur singkat (genjah) akan memungkinkan efisiensi penggunaan lahan yang lebih tinggi. Toleransi terhadap organisme pengganggu atau kondisi alam yang tak membantu akan kondusif pelaku operasi berbendang memencilkan kerugian segara akibat serangan hama, penyakit, serta bencana alam. Beberapa tumbuhan tertentu yang dalam usaha budidayanya mengikutsertakan banyak peralatan mekanik memerlukan populasi yang seragam alias idiosinkratis semoga bisa sesuai dengan kemampuan mesin privat berkarya.

Operasi perbaikan kualitas dagangan yakni pamrih utama kedua. Tujuan semacam ini dapat diarahkan pada perbaikan ukuran, rona, ki gua garba incaran tertentu (atau penambahan serta penghilangan kekayaan tertentu), pembuangan adat-rasam yang enggak disukai, ketenangan simpan, alias keayuan serta keunikan. Perkembangan bioteknologi di pengunci abad ke-20 telah membantu pemuliaan terhadap pokok kayu yang mampu menghasilkan bahan pangan dengan kandungan gizi tambahan (wana fungsional) maupun mengandung bulan-bulanan pengobatan tertentu (pharmcrops, kegiatannya dikenal sebagai
crop pharming).[5]

Sejarah

[sunting
|
sunting sumber]

Kegiatan pemuliaan pohon dapat dikatakan sebagai tekanan evolusi yang sengaja dilakukan maka itu manusia. Pada masa prasejarah, pemuliaan tanaman telah dilakukan bani adam sejak dimulainya domestikasi tumbuhan, namun dilakukan tanpa dasar aji-aji nan jelas. Repih-repih biji-bijian dari situs-situs peninggalan arkeologi membantu menyingkap tahun prasejarah pemuliaan tanaman. Catatan-garitan pertama n domestik jumlah besar mengenai berbagai ragam spesies tanaman diperoleh berasal karya penulis-penulis Romawi, terutama Plinius.

Domestikasi

[sunting
|
sunting sumber]

Perkembangan anak uang betina jagung semenjak teosinte (kidal) tanpa tongkol menjadi jagung dengan tongkol dan banyak larik.

Para pembajak pada periode-masa mulanya pertanian selalu menyimpan sebagian benih lakukan perkebunan berikutnya dan tanpa sengaja melakukan seleksi (pemilahan) terhadap tanaman yang langgeng karena cuma pohon nan kuat ki berjebah bersikukuh sebatas penuaian.[6]
Resan pertama kerumahtanggaan budidaya tanaman serealia (bijirin) yang termuliakan yakni dimensi bulir yang menjadi lebih lautan dan menurunnya tingkat kedogolan bulir sreg tanaman budidaya apabila dibandingkan dengan moyang liarnya.[7]
Beberapa petunjuk untuk peristiwa ini boleh diperkirakan dari temuan sejumlah sisa bulir jelai dan einkorn di lembah Sungai Eufrat dan Sungai Tigris (paling tua 9000 SM) serta pari di daerah aliran Sungai Yangtze.[7]
Temuan serupa buat biji bin-polongan berasal dari India paksina dan kawasan Afrika Sub-Sahara.[7]

Kronologi seleksi selanjutnya sudah lalu menunjukkan kesengajaan dan tercalit dengan tingkat kultur masyarakat peladang. Bulir jagung tersaring berpokok teosinte nan bulirnya berkanjang serta tersalut sekam, lalu menjadi jagung bertongkol sekadar bulirnya masih terbungkus sekam, dan jadinya bentuk yang berbulir tanpa sekam dan kian mudah digiling menjadi semakin banyak ditemukan. Beberapa petunjuk yang proporsional lagi tertumbuk pandangan berpunca temuan-temuan bakal bulir garai roti dan jelai.[7]
Contoh lainnya adalah munculnya pari ketan serta milu ketan di Asia Timur dan Asia Tenggara.[7]
Hanya dari area inilah muncul jenis-spesies ketan dari okta- keberagaman dan menunjukkan preferensi akan sifat ini.

Pemuliaan lega masa pramodern

[sunting
|
sunting perigi]

Kebudayaan Romawi Kuno (abad ke-9 SM – abad ke-5 Kristen) meninggalkan banyak tulisan mengenai diversitas pohon budidaya dan pula menamai berbagai varietas setiap jenis. Cato dengan
De Agri Cultura
[8]
dan Plinius yang Lanjut umur dengan
Naturalis Historia, misalnya, memberi banyak kenyataan akan halnya tipe tanaman dan faedah masing-masing bagi kesehatan.

Kitab suci seperti Al-Qur’an,[9]
juga menyebut tentang variasi pada beberapa tanaman. Hal ini menunjukkan mutakadim ada kesadaran privat mengidas alamat tanam dan pemilihan kultivar tertentu dengan target konsumen nan berlainan-beda.

Pada awal milenium purwa dan tengah permulaan milenium kedua telah terjadi pertukaran komoditas pertanian yang berhasil migrasi beberapa incaran rimba. Pisang hambur berpokok Asia Tenggara bahari ke sisi barat hingga pantai timur Afrika. Berbagai tanaman rempah, seperti merica dan ketumbar, dan tanaman “zakiah”, begitu juga randu alas dan mendira, menyebar berpunca India ke Nusantara. Namun demikian, pertukaran pohon yang intensif terjadi sesudah penjelajahan orang Eropa.


Kolonialisme dan penyebaran tumbuhan “eksotik”

[sunting
|
sunting sumber]

Bermacam-keberagaman variasi kentang. Ubi benggala didatangkan dari Amerika Daksina pada abad ke-15 ke Eropa, lalu memencar ke Asia.

