Salah Satu Fungsi Bahasa Indonesia Yang Terdapat Dalam Sumpah Pemuda Adalah

Salah Satu Fungsi Bahasa Indonesia Yang Terdapat Dalam Sumpah Pemuda Adalah

Kok Bahasa Indonesia yang digunakan misal bahasa persatuan dalam Sumpah Cowok? Cak kenapa enggak bahasa Jawa, yang jumlah penggunanya lebih banyak di Nusantara?

Kami putra dan dayang Indonesia, menyanggupi bertumpah darah yang satu, persil air Indonesia.


Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.



Kami putra dan amoi Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Gue
optimistis
banget
kalo
lo
tahu bahwa kalimat-kalimat di atas adalah isi bermula Sumpah Pemuda nan dideklarasikan 89 tahun nan lalu, tepatnya puas 28 Oktober 1928.
Nah, pada kesempatan kali ini, guecak hendak invalid mengulas tentang isi dari deklarasi Sumpah Pemuda, yang merupakan periang yang sangat bersejarah dalam mempersatukan banyak tokoh nasional untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Sumpah Pemuda: Mengapa Bahasa Indonesia yang Dipilih Sebagai Bahasa Persatuan? 50

Wicara tanya isi dari Sumpah Pemuda, signifikan kita bicara tentang hasil kesimpulan pecah Kongres Bujang II yang menitikberatkan bahwa para pemuda berpangkal beragam distrik di seluruh Nusantara bersumpah buat berganduh atas nama tanah tumpah Indonesia, berbangsa Indonesia, dan memiliki bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Momentum ini seolah-olah menjadi simbol berdirinya sebuah ikatan emosional yang sakral di antara puluhan tungkai bangsa, dimana setiap perwakilan bermula masyarakat seluruh Nusantara “melepaskan” identitas etnis mereka saban, bikin berjanji akan berbaur dan berjuang bersama atas nama identitas kebangsaan baru, yaitu bangsa Indonesia.

Sebetulnya ada banyak sekali aspek yang mengganjur seandainya kita ingin menuduh tentang peristiwa Kutuk Jejaka ini. Namun berhubung
gue
merupakan seorang pemerhati bahasa, maka pada kesempatan kali ini
gue
ingin membahas lebih dalam pada suatu aspek yang menurut
gue
menggandeng banget berasal Sumpah Teruna, yaitu latar birit logo “Indonesia” dan kembali penggunaan “bahasa Indonesia” bagaikan bahasa persatuan berbarengan identitas kebangsaan kita.

Materi Bahasa Indonesia Lainnya dari Zenius

Materi Bahasa Indonesia: Teks Pemberitahuan Hasil Observasi
Materi Bahasa Indonesia: Teks Tanggapan
Materi Bahasa Indonesia: Jenis diversifikasi Frasa
Materi Bahasa Indonesia: Bedah buku
Materi Bahasa Indonesia: Wacana Prosedur
Materi Bahasa Indonesia: Esai
Materi Bahasa Indonesia kelas 7: Tindasan Pribadi

Lho, memangnya kenapa dengan istilah stempel Indonesia dan pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan? Bukankah itu kejadian yang wajar-wajar sahaja? Buat
lo
yang kehidupan di era kemandirian ini mungkin seolah-olah itu peristiwa yang wajar, tapi cobalo
pikirkan sekali lagi
deh,lega perian itunegara Indonesia sendiri masih belum cak semau sampai sekurang-kurangnya 17 waktu berikutnya. Puas saat itu, Nusantara masih yaitu negeri kepulauan Asia Tenggara di pangkal administrasi Belanda dengan nama Hindia-Belanda (Dutch East Indies). Temporer sekiranya dilihat dari total penutur bahasa mayoritas di wilayah Nusantara, bisa dikatakan bahasa Jawa ialah bahasa yang paling banyak digunakan mayoritas penghuni Nusantara.
Padalah, mungkin di antara
lo
ada nan mulai bertanya-tanya:

Terus kenapa pakai bahasa Indonesia? Kenapa enggak pakai bahasa Jawa  aja yang penutur bahasanya lebih banyak? Lagipula pada perian 1928 itu kan negara Indonesia belum lahir, kok bisa yakin banget bahasa persatuan kita mengaryakan bahasa Indonesia? ”

Makara, kira-sangkil kenapa ya?
Nah, untuk menelusuri jawabannya, pertama-tama mari kita memahami dulu kondisi geopolitik bilamana itu.