Meskipun pendakyahan tanaman telah terjadi sebelum penjajahan, Zaman Penjelajahan (sejak abad ke-14) dan kolonialisme (penjajahan) yang menyusulnya mutakadim mengapalkan supremsi yang dramatis dalam budidaya tanaman.
[butuh rujukan]

Segera sesudah orang Spanyol dan Portugis menundukkan Amerika dan menemukan kolek laut ke Tiongkok, terjadi transisi berbagai tanaman dari Dunia Baru ke Dunia Lama, dan sebaliknya. Kopi nan berbunga Afrika, misalnya, dibawa ke Amerika dan Asia (dibawa ke Nusantara pada abad ke-18 mulanya).[10]
Lusa (abad ke-18) tebu kembali menyebar bersumber Asia Tenggara menuju Amerika tropis, sebagai halnya Karibia dan Guyana. Namun demikian, yang makin intensif ialah penyebaran bermacam ragam tanaman budidaya penduduk steril Amerika ke tempat lain: milu, kentang, tomat, cabai, kakao, para (cemping), serta berbagai pohon biji kemaluan dan hias.

Puas abad ke-18, terjadi gelombang rasionalisasi di Eropa sebagai dampak Periode Pencerahan. Bani adam-basyar kaya di Eropa (dan pada tingkat tertentu juga di Cina dan Jepang) mulai meminati koleksi tanaman eksotik dan huma-kebun kastel mereka yang luas menjadi ajang himpunan berbagai tanaman dari negeri asing. Puas abad ke-18 berangkat berkembang persawahan-perladangan monokultur (suatu macam tanaman pada satu kapling petak). Berbagai macam pokok kayu pencipta komoditi dagang utama dunia begitu juga tebu, teh, kopi, lada, dan tarum dibudidayakan di berbagai tanah jajahan, terjadwal Kepulauan Nusantara, tentu saja dengan melibatkan perbudakan atau tanam momentum. Pada abad ini pula cengkih dan pala menginjak ditanam di luar Maluku, sehingga harganya melandai dan bukan lagi menjadi rempah-rempah yang eksklusif.
[kalam rujukan]

Arketipe perladangan monokultur yang diterapkan sreg abad ke-18 dan ke-19 di Eropa dan persawahan-pertanian di bermacam rupa provinsi jajahan gado korban dengan terjadinya dua wabah osean: gempuran hawar kentang
Phytophthora infestans
nan menyebabkan Hawar Kelaparan Besar di Irlandia, Skotlandia serta beberapa provinsi Eropa lainnya sejak 1845 akibat dan hancurnya perkebunan sertifikat arabika dan liberika akibat gempuran karat daun
Hemileia vastatrix
di pertanaman lembang terbatas Afrika dan Asia sejak 1861 sampai akhir abad ke-19. Lega hari 1880-an juga meluas wabah penyakit sereh di berbagai perkebunan tebu marcapada.[11]

Para botaniwan dan tukang pertanian kemudian segera mengambil pelajaran mulai sejak kasus-kasus ini buat menyediakan korban tanam yang resistan terhadap serangan organisme pengganggu, sekaligus memberikan hasil yang lebih baik. Propaganda-operasi perombakan mutu genetik tanaman persawahan berangkat dilakukan sreg akhir abad ke-19 di beberapa wilayah dominion, tertera Hindia Belanda.
[titit rujukan]

Baca Juga :  Cara Menghilangkan Duri Ikan Di Tenggorokan

Kebun penelitian gula (tebu) permulaan siapa didirikan di Semarang hari 1885 (Proefstation Midden Java), setahun kemudian didirikan pun di Kagok, Jawa Barat, dan menyusul di Pasuruan terlepas 8 Juli 1887 (Proefstation Oost Java, POJ). Salah satu misinya adalah mengendalikan kerugian akibat penyakit sereh. Pada tahun 1905 seluruh pengkajian sakarosa/tebu dipusatkan di Pasuruan (masa ini menjadi P3GI).[12]
Berbagai klon tebu hasil susuk riset ini pernah termasuk sebagai kultivar tebu minimum unggul di marcapada di tengah permulaan abad ke-20, seperti mana POJ 2364, POJ 2878, dan POJ 3016 sehingga menjadikan Jawa sebagai produsen sakarosa terbesar di belahan timur bumi.[13]

Pusat penelitian karet (masa ini menjadi Pusat Eksplorasi Karet Indonesia) didirikan di Sungei Putih, Sumatra Utara, maka dari itu AVROS, dan ikram para dimulai sejak 1910.[14]
AVROS pula mendirikan lembaga penelitian kerambil sawit (kini populer sebagai PPKS) di Marihat, Sumatra Paksina pada tahun 1911, meskipun pohon ini sudah sejak 1848 didatangkan ke Medan/Deli dan Bogor.

Abad ke-20: Pemuliaan berbasis ilmu

[sunting
|
sunting sumber]

Semula abad ke-20 menjadi noktah perkembangan pengagungan tanaman yang berbasis ilmu pengetahuan. Perkembangan pesat dalam botani, genetika, agronomi, dan statistika tumbuh sebagai motor utama modernisasi pengultusan tanaman sejak tadinya abad ke-20 hingga 1980-an. Otomatisasi pertanian di dunia nan rembet sejak 1950-an memungkinkan penanaman secara massal dengan tenaga kerja paling kecil. Saat biologi molekular bertaruk pesat sejak 1970-an, pemuliaan tanaman juga mencuil manfaat darinya, dan mulailah kronologi pengagungan tanaman nan didukung mantra tersebut sejak 1980-an. Bioinformatika pun perlahan-lahan mengambil peran statistika bagaikan simpatisan utama internal kajian data eksperimen.
[butuh rujukan]

Gelombang purwa: pengagungan resmi

[sunting
|
sunting sumur]

Jagung hibrida mendominasi 90% lahan jagung di Amerika Persekutuan dagang pada tahun 1940. Di Indonesia 50% lahan jagung ditanami jagung hibrida tahun 2010[15].

Reka cipta kembali Hukum Pewarisan Mendel pada perian 1900, eksperimen terhadap pemilahan atas generasi hasil persilangan dan galur murni oleh Wilhelm Johannsen (sepuluh tahun pertama abad ke-20), peletakan dasar Syariat Hardy-Weinberg (1908 dan 1909), dan penjelasan pewarisan kuantitatif berbasis Hukum Mendel oleh Sir Ronald Fisher pada tahun 1916 memberikan banyak dasar-dasar teoretik terhadap plural fenomena yang telah dikenal dalam praktik dan menjadi dasar untuk petisi ilmu dan teknologi dalam reformasi kultivar.

Perkembangan yang paling kecil reaksioner kerumahtanggaan genetika dan ikram tanaman adalah ditemukannya cara perakitan variasi hibrida pada tahun 1910-an setelah serangkaian percobaan persimpangan alur murni di Amerika Persekutuan dagang sejak akhir abad ke-19 oleh Edward M. East, George H. Shull dan Donald F. Jones yang memanfaatkan gejala heterosis. Ditemukannya teknologi mandul dakar lega hari 1940-an semakin meningkatkan efisiensi perakitan varietas hibrida.

Kaidah budidaya yang semakin efisien dan mendorong intensifikasi n domestik perkebunan, dengan pendayagunaan cendawan ilmu pisah, racun hama, dan otomatisasi pertanian, memunculkan lahan pertanian dengan kebutuhan benih berjumlah besar dan mulai menghasilkan “raksasa” dalam industri perbenihan. Tumbuhnya industri perbenihan pula dimungkinkan sejak adanya varietas hibrida karena benih yang harus dibeli petani memungkinkan industri perbenihan bikin merecup. Dari sini menginjak muncul pula isu perlindungan tipe pokok kayu. Di Amerika Serikat muncul Dekalb dan Pioneer Hi-Bred sebagai anak bangsawan utama dalam industri sperma. Pecah Eropa, distrik yang sudah memulai produksi benih setengah industrial pada abad ke-19, unjuk KWS Saat dan NPZ (Jerman), serta SW Seeds (Swedia) sebagai anak ningrat terdepan di latar perbenihan tanaman serealia dan pakan ternak hijauan. Di Taiwan dan Jepang pula berkembang perusahaan jauhar yang tanggulang pasar regional Asia, seperti Sakata (Jepang) dan Known You Seeds (Taiwan).

Seusai Perang Dunia II (PD II) perbaikan genetik gandum yang didukung Yayasan Rockefeller di rang pengkhususan yang didanainya di Meksiko sebagai putaran dari paket teknologi untuk melipatgandakan hasil sorgum menunjukkan keberuntungan. Strategi ini, yang dikonsep maka dari itu Norman Borlaug, kemudian dicoba cak bagi diterapkan plong tanaman rahasia lain, khususnya gabah dan beberapa serealia minor lainnya (seperti sorgum dan milet) dan didukung maka itu FAO. Distribusi dalam teknik berpadan tanam ini kelak dikenal secara iinformal ibarat Revolusi Plonco. Buat mendukung revolusi ini banyak dibentuk lembaga-lembaga penelitian perbaikan pohon bertaraf marcapada sebagaimana CIMMYT (di Meksiko, 1957; ibarat kelangsungan dari lembaga milik Yayasan Rockefeller), IRRI (di Filipina, 1960), ICRISAT (di Andhra Pradesh, India, 1972), dan CIP (di La Molina, Peru). Bentuk-bagan ini sekarang terpusat dalam CGIAR dan koleksi serta hasil-hasil penelitiannya berkepribadian umum.

Akhir PD II kembali menjadi awal berkembangnya teknik-teknik baru internal perluasan latar genetik tanaman. Mutasi bikinan, yang tekniknya dikenal sejak 1920-an, start luas dikembangkan plong tahun 1950-an setakat dengan 1970-an sebagai pendirian lakukan menambahkan variabilitas genetik. Pemuliaan dengan menunggangi teknik mutasi buatan ini dikenal bak pemuliaan alih tugas. Selain mutasi, teknik perluasan bidang genetik pula menggunakan teknik poliploidisasi buatan menggunakan kolkisin, nan bawah-dasarnya diperoleh dari berbagai percobaan makanya Karpechenko sreg tahun 1920-an. Tanaman poliploid rata-rata berdosis makin ki akbar dan dengan demikian n kepunyaan hasil yang lebih tinggi.

Gelombang kedua: Integrasi bioteknologi dalam deifikasi

[sunting
|
sunting sumber]

Gelombang listrik bioteknologi, yang memanfaatkan bervariasi metode biologi molekuler, nan mulai menguat sreg perian 1970-an mengimbas deifikasi tanaman. Tanaman transgenik pertama dilaporkan hampir bersamaan pada waktu 1983,[16]
adalah tembakau,
Petunia, dan bunga rawi. Selanjutnya muncul berbagai tanaman transgenik dari berbagai spesies lain; nan paling terkenal dan polemis merupakan sreg jagung, kapas, tomat, dan kedelai nan disisipkan gen-gen toleran herbisida atau gen ketabahan terhadap wereng tertentu. Perkembangan ini memajukan wacana karunia hak paten terhadap metode, gen, serta pohon terlibat dalam proses perkomplotan ini. Kalangan pengelola mileu dan sebagian filsuf memonten keadaan ini kontroversial dengan memunculkan suara minor ideologis dan sopan terhadap praktik ini andai reaksinya, terutama karena teknologi ini dikuasai oleh segelintir perusahaan multinasional. Isu politik, lingkungan, dan etika, yang sebelumnya tidak relasi masuk dalam khasanah pemuliaan pohon, start ikut ibarat pertimbangan hijau.

Sebagai jawaban atas suara terhadap tanaman transgenik, pemuliaan tanaman sekarang mengembangkan teknik-teknik bioteknologi dengan risiko lingkungan yang kian terbatas begitu juga
SMART Breeding
(“Pemuliaan SMART”)[17]
[18]
dan
Breeding by Design,[19]
yang mendasarkan diri plong pemuliaan dengan indikator,[20]
dan kembali pendayagunaan teknik-teknik pengendalian regulasi ekspresi gen seperti peredaman gen, dan kebalikannya, pengaktifan gen.

Meskipun eksploitasi teknik-teknik terbaru telah dilakukan untuk memperluas keanekaragaman genetik tanaman, sanding semua penggarap benih, baik yang membahu maupun publik, masih mengandalkan pada deifikasi tanaman “normal” dalam berbagai programnya.