Sumpah Pemuda: Mengapa Bahasa Indonesia yang Dipilih Sebagai Bahasa Persatuan? 51
keputusan Kongres Pemuda Kedua 28 Oktober 1928 yang kini lebih dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda

Latar Bokong Kondisi Geopolitik

Cak bagi bisa mengetahui sebab-akibat dari suatu keputusan, kita harus
banget
melihat sejarahnya. Coba kita
flashback
silam ke awal abad 20, dan menelaah kondisi geopolitik Nusantara puas masa tersebut.

Di mulanya abad ke-20, ketika Nusantara masih di sumber akar administrasi kolonial Belanda nan dipimpin oleh Ratu Wilhelmina, diberlakukanlah sebuah kebijakan yang dinamakan
Garis haluan Bermartabat
(Etische Politiek). Apaan sih Ketatanegaraan Etis itu? Sederhananya, kebijakan Politik Bersusila yakni gerakan tanggung jawab moral pemerintah kolonial terhadap koloninya di Nusantara yang selama ini dianggap telah banyak menguntungkan pihak kolonial Belanda, terutama sejak diberlakukannya sistem tanam paksa (Cultuurstelsel) sepanjang tahun 1830-1870. Ambillah, salah satu praktik internal kebijakan politik bersusila ini adalah mengedukasi suku bangsa akil balig bumiputera mudahmudahan akan datang dapat menjadi tenaga terpelajar yang bermanfaat bagi kolonial.

Dampak berasal propaganda Ketatanegaraan Ter-hormat kerjakan suku bangsa bumiputera ini menjadi bumerang unik bikin pemerintah kolonial. Dalam periode perian nan relatif singkat, kebijakan strategi etis ini melahirkan begitu banyak biang kerok intelektual cukup umur yang kritis di galengan bumiputera. Beberapa di antaranya yakni para konseptor berbarengan pendiri negara Republik Indonesia, seperti Tan Malaka, Sukarno, Hatta, Sjahrir, dll. Garis haluan etis yang tadinya diharapkan boleh memproduksi tenaga kerja administrasi yang cantik dan murah, lebih-lebih melahirkan banyak kaum akademikus yang peka, berpengetahuan luas, dan bagak kecam tindakan-tindakan eksplotatif dan diskriminatif berbunga kaum kolonial Belanda.

Baca Juga :  Daftar Film Terbaik Tentang Sejarah Nabi Muhammad Saw Link Streaming Download

Seiring berjalannya hari, kaum intelektual dari bumiputera ini semakin banyak, semakin cerdas, dan semakin kritis. Sampai lega suatu tutul dimana banyak golongan muda terdidik nan merasa bahwa praktik penjajahan ini ialah suatu tindakan eksploitasi dan diskriminasi yang tidak netral, sehingga sudah saatnya Nusantara bergerak seorang, menentukan nasibnya sendiri, dan bukan jatuh cinta puas kolonialisme. Kampanye ini dikenal dengan istilah Kebangkitan Kewarganegaraan, dimana keseleo suatu gebrakan besarnya terjadi pada 28 Oktober tahun 1928, yaitu lahirnya Tulah Pemuda misal hasil kesimpulan berasal Kongres Jejaka II.

Sebelum
gue
mengulas lebih jauh dari Kutuk Pemuda dan juga penggunaan bahasa Indonesia andai bahasa pemersatu,
gue
mau adv minim menceritakan kakek berusul istilah nama “Indonesia” yang menjadi identitas kebangsaan baru yang mempersatukan gerakan kaum bumiputera di seluruh kepulauan Nusantara.


Bawah Muasal dari keunggulan “Indonesia”

Bibit buwit nama Indonesia sendiri sudah terdengar sejak abad ke-19, yang muncul di sebuah majalah ilmiah tahunan di Singapura yang bernama
Journal of the Indian Archipelago
and Eastern Asia (JIAEA). Kerumahtanggaan majalah tersebut, George Windsor Earl (1813-1865) berpendapat bahwa area di bawah administrasi Hindia Belanda harus memiliki segel spesifik, sehingga ia mengajukan dua seleksian keunggulan, yaitu Indunesia atau Malayunesia. Indus = India, Nesia/nesos = kepulauan, Malayu = Malaya. Seiring berjalannya masa, istilah Indunesia berubah bunyi menjadi Indonesia karena faktor kepraktisan ilmu bunyi. Tetapi teradat diingat, penggunaan istilah Indonesia pada abad 19 belum terkenal diketahui, malar-malar maka itu galangan bumiputera sendiri.