Di arah nan enggak, propaganda pemujaan tanaman “gotong-royong” alias partisipatif (participatory plant breeding) kembali menjadi jawaban atas kritik hilangnya kontrol petani atas sperma. Manuver ini lain menuju lega pembaruan hasil secara massal, tetapi lebih membidikkan orang tani, khususnya yang masih tradisional, untuk kukuh menguasai sperma yang mutakadim mereka tanam secara ambruk-temurun sambil merevisi mutu genetiknya. Reformasi mutu genetik pokok kayu ditentukan seorang arahnya maka itu penanam dan pemulia mendukung mereka dalam melakukan programnya sendiri.[21]
Istilah “gotong-royong” (participatory) digunakan kerjakan menggambarkan keterlibatan semua pihak (petambak, LSM, pemulia, dan pengelana benih) n domestik kegiatan produksi jauhar dan pemasarannya. Gerakan ini dahulu memerlukan dorongan dari organisasi non-pemerintah (LSM), khususnya pada masyarakat tidak memusat komersial.

Kebijakan dasar ikram tanaman

[sunting
|
sunting sumber]

Pengagungan pohon mencengap tindakan pemijahan koleksi bulan-bulanan/material pemuliaan (dikenal lagi seumpama plasma nutfah atau
germplasms), penciptaan kombinasi resan-sifat baru (biasanya melampaui persilangan yang intensif), dan seleksi terhadap sasaran yang dimiliki. Semua tindakan ini dilakukan setelah pamrih distingtif program pemuliaan ditentukan sebelumnya.[22]

Koleksi plasma nutfah

[sunting
|
sunting sumber]

Plasma nutfah adalah bulan-bulanan baku bawah pendewaan karena di sini tersimpan berbagai kemajemukan rasam yang dimiliki oleh masing-masing nomor kompilasi (aksesi). Tanpa multiplisitas, perombakan sifat tidak kali dilakukan.

Usaha pencarian plasma nutfah baru berarti eksplorasi ke tempat-tempat yang secara tradisional menjadi resep keanekaragaman hayati (atau jenggala) ataupun dengan melakukan pertukaran himpunan. Lembaga-lembaga publik sebagaimana IRRI dan CIMMYT menyediakan himpunan plasma nutfah bagi awam secara bebas bea, namun bagi kepentingan bisnis diatur maka dari itu perjanjian antara pihak-pihak nan terkait.


Peningkatan keragaman (variabilitas) genetik

[sunting
|
sunting sumber]

Keanekaragaman dalam plasma nutfah merupakan bahan dasar bakal perakitan kultivar hijau.

Apabila aksesi tidak ada suatu pun yang memiliki suatu resan yang diinginkan, pemulia pohon mengerjakan beberapa cara untuk merakit individu yang memiliki sifat ini. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah introduksi bahan koleksi, persimpangan, penyelewengan kromosom, mutasi dengan paparan radioaktif atau objek ilmu pisah tertentu, pemberkasan (fusi) protoplas/inti interniran, penyelewengan urutan gen, transfer gen, dan manipulasi regulasi gen.

Catur cara yang disebut terakhir kerap dianggap andai bagian dari bioteknologi perkebunan (green biotechnology). Tiga cara yang terakhir adalah bagian dari rekayasa genetika dan dianggap sebagai “pengultusan tanaman molekular” karena menggunakan metode-metode biologi molekular.[23]

Introduksi

[sunting
|
sunting sumber]

Mendatangkan bahan tanam dari tempat enggak (introduksi) adalah cara paling sederhana untuk meningkatkan variabilitas (variabilitas) genetik. Seleksi penyaringan (screening) dilakukan terhadap koleksi plasma nutfah yang didatangkan mulai sejak berbagai panggung dengan kondisi lingkungan yang berbeda-beda. Siaran tentang siasat keanekaragaman (keanekaragaman) tumbuhan penting cak bagi penerapan mandu ini. Keberbagaian genetik lakukan satu spesies tidaklah sama di semua tempat di dunia. N.I. Vavilov, juru botani bersumber Rusia, membudayakan teori “pusat diversitas” (centers of origin) buat keanekaragaman tanaman.

Baca Juga :  Sel Telur Yang Telah Dibuahi Disebut

Contoh pengultusan yang dilakukan dengan cara ini adalah pengagungan untuk berbagai jenis tanaman biji zakar zakiah Indonesia, seperti durian dan rambutan lekang, atau pokok kayu pohon enggak yang mudah diperbanyak secara vegetatif, sebagai halnya ketela pohon dan jarak gerogol. Alas kata boleh dikombinasi dengan persimpangan.

Persilangan

[sunting
|
sunting sumber]

Malai padi dibungkus dengan daluang pelindung untuk mencegah penyerbukan yang bukan dikehendaki. Persilangan masih menjadi tulang punggung pabrik perbenihan sampai sekarang.

Persilangan merupakan mandu yang minimum populer cak bagi meningkatkan variabilitas genetik, bahkan sampai masa ini karena murah, efektif, dan nisbi mudah dilakukan. Berbagai alur hasil rekayasa genetika pun biasanya masih memerlukan beberapa bisa jadi persilangan cak bagi merevisi penampilan sifat-sifat barunya.

Pada dasarnya, persilangan adalah manipulasi atak gen kerumahtanggaan populasi. Kejayaan persilangan memerlukan prasyarat pemahaman akan proses reproduksi tanaman yang bersangkutan (biologi anakan). Bervariasi skema persilangan mutakadim dikembangkan (terutama sreg pertengahan abad ke-20) dan menghasilkan sekumpulan metode deifikasi yang telah diterapkan pada berbagai firma perbenihan.

Lamun secara teknis nisbi mudah, keberuntungan persilangan perlu mempertimbangkan ketepatan hari berbunga (sinkronisasi), keadaan lingkungan nan kondusif, kemungkinan inkompatibilitas, dan kemandulan keturunan. Keterampilan teknis dari petugas persimpangan pula boleh berwibawa pada keberhasilan persilangan. Lega sejumlah tanaman, sebagai halnya jagung, padi, dan
Brassica napus
(rapa), pengusahaan teknologi mandul bahaduri dapat kontributif mengurangi hambatan teknis karena persimpangan bisa dilakukan tanpa bantuan makhluk.

Semua jenis unggul antah, jagung, dan bin yang ditanam di Indonesia saat ini dirakit melalui persimpangan yang diikuti dengan penyortiran.

Kronologi dalam biologi molekular memunculkan metode-metode pemujaan baru yang dibantu dengan penanda genetik dan dikenal sebagai pendewaan dengan penunjuk.

Manipulasi kromosom

[sunting
|
sunting sumber]

Nan terdaftar dalam cara ini ialah semua manipulasi ploidi, baik poliploidisasi (penggandaan genom) maupun pengubahan total kromosom. Gandum roti dikembangkan dari penyatuan tiga genom spesies yang berlainan-beda. Semangka tanpa biji dikembangkan terbit persilangan semangka tetraploid dengan semangka diploid. Pengubahan total kromosom (seperti pembuatan galur trisomik atau monosomik) biasanya dilakukan andai gawai amatan genetik untuk menentukan posisi gen-gen yang menata sifat tertentu. Galur dengan kuantitas kromosom nan tidak berimbang sedemikian itu mengalami rintangan n domestik pertumbuhannya.

Teknik deifikasi ini sebenarnya juga mengandalkan persimpangan dalam praktiknya.

Pendewaan dengan pertolongan mutasi

[sunting
|
sunting sumber]

Pemuliaan tanaman dengan pertolongan mutasi (dikenal sekali lagi sebagai pemuliaan tanaman mutasi) ialah teknik yang pernah cukup tenar buat menghasilkan variasi-spesies kebiasaan yunior. Teknik ini purwa siapa diterapkan makanya Stadler sreg masa 1924[24]
sekadar prinsip-mandu pemanfaatannya buat ikram tanaman diletakkan maka itu Åke Gustafsson dari Swedia.[24]
Tanaman dipaparkan pada sinar radioaktif dari isotop tertentu (biasanya kobal-60) dengan dosis abnormal sehingga tidak mematikan tetapi menafsirkan bilang basa DNA-nya. Alih tugas pada gen akan boleh memungkirkan penampilan tanaman. Sreg tanaman yang dapat diperbanyak secara vegetatif, induksi jaringan kimera telah cukup kerjakan menghasilkan kultivar baru. Pada tumbuhan yang diperbanyak dengan kredit, mutasi harus terbawa oleh sel-tangsi reproduktif, dan generasi selanjutnya (stereotip disebut M2, M3, dan seterusnya) diseleksi.

Pemuliaan alih tugas sejak penutup abad ke-20 telah dilakukan pula dengan melakukan mutasi pada jaringan nan dibudidayakan (kultur jaringan) atau dengan sambung tangan teknik TILLING. TILLING mendukung mutasi secara lebih terpatok sehingga hasilnya kian boleh diramalkan.[25]

Setakat waktu 2006 mutakadim dihasilkan makin berpunca 2300 kultivar tumbuhan dengan alih tugas, 566 di antaranya adalah tanaman hias.[26]
Daftar kultivar dengan pengultusan mutasi dapat diakses pada http://www-mvd.iaea.org Diarsipkan 2015-07-21 di Wayback Machine..

Manipulasi gen dan ekspresinya

[sunting
|
sunting sumber]

Metode-metode nan mengikutsertakan penerapan genetika molekular masuk privat kerubungan ini, seperti teknologi antisense, peredaman gen (tercantum interferensi RNA), rekayasa gen, dan
overexpression. Lamun teknik-teknik ini telah diketahui berhasil diterapkan n domestik skala percobaan, belum cak semau kultivar memikul nan dirilis dengan mandu-cara ini.

Transfer gen

[sunting
|
sunting sendang]

Alat biolistik untuk transfer gen.

Transfer gen sebagai alat cak bagi menghasilkan kemajemukan genetik tanaman mulai dikembangkan sejak 1980-an, setelah khalayak menemukan enzim endonuklease restriksi dan mengetahui cara menyempilkan fragmen DNA organisme asing ke intern kromosom penerima, dan diciptakannya radas sekuensing DNA. Teknik transfer gen pula memerlukan kegesitan dalam budidaya jaringan untuk mendukung proses ini. Karena memerlukan biaya dulu janjang, hanya industri agrokimia nan sanggup menggunakan metode ini. Akibat dari hal ini berkembanglah isu “penyerobotan gen” andai isu politik hijau karena gen-gen “buatan” dan kultivar yang dihasilkan dikuasai makanya segelintir perusahaan multinasional besar.

Dalam transfer gen, fragmen DNA dari organisme enggak (baik mikrob, hewan, alias pokok kayu), alias dapat lagi gen sintetik, disisipkan ke dalam tumbuhan akseptor dengan harapan gen “baru” ini akan terekspresi dan meningkatkan keunggulan pokok kayu tersebut. Strategi pemujaan ini banyak mendapat penentangan dari kelompok-kelompok lingkungan karena kultivar nan dihasilkan dianggap membahayakan lingkungan jika dibudidayakan.

Interpolasi gen dilakukan melewati berbagai cara: transformasi dengan broker bibit penyakit penyebab puru kop
Agrobacterium
(terutama bagi tanaman non-monokotil), elektroporasi terhadap membran sel, biobalistik (penembakan atom), dan transformasi dengan perantara virus.

Identifikasi dan pemilahan terhadap bahan pemuliaan

[sunting
|
sunting mata air]

Penyaringan yakni salah satu cara mengidentifikasi aturan yang dimiliki bahan pemuliaan. Galur di arah kanan rentan terhadap kegaraman tinggi, sedangkan di sisi kiri toleran.

Bahan alias materi pendewaan dengan keanekaragaman nan luas selanjutnya perlu diidentifikasi sifat-sifat khas nan dibawanya, diseleksi berlandaskan hasil identifikasi sesuai dengan tujuan programa pengagungan, dan dievaluasi kestabilan sifatnya sebelum dinyatakan layak dilepas kepada awam. Dalam proses ini pencaplokan beragam metode percobaan, metode seleksi, dan juga “naluri” oleh sendiri pemulia sangat diperlukan.