Di era Kebangkitan Kewarganegaraan, eksploitasi istilah Indonesia baru berangkat dikenal luas. Dimulai berpunca beberapa organisasi nan menggunakan etiket Indonesia. Pertama adalah
Indonesische Studie Club
(1924) makanya Dr. Sutomo, Universitas Komunis Hindia berubah menjadi Partai Komunis Indonesia (1924), serta
Nationaal Indonesische Padvinderij
(1925), sebuah persuasi kepanduan yang dibentuk maka itu
Jong Islamieten Bond.

Kemudian disusul maka itu Tan Malaka sebagai pelecok satu individu permulaan yang menciptaan konsep “Negara Indonesia” sinkron mempopulerkan istilah “Indonesia” privat bukunya yang berjudulNaar de Republiek Indonesia (1925). Tidak ingin utang juga Mohammad Hatta, Tjipto Mangoenkoesoemo, Borek Hajar Dewantara, Soekiman Wirjosandjojo yang mengubah nama organisasi pelajar di Belanda dari
Indische Vereeniging
menjadi
Indonesische Vereeniging
atau Perhimpoenan Indonesia. Termasuk mengganti nama majalah mereka dari Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka. Dalam waktu relatif singkat, nama “Indonesia” bertambah meluas perumpamaan suatu identitas kebangsaan baru.

Gerakan-gerakan terbit banyak induk bala nasional baik di Nusantara maupun di Belanda inilah yang kemudian bermuara lega kesimpulan terbit Kongres Pemuda II berupa Sumpah Pemuda musim 1928 yang menjadi tunggak bersejarah dalam pergerakan otonomi Indonesia. Isi dari Sumpah Perjaka inilah yang nantinya disiarkan oleh banyak buletin dan dibacakan di wajah rapat perkumpulan-perserikatan gerakan kewarganegaraan di seluruh penjuru Nusantara maupun di Belanda.

Sedikit makrifat terkait Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928

Kongres Perjaka II dilaksanakan di rumah kediaman mulai sejak Sie Kong Liong, Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat (sekarang Museum Sumpah Jejaka). Diprakarsai oleh beberapa pemrakarsa nasional di antaranya:

  • Majikan : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
  • Wakil ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
  • Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
  • Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
  • Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
  • Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
  • Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
  • Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
  • Pembantu V : Rochjani Soe’oed (Pemoeda Kaoem Betawi)

Sumpah Pemuda: Mengapa Bahasa Indonesia yang Dipilih Sebagai Bahasa Persatuan? 52

Dihadiri makanya lebih berpunca 70 bani adam peserta yang mewakili identitas golongan awam berbunga area tiap-tiap. Termasuk di antaranya S.M. Kartosoewirjo (tokoh nasional yang nantinya memberontak) dan W.R Soepratman produsen lagu Indonesia Raya yang pasti ia kumandangkan puas Kongres tersebut.

Sumpah Pemuda: Mengapa Bahasa Indonesia yang Dipilih Sebagai Bahasa Persatuan? 53
foto dokumentasi pelajar Badan legislatif Pemuda II, 28 Oktober 1928

Dahulu Mengapa Bahasa Persatuannya adalah Bahasa Indonesia?

Sebelum gua jawab, gua ingin mengklarifikasi dulu bahwa “bahasa Indonesia” yang dimaksud privat Sumpah Pemuda, sebetulnya secara teknis (pada saat itu) adalah bahasa Jawi beradab. Namun dalam urun rembuk kongres, penamaan dengan “bahasa Melayu” dianggap kurang sejalan dengan visi pemersatuan nasional, oleh karena itulah digunakan nama “bahasa Indonesia”, meski yang sebetulnya dimaksud sreg musim itu yakni bahasa Jawi modern.

Waktu ini, kita pun pula pada pertanyaan:
“Mengapa bahasa persatuan yang dipilih adalah bahasa Indonesia (bahasa Melayu maju)?”Berikut adalah bilang faktor abadi nan menjadi alasan keputusan tersebut:

Bahasa Jawi ialah Lingua Franca di area geografis Nusantara

Apaan tuh Lingua Franca?Lingua Franca
atau bisa juga disebut
bridge language
yakni sebuah bahasa yang secara sistematik digunakan cak bagi sarana komunikasi antara pihak-pihak yang bukan n kepunyaan kesamaan bahasa. Misalnya penggunaan bahasa Latin di seluruh kewedanan Kekaisaran Romawi hingga tahun 610 M, penggunaan bahasa Yunani di Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium) dan diaspora Yunani di sepanjang pesisir Laut Mediterania, kemudian pemanfaatan bahasa Tionghoa Klasik di daerah Asia Timur, serta bahasa Inggris di era modern detik ini dalam bidang informasi, kedokteran, serta aeronautika.

Baca Juga :  Bahan Pashmina Yang Kaku

Gue
coba bahas kurang makin detil terkait beberapa bahasa nan menjadi
Lingua Franca. Contoh pertama adalah bahasa Latin pada era Kerajaan Romawi Historis yang negeri kekuasaannya sangatlah besar, meliputi hampir seluruh daratan Eropa berbudaya, sebagian area Timur tengah, dan seluruh pesisir utara pantai Afrika.

Sumpah Pemuda: Mengapa Bahasa Indonesia yang Dipilih Sebagai Bahasa Persatuan? 54

Lo
bayangin aja, provinsi geografis seluas itu tentu memiliki latar belakang budaya dan bahasa lokal yang sangat beragam. Sekadar kekaisaran Romawi historis bisa dipersatukan oleh bahasa Latin sepanjang ratusan waktu. Orang Timur Tengah bisa berkomunikasi dengan dengan suku nasion Eropa dengan bahasa latin, makhluk Afrika bagian paksina dapat berkomunikasi dengan orang Galia dengan bahasa latin. Bahasa latin ialah
Lingua Franca
atau
bridge language.

Contoh lain dari
Lingua Franca
ialah penggunaan bahasa Yunani (varian Koine) bak pengganti bahasa Latin saat Kekaisaran Romawi Timur bangkit di bawah komando Aleksander Agung. Kedua bahasa tersebut (Latin dan Yunani) menjadi bilingual yang lewat terdahulu di Eropa, Asia Kerdil, serta kewedanan-area lain di Mediterania. Selain faktor religius dalam praktik ibadah kaum Nasrani, kedua bahasa tersebut juga memiliki peranan utama sebagai bahasa-bahasa penting n domestik edukasi, administrasi pemerintahan, serta komando militer.

Dengan adanya bahasa Latin dan Yunani, seluruh daerah Kekaisaran Romawi (dan Romawi Timur) seperti mana Eropa Barat & Tengah (bahasa Galia, bahasa Briton, bahasa Goth), Asia Kecil dan Suriah (bahasa Aram, bahasa Suryani), serta Afrika Utara (bahasa Punisia, bahasa Koptik) dapat dipersatukan. Biar secara legal tergantikan maka dari itu bahasa Yunani, uniknya bahasa Latin tetap menjadi
Lingua Franca
di Eropa hingga abad ke-19 dalam parasan sains, liturgi basilika, serta sastra.

Serupa itu juga lakukan bahasa Tionghoa Klasik di Asia Timur. Sepanjang berabad-abad, bahasa Tionghoa Klasik menjadi
Lingua Franca
di Tiongkok, Vietnam, Korea, Jepang, Taiwan, Kepulauan Ryukyu, serta Mongolia. Hal ini disebabkan oleh kuatnya pengaruh politis dinasti-dinasti Tiongkok. Selama lebih berpunca seribu hari, bahasa Tionghoa menjadi bahasa penghubung negara-negara di Asia Timur, sebatas posisinya perlahan tergantikan maka itu bahasa Inggris di sediakala abad ke-20.

Tinggal bagaimana dengan distrik Nusantara? Sepanjang ribuan waktu dari era Dinasti Sailendra, bahasa Jawi mulai menggeser bahasa Sansekerta dan menjadi
Lingua Franca
di Asia Tenggara, khususnya di semenanjung Malaya dan sepanjang gugusan pulau Nusantara. Penyebaran bahasa Melayu tentunya mengalami proses evolusi bahasa seiring dengan penggunaannya seumpama bahasa perdagangan di era Kerajaan Sri Wijaya dan Majapahit, bersumber bahasa Melayu Kuna(0-1400), bahasa Melayu Klasik (1400-1800), setakat bahasa Melayu Modern (1800-sekarang).