Identifikasi keunggulan

[sunting
|
sunting sendang]

Usaha ekstensi diversitas akan menghasilkan banyak bahan nan harus diidentifikasi. Pertimbangan sumur resep menjadi faktor pembatas n domestik menguji banyak objek ikram. Plong zaman dulu identifikasi dilakukan dengan pengamatan yang mengandalkan naluri seorang pemulia dalam memilih bilang basyar unggulan. Program pemuliaan maju mengandalkan bentuk percobaan yang diusahakan seekonomis tetapi seakurat mungkin. Percobaan boleh dilakukan di makmal untuk pengujian genotipe/penanda genetik atau biokimia, di rumah beling lakukan penyaringan kesabaran terhadap hama atau penyakit, atau lingkungan di bawah optimal, serta di pelan mangap. Tahap identifikasi dapat dilakukan terpisah alias terintegrasi dengan tahap penyaringan.

Penyaringan

[sunting
|
sunting sumber]

Banyak metode penyaringan nan bisa diterapkan, pemakaian masing-masing ditentukan oleh berbagai hal, sama dengan moda reproduksi (klonal, berpenyerbukan sendiri, atau silang), heritabilitas sifat yang menjadi alamat pemuliaan, serta ketersediaan biaya dan akomodasi, serta diversifikasi kultivar yang akan dibuat.

Pokok kayu nan dapat diperbanyak secara klonal merupakan tanaman yang relatif mudah proses seleksinya. Zuriat mula-mula hasil persilangan dapat sekaligus diseleksi dan dipilih yang menunjukkan sifa-resan terbaik sesuai yang diinginkan.

Seleksi massa dan seleksi alur murni dapat diterapkan terhadap tanaman dengan semua moda reproduksi. Hasil persilangan pohon berpenyerbukan sendiri yang tidak menunjukkan depresi silang-dalam seperti padi dan gandum dapat pula diseleksi secara curah (bulk). Teknik modifikasi pemilihan galur kalis nan sekarang banyak dipakai adalah nasab nilai eksklusif (single seed descent, SSD) karena boleh menghemat tempat dan tenaga kerja.

Terhadap tanaman berpenyerbukan silang atau mudah berpotongan, pemilahan berbasis nilai pengultusan (breeding value) dianggap yang minimal efektif. Beragam metode, begitu juga seleksi “tongkol-ke-saf” (beserta modifikasinya), penyaringan saudara tiri, seleksi plasenta kandung, dan penyortiran plasenta kandung imbang-putar (reciprocal selection), diterapkan apabila pokok kayu memenuhi syarat perbanyakan sejenis ini. Metode seleksi imbang-benyot yang repetitif (recurrent reciprocal selection) merupakan program seleksi jangka tataran yang banyak diterapkan perusahaan-perusahaan lautan sperma lakukan memperbaiki lungkang gen (gene pool) yang mereka miliki. Dua atau kian lungkang gen teristiadat dimiliki dalam suatu acara pembuatan variasi hibrida.

Penggunaan penunjuk genetik sangat membantu dalam mempercepat proses pemilahan. Apabila dalam deifikasi konvensional penyortiran dilakukan bersendikan pengamatan sambil terhadap sifat nan diamati, aplikasi ikram tanaman dengan penanda (genetik) dilakukan dengan meluluk hubungan antara alel penunjuk dan sifat yang diamati. Seyogiannya teknik ini dapat dilakukan, perpautan antara alel/genotipe indeks dengan sifat nan diamati harus ditegakkan malar-malar dahulu.


Evaluasi (pengujian)

[sunting
|
sunting sendang]

Bahan-bahan deifikasi yang telah terpilih harus dievaluasi atau diuji lebih-lebih terlampau dalam kondisi lapangan karena proses seleksi pada biasanya dilakukan puas lingkungan terbatas dan dengan ukuran populasi kecil. Evaluasi dilakukan bagi mengintai apakah keunggulan yang ditunjukkan sewaktu seleksi pula dipertahankan dalam kondisi lahan persawahan terbabang dan dalam populasi ki akbar. Selain itu, alamat pemuliaan terpilih juga akan dibandingkan dengan kultivar yang sudah lebih dahulu dirilis. Calon kultivar yang tidak mampu mengungguli kultivar yang sudah lebih suntuk dirilis akan dicoret dalam proses ini. Apabila korban pemuliaan lolos tahap evaluasi, ia akan dipersiapkan lakukan dirilis misal kultivar baru.

Baca Juga :  Tanaman Sagu Menyimpan Produk Pangannya Di Bagian

Internal praktik, galibnya terserah tiga tipe evaluasi alias pengujian yang diterapkan sebelum suatu kultivar dilepas, yaitu
uji pendahuluan
(mengikutsertakan 20-50 bahan pendewaan terseleksi),
uji pokok hasil pendahuluan
(maksimum 20), dan
uji multilingkungan/multilokasi
(ataupun uji kancing hasil lanjutan, lazimnya sedikit semenjak 10). Semakin lanjur tahap pengujian, format plot percobaan semakin lautan. Setiap negara mempunyai kebiasaan distingtif akan halnya bakuan untuk masing-masing variasi pengujian dan variasi pokok kayu.

Primadona kultivar yang akan dirilis/dilepas ke publik diajukan kepada tubuh penulis (registrasi) perbenihan bagi disetujui pelepasannya setelah pihak yang akan merilis menjatah informasi akan halnya ketersediaan jauhar yang akan diperdagangkan.

Perbenihan

Mani kultivar unggul nan dirilis dikuasai oleh pemulia yang merakitnya dan hak ini dinamakan “pemeliharaan varietas” atau “hak pemulia” (breeder’s right). Semen di tangan pemulia disebut
jauhar pemulia
(“breeder seed”) dan cacat jumlahnya. Benih pemulia tersedia semata-mata terbatas dan perbanyakannya sepenuhnya dikontrol oleh pemulia.

Kritik atas acara pemuliaan tanaman

[sunting
|
sunting sumber]

Pemujaan pokok kayu masih menjadi salah satu tumpuan dalam usaha penyediaan wana bumi;[27]
meskipun demikian, beberapa isu dan keprihatinan mutakadim dilemparkan terhadap program pemuliaan tanaman.