Secara praktis, bahasa Melayu modern telah menjadi bahasa pemersatu bursa di sanding seluruh pelosok Nusantara selama ribuan tahun. Dalam hal ini, peran saudagar perdagangan sangatlah besar n domestik persebaran bahasa Melayu dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali bahkan sampai Ambon, Ternate, dan pantai barat Pulau Papua.

PS. Lega kata sandang zenius blog sebelumnya, Kak Faisal sempat menulis sejarah proses evolusi bahasa Melayu dengan lengkap
banget,lo
bica baca di kata sandang Gimana sih bentuk bahasa Melayu di Nusantara zaman dahulu?

Singkatnya, bahasa Melayu modern momen itu yaituLingua Franca di kawasan Nusantara. Tapi perlu
lo
sadar, kendatipun bahasa Melayu adalah
Lingua Franca, tapi bahasa Melayu bukanlah bahasa mayoritas penghuni Nusantara. Kapan itu, bahasa dengan pendongeng terbanyak merupakan bahasa Jawa, yang secara demografis digunakan oleh sanding sekelumit populasi.

Kalau bahasa Jawa yaitu bahasa mayoritas penduduk Nusantara, lalu kenapa bukan bahasa Jawa saja yang dipakai misal bahasa pemersatu?

Pendirian Bahasa Pemersatu

Nah di sinilah kerennya pemikiran dari para tokoh-tokoh kebangsaan yang merumuskan Sumpah Pemuda. Menurutgue, pemilihan bahasa Melayu (dengan segel bahasa Indonesia) merupakan saringan nan bijakbanget. Lo bisa bayangkan ketika Kongres Pemuda II dihadiri oleh puluhan perwakilan golongan masyarakat dari daerahnya masing-masing, dimana mereka semua cak hendak menyusun satu
formula
untuk bisa menjadi suatu korespondensi perjuangan bersama yang MEMPERSATUKAN banyak suku bangsa nan berlainan-selisih.

Kerumahtanggaan kejadian ini, para peneroka pemberontakan Indonesia sudah menyadari, bahwa
kaidah untuk menengahi keragaman bukanlah sesederhana menirukan mayoritas.Boleh jadi bilamana itu perawi bahasa Jawa ialah mayoritas pemukim sebagaimana penduduk di Pulau Jawa adalah nan paling banyak jumlahnya. Tapi apakah jika dengan pertimbangan sesederhana itu (appealing to majority),
tujuan terdepan untuk mempersatukan beraneka rupa suku bangsa yang farik-cedera ini bisa tercapai? Pasti sahaja lain. Maka berbunga itu, para konseptor Sumpah Bujang pada saat itu lebih memilih menggunakan bahasa yang sudah meluas, nan diketahui dan digunakan dari ujung barat setakat ujung timur gugusan pulau Nusantara ; bahasa yang sonder disadari selama ratusan tahun keladak telah menjadi pembalut tali penggalasan antar berbagai suku bangsa di seluruh Nusantara.

Baca Juga :  Perbedaan Bioteknologi Modern Dengan Bioteknologi Konvensioal Adalah Pada

Suatu faktor juga yang menurut
gue nggak
kalah terdepan, adalah prinsip
egalitarianmaupun kesejajaran yang diperjuangkan para biang keladi nasional.Lakukan lo
nan familiar dengan bahasa Jawa, pasti luang bahwa bahasa Jawa memiliki tingkatan (register) berdasarkan kesopanan sebagaimana
Ngaka (ngoko), Madya, Krama (kromo inggil),
nan punya perbedaan khazanah kata serta tata bahasa. Internal umum Jawa, bahasa Jawa
Ngoko
jamak dipakai lakukan konversasi sehari-waktu antar tara segolongan, sementara bahasa JawaKromo
digunakan oleh kaum bangsawan, atau sering dianggap bak bahasa ningrat bagi orang
dalem
keraton sultanat.

Bisa
lo
bayangkan jika ketika itu bahasa Jawa dipilih misal bahasa pemersatu, maka akan sulit untuk memilih satu versi tangga yang bisa diterima luas oleh bervariasi kabilah lain, termasuk oleh penutur bahasa Jawa itu sendiri. Maka kembali kembali plong pamrih tadinya ibarat PEMERSATU, bahasa yang digunakan harus menjunjung tataran ponten-nilai ekuivalensi. Jangan hingga, ada tungkai bangsa tertentu merasa “lebih tinggi” derajatnya ketimbang suku bangsa yang lain. Jangan sampai kembali, ada ekslusivitas n domestik penggunaan tahapan bahasa tertentu yang berpotensi menimbulkan diskriminasi dan segmentasi sosial (kasta). Maka dari itulah, diputuskan bahasa pemersatu yakni bahasa nan diketahui dan digunakan di seluruh penjuru kepulauan Nusantara, yaitu bahasa Melayu modern ataupun dinamakan lagi dengan nama bahasa Indonesia.