Penyempitan variabilitas genetik

[sunting
|
sunting sumber]

Penyempitan kemajemukan genetik merupakan isu mendasar yang mutakadim disuarakan dan disadari sejak mulanya deifikasi tumbuhan modern. Akibat fokus pada peningkatan produksi dan mutiara hasil, sebagian kerdil variasi genetik mendominasi perladangan. Seleksi yang dilakukan internal program deifikasi pohon mengakibatkan sempitnya keragaman genetik tanaman nan dibudidayakan. Situasi diperparah dengan sekurang-kurangnya pilihan kultivar nan ditanam orang tani karena permintaan konsumen akan keseragaman barang. Tanaman menjadi mudah terserang wereng dan penyakit, karena organisme pengganggu lebih tinggi plasitisitas fenotipiknya daripada tumbuhan budidaya. Beberapa wabah besar sudah terjadi akibat hal ini, sama dengan hawar kentang, hawar milu, dan tungro pada padi (lewat perantara wereng coklat). Suatu kajian terhadap kandungan vitamin sejumlah kultivar pokok kayu sayuran kebun dari tahun 1950 sampai 1999 menunjukkan efek ganti rugi penerjunan sejumlah kandungan gizi akibat fokus diberikan kepada hasil, termasuk 6% protein dan 38% riboflavin (vitamin B2).[28]
Sempitnya bidang belakang genetik sekali lagi akan menyebabkan stagnasi dalam programa pemuliaan. Untuk mengatasi hal ini, program pemuliaan beradab memasukkan persilangan dengan kerabat jauh atau lebih-lebih spesies yang berbeda bikin memperluas kemajemukan. Selain itu, persyaratan kestabilan pengejawantahan kerjakan sejumlah spesies pohon diperlunak sehingga kultivar yang bersifat spesifik lokasi lagi dapat disetujui untuk dirilis.

Penguasaan plasma nutfah

[sunting
|
sunting sumber]

Lazimnya kultivar tumbuhan masa masa ini dihasilkan oleh sebagian boncel perusahaan benih, beberapa di antaranya bermodal kuat, transnasional, dan menguasai teknologi tahapan. Masyarakat resan, nan sebelum terjadi industrialisasi perladangan menguasai mani berangsur-angsur terdesak perannya dan petani lambat-laun tersidai plong pasokan benih dari pabrik benih. Situasi ini dipandang bukan independen oleh anggota gerakan anti-globalisasi. Keadaan ini sedikit banyak merupakan akibat berasal Revolusi Plonco, yang berfokus pada eskalasi hasil, dan pemberlakuan prinsip Konservasi Varietas Pohon (Hak cipta Pemulia Tumbuhan).

Salah suatu penceraian yang ditawarkan adalah menggunakan konsep pemuliaan pohon partisipatif (participatory plant breeding). Melangkaui cara ini, plasma nutfah tetap dikuasai oleh masyarakat pemilik plasma nutfah, tetapi pabrik benih juga mendapat keuntungan bersumber pengusahaan sumber kancing genetik ini.

Otak-dalang

[sunting
|
sunting sumur]

Berikut ialah beberapa biang kerok yang berperan dalam ki kenangan pemuliaan pokok kayu, mencangam pemulia, teoretis, serta kritikus.

  • Norman Ernest Borlaug (1914–2009), Amerika Sekutu (AS), penerima Nobel Perdamaian untuk Revolusi Hijau
  • Peter Beyer (1952– ), Jerman, perakit ‘Golden Rice’
  • Luther Burbank (1849–1926), AS, pemulia hortikultura legendaris
  • Sir Charles Darwin (1809–1882), Britania Raya, mengkaji secara ilmiah akan halnya berbagai pengaruh persilangan
  • Richard Keith Downey (1927– ), Kanada, peneroka kanola
  • Edward Murray East (1879–1938), AS, menaruh dasar-sumber akar teknologi jagung hibrida
  • Sir Ronald Fisher (1890–1962), Britania Raya, teoretisi yang berada menunjukkan bahwa Syariat Mendel berkreasi pula bagi kebiasaan-sifat kuantitatif
  • Åke Gustafsson, (1908–1988) Swedia, perambah pemuliaan pokok kayu dengan mutasi
  • Wilhelm Johannsen (1857–1927), Denmark, menjelaskan dasar2 seleksi massa, teori poligen, mengkoinekan fenotipe dan genotipe, menemukan variasi dalam homozigot, kritikus Darwinisme
  • Donald F. Jones (1890–1963), AS, menginvensi hibrida silang ganda yang menjadi teknologi pemicu industri benih hibrida
  • Georgii Karpechenko (1899–1941), Uni Soviet (waktu ini Rusia), amatan sediakala allopoliploidi, dihukum mati karena dituduh anti-Lysenkoisme
  • Trofim Lysenko (1898–1976), Embak Soviet (sekarang Ukraina), tokoh dalam skandal pertanian plong masa Stalin
  • Gregor Mendel (1822–1884), Kekaisaran Austria (waktu ini Republik Ceko), perambah genetika modern
  • Ivan Vladimirovich Michurin (1855–1935), Uni Soviet (Rusia), menerapkan seleksi plong tanaman biji pelir dan mengkaji teknik-teknik penanggulangan inkompatibilitas persilangan
  • Ingo Potrykus (1933– ), Jerman, perakit ‘Golden Rice’ dan pemimpin Golden Rice Humanitarian Board
  • Marcus Morton Rhoades (1903–1991), AS, menemukan bawah teori pendayagunaan silsilah mandul nekat
  • George Harrison Shull (1874–1954), AS, mengembangkan teknologi jagung hibrida
  • Baldur Stefansson, (1917-2002) Kanada, perambah kanola
  • Nazareno Strampelli, Italia, perintis pembuatan silsilah-silsilah gandum berkapasitas hasil tinggi
  • Nikolai Vavilov (1887–1943), Rusia/Uni Soviet, teoritisi penyebaran tumbuhan dunia, kurator tumbuhan berharga
  • Louis de Vilmorin (1816–1860), Prancis
  • Yuan Longping (1930– ), Tiongkok, berekspansi teknologi padi hibrida di Cina

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^

    lihat, misalnya, Sleper D.A. dan J.M. Poehlman. 2006.
    Breeding Field Crops. Edisi ke-5. Wiley-Blackwell. Hal. 3.

  2. ^


    McCouch, S. (2004). “Diversifying selection in plant breeding”.
    PLoS Biol.
    2
    (10): e347. DOI:10.1371/journal.pbio.0020347. Diakses rontok
    2010-08-24
    .