Jadi, pemilihan bahasa Indonesia juga enggak lepas dari faktor historis dan strategis nan terjadi kapan itu. Bahasa Indonesia dianggap sebagai simbol signifikan intern memisahkan keanekaragaman suku bangsa, bentuk identitas nasionalisme bangsa, dan hayat menentukan nasib koteng kerjakan melepaskan mulai sejak kolonialisme.

****

Kaprikornus, tebak-sangkil
gitu deh, radiks-usul dari nama Indonesia dan mengapa bahasa Indonesia (melayu maju) kesannya dipilih sebagai bahasa pemersatu. Menurut gue pribadi, kita patut sangat berbangga terhadap keputusan nan dahulu bijak berusul para peneroka pertempuran independensi kita yang dikristalisasi dalam deklarasi Sumpah Jejaka. Selain menjadi tunggak perjuangan kemerdekaan, implementasi dari pemilihan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu ini bisa dikatakan berhasil dijalani secara konsisten selama hampir suatu abad.

Bahasa Indonesia mana tahu merupakan satu-satunya bahasa seleksian yang sukses digunakan di negara eks-dominion, yang penggunaannya mampu mengungguli bahasa mayoritas (bahasa Jawa), serta gemuk menggantikan bahasa dominion (bahasa Belanda). Coba sekadar tengok bagaimana pengusahaan bahasa di negara-negara eks-koloni tidak begitu juga India, Hongkong, Malaysia, Filipina, dan negara-negara di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Bisa
gue
bilang, rata-rata masih banyak mengadopsi bahasa dari negara kolonial nan lalu mendudukinya.

Di sisi lain kita kembali patut berbangga dengan hayat para pendiri nasion kita yang sudah lalu diwujudkan dengan baik internal bahasa Indonesia. Sebuah bahasa persatuan yang menjunjung tinggi kesetaraan, mampu menjembatani seperti itu banyak perbedaan budaya, suku bangsa, dan agama. Maka berasal itu, marilah kita junjung tinggi bahasa pemersatu kita, bahasa Indonesia.
Okay deh, sekian silam lakukan mana tahu ini, semoga tulisan
gue
berjasa, ya! ?

Pustaka artikel:

https://www.sas.rochester.edu/cls/assets/pdf/working/Paauw.pdf
de Swaan, Abram (2001).Words of the World. Cambridge, UK: Polity. pp. 81–95. ISBN 074562748X.

—————————Catatan EDITOR—————————

Jikalau ada di antara engkau nan cak hendak ngobrol atau sumbang saran dengan Yuuji-sensei sekitar evolusi bahasa Jawi bertamadun atau bahasa Indonesia, jangan ragu cak bagi menanya lega kolom komentar di radiks artikel ini yak. Bakal kamu yang tertarik dengan ki kenangan perjuangan nasional meraih kedaulatan yang menjadi latar pantat peristiwa Sumpah Cowok, alias tentang sejarah evolusi bahasa Indonesia, kamu kembali bisa membaca beberapa artikel zenius berikut ini:

  • Proses perubahan ejaan Bahasa Indonesia mulai dari 1901 sampai kini
  • Proses evolusi bahasa Melayu di Nusantara pecah zaman dahulu setakat era maju
  • Biografi Kartini: Bukan Hanya Tentang Kebaya
  • Biografi Tan Malaka: Bapak Republik Indonesia nan Terlupakan
  • Profil Sukarno: Kehidupan & Perjuangan Sang Pembangun Bangsa
  • Biografi Mohammad Hatta: Bukan Doang Pendamping Bung Karno
  • Profil Sjahrir : Arsitek di Balik Cucur Kemerdekaan

Lihat Juga Proses Belajar Ala Zenius di Video Ini

Salah Satu Fungsi Bahasa Indonesia Yang Terdapat Dalam Sumpah Pemuda Adalah

Source: https://www.zenius.net/blog/sumpah-pemuda-mengapa-bahasa-indonesia