  3. ^

    Sisworo W.H. Membangun Kembali Swa Sembada Beras. Diarsipkan 2012-03-08 di Wayback Machine. [sic!]. Kertas kerja yang disampaikan n domestik ? tanggal 26 April 2007.

  4. ^


    “Laman Bundesverband Deutscher Pflanzenzüchter e.V.” Diarsipkan dari varian zakiah tanggal 2011-03-01. Diakses tanggal
    2011-01-01
    .





  5. ^

    Gewin Virginia . 2003. Genetically Modified Corn— Environmental Benefits and Risks. PLOS Biology 1: e8. DOI:10.1371/journal.pbio.0000008

  6. ^

    Zohary, D. & Hopf, M. 2000.
    Domestication of Plants in the Old World. Oxford Univ. Press. London.
  7. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    Purugganan, M.D. (2009-02-12). “The nature of selection during plant domestication”.
    Nature
    (pdf).
    457: 843–8. DOI:10.1038/nature07895.





  8. ^

    Ki ke-157 misalnya menyebutkan akan halnya variasi pada kol (brassica) dalam pengait dengan khasiat penyembuhan.

  9. ^

    Umpamanya, QS 13:3—4 menamakan tentang variasi sifat plong tumbuhan kurma: berbatang spesial atau menumbuhkan bunga, biji kemaluan dengan berbagai ragam rasa.

  10. ^

    Vlekke, BHM. 2008.
    Nusantara: Sejarah Indonesia. Edisi terjemah berpokok edisi suci 1961. KP Gramedia. Situasi. 216. Gubernur Jenderal Van Hoorn mendapatkan kopi yang dikirim berasal Malabar, India, makanya Hendrick Zwaardecroon.

  11. ^


    Plucknett, D.A. (1987).
    Gene banks and the world’s food. Princeton, N.J.: Princeton University Press. hlm. 164. ISBN 0-691-08438-6. Diakses tanggal
    2010-08-12
    .





  12. ^

    The History of P3GI Diarsipkan 2011-12-18 di Wayback Machine.. Kata sandang pada laman P3GI Diarsipkan 2010-07-26 di Wayback Machine..

  13. ^

    Olean Sugar Mill – a candidate for a World Heritage Site?. Artikel di laman The International Steam Pages

  14. ^

    AD Sagala, M. Lasminingsih, S. Woelan, H. Hadi Kemajuan Pemuliaan dan Pemilahan Pokok kayu Perca di Indonesia
    [
    pranala bebas tugas permanen
    ]

    . 2009-09-09

  15. ^

    Syngenta Bangun Pabrik Senilai 25 Juta Dolar Diarsipkan 2020-11-23 di Wayback Machine.. Suara miring Karya Online Edisi 11 Juni 2011. Diakses 21 Januari 2012

  16. ^

    History of Plant Breeding

  17. ^

    Davis, G.P., D’occhio, M.J.D., Hetzel, D.J.S. (1997). Smart breeding: Selection with markers and advanced reproductive technologies.
    Proceedings of the Association for the Advancement of Animal Breeding and Genetics
    12, 429–432

  18. ^


    Haas, Lucian (2006-07-27). “Ist die Grüne Gentechnik von gestern?”.
    Berliner Zeitung
    . Diakses tanggal
    2010-07-27
    .





  19. ^


    Peleman, J.D. (July 2003). “Breeding by design”.
    Trends in Plant Science.
    8
    (7): 330–334. doi:10.1016/S1360-1385(03)00134-1.





  20. ^


    Young, Nevin D. (1999). “A cautiously optimistic vision for marker-assisted breeding”.
    Molecular Breeding.
    5
    (6): 505–510. doi:10.1023/A:1009684409326.





  21. ^


    “Participatory Plant Breeding maka itu PRGA”
    (PDF). Diarsipkan berpangkal versi asli
    (PDF)
    tanggal 2020-09-23. Diakses tanggal
    2010-07-26
    .





  22. ^

    Diepenbrock W, Ellmer F, Leon J. 2005.
    Ackerbau, Pflanzenbau, und Pflanzenzüchtung. Ulmer UTB. Stuttgart. Peristiwa. 265

  23. ^


    Moose, S.P. (2008). “Molecular plant breeding as the foundation for 21st century crop improvement”.
    Plant Physiology.
    147: 969–977. doi:10.1104/pp.108.118232. Diakses tanggal
    2010-07-27
    .




  24. ^


    a




    b



    Maluszynski M. 2001. Officially released mutant varieties – The FAO/IAEA Database
    [
    pranala nonaktif permanen
    ]

    .
    Plant Cell, Tissue and Organ Culture
    65:175–177.

  25. ^


    Henikoff, S. (2004). “TILLING. Traditional mutagenesis meets functional genomics”.
    Plant Physiology.
    135: 630–636. doi:10.1104/pp.104.041061. Diakses rontok
    2010-07-27
    .





  26. ^

    Jain M. 2006. Mutation-assisted breeding for improving ornamental plants.
    Dalam:
    Mercuri A, Schiva Falak.
    ISHS Acta Horticulturae
    714:85-98.

  27. ^

    This time: A Greener Revolution? Diarsipkan 2010-02-14 di Wayback Machine.. National Geographic Special Report — The Global Food Crisis. Edisi June 2009.

  28. ^

    Davis, D.R., Epp, M.D., and Riordan, H.D. 2004. Changes in USDA Food Composition Data for 43 Garden Crops Diarsipkan 2009-06-15 di Wayback Machine., 1950 to 1999.
    Journal of the American College of Nutrition
    23(6):669-682

Pranala asing

[sunting
|
sunting sendang]

  • (Inggris)
    Darwin C. 1883. The Variation of Animals and Plants Under Domestication. 2nd ed. e-book.
  • (Inggris)
    Corn Breeding History Diarsipkan 2010-07-11 di Wayback Machine.
  • (Inggris)
    Sejarah epidemi hawar daun jagung Diarsipkan 2010-06-10 di Wayback Machine.



Pemuliaan Tanaman Dapat Dilakukan Dengan Cara

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Pemuliaan_tanaman