Sebutkan Ciri Ciri Masa Bercocok Tanam

Sebutkan Ciri Ciri Masa Bercocok Tanam

Periodisasi zaman praaksara
bisa dibedakan berdasarkan geologi (ilmu yang mempelajari bebatuan) dan arkeologi (pusaka ki kenangan). Selain itu, zaman praaksara pula sering disebut lagi dengan zaman prasejarah. Zaman praaksara disebut juga zaman nirleka nan di mana nir merupakan tidak adal dan leka adalah tulisan. Sreg artikel sebelumnya, Eduteam sudah meributkan tentang zaman praaksara menurut geologi (ilmu yang mempelajari bebatuan). Sekarang yuk kita selami zaman praaksara bersendikan benda-benda peninggalannya!


Periodisasi Zaman Praaksara Berdasarkan Arkeologi


Beli Buku di Gramedia

Buku berjudul Sapiens Grafis: Kelahiran Umat Manusia oleh Yuval Noah Harari merupakan bentuk adaptasi grafis dari salah satu buku album naik daun di bumi yaitu Sapiens. Dalam pusat ini akan dibahas tentang awal mula bagaimana umat manusia dilahirkan dan evolusinya hingga saat ini.

Menurut ilmuwan album atau sejarawan bawah Denmark, CJ. Thomsen (Christian Jürgensen Thomsen), zaman praaksara di Indonesia terbagi menjadi 3 zaman  merupakan zaman batu, zaman perunggu dan zaman besi. Konsep tersebut disebut dengan “three age system” nan menekankan plong pendekatan teknis dan didasarkan atas penemuan alat-alat pusaka bangsa prasejarah.

Ahli tarikh Indonesia, R Soekmono mengadaptasi teori tersebut dan membagi zaman praaksara Indonesia ke dalam 2 zaman yaitu zaman gangguan dan zaman metal.


ZAMAN Bencana



1. Zaman Zaman batu tua (Zaman Bujukan Tua) – Perian berburu dan mengumpulkan makanan tingkat semula


Mata air: bebaspedia.com

Zaman batu bertongkat sendok berlangsung puas 50.000-10.000 SM. Zaman praaksara ini disebut perumpamaan zaman batu tua karena pada saat itu manusia menggunakan alat-instrumen batu yang masih dibuat secara kasar dan sederhana. Lega zaman praaksara ini manusia hidup secara nomaden alias berpindah-bermigrasi kerumahtanggaan kerumunan kecil (10-15 khalayak) bagi mencari kas dapur.

Lega zaman praaksara ini, manusia hanya mengenal mengejar (hewan) dan mengumpulkan kandungan (buah dan umbi-umbian), mereka belum mulai memasak atau bertemu dengan tanam. Mereka berlindung mulai sejak alam dan hewan bengis dengan dulu di dalam gorong-gorong. Pada masa ini, manusia purba telah mengenal api.

src: ikacuplisblog.wordpress.com

Berdasarkan rakitan fosil, jenis manusia purba yang hidup di zaman paleolitikum, antara bukan:

– Pithecanthropus Erectus
– Meganthropus paleojavanicus
– Homo Erectus
– Homo Soliensis
– Homo Wajakensis
– Homo Floresiensis

Di Indonesia sendiri khususnya di Jember, berdasarkan dugaan di era paleolitikum terbagi menjadi tiga periodisasi yakni awal, tengah, dan akhir. Dimana terdapat bilang pusaka yang menjadi bukti akan hal tersebut yang dapat kamu baca pada kancing Babad Dunia Sadeng Mozaik Historiografi Jember Era Paleolitik oleh Zainollah Ahmad.


Beli Buku di Gramedia

Berlandaskan daerah penemuannya, hasil kebudayaan zaman Paleolitikum dikelompokkan menjadi:






a. Tamadun Pacitan

Ditemukan oleh Von Koeningswald pada masa 1935. Alat yang ditemukan berwujud kapak kepal dan gawai serpih yang masih kasar yang Selain di pacitan, alat-alat pun banyak ditemukan di Progo dan Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), dan Lahat (Sumatera Utara).






– Kapak kepal (chopper): alat penetak/pemotong, serupa kapak tapi tidak bertangkai, diperkirakan ialah hasil peradaban manusia macam Meganthropus.

– Kapak perimbas (ditemukan juga di Gombong, Sukabumi, Lahat): untuk merimbas kayu, memahat tulang & sebagai senjata, diperkirakan merupakan hasil kebudayaan manusia Pithecanthropus.

b. Peradaban Ngandong


Alat hasil peradaban Ngandong ditemukan di kawasan Ngandong, Ngawi, Jawa Timur. Alat yang ditemukan berupa peralatan yang terbuat bersumber tulang dan sungu rusa, diperkirakan digunakan perumpamaan gawai penusuk, belati, atau mata tombak.






– Alat bersumber tulang fauna: alat jarum/belati, ujung tombak bergerigi, mengorek ubi dan birah bermula internal tanah, merajut lauk.

– Flakes: alat kecil dari batu


Chalcedon

, buat mencerca perut, berburu, merenda ikan, mengumpulkan kaspe dan biji pelir-buahan.


2. Zaman Mesolitikum (Zaman Batu Paruh) – Masa berburu dan mengumpulkan peranakan tingkat lanjut

(Sumber: essay.co.id)

Adalah transisi zaman paleolitikum dan neolitikum. Manusia pendukungnya ialah bangsa Papua-Melanosoid.

Turunan tiba hidup recup menetap di gua-gua yang disebut Abris Sous Roche. Puas surat sita praaksara mesolitikum, laki-suami berburu dan perempuan habis di gua bikin menjaga anak asuh dan memasak.

Hasil budaya yang ditemukan lega zaman mesolitikum, yaitu:

Baca Juga :  Sebutkan Dan Jelaskan Jenis Jenis Jaringan Berdasarkan Jangkauannya

a. Kjokkenmoddinger


Kjokkenmoddinger ini berasal terbit bahasa Denmark, kjokken yang berarti “dapur” dan modding berarti “sampah”. Kjokkenmoddinger ialah sampah-sampah keran kasatmata tumpukan kulit kerang. Kjokkenmoddinger ditemukan di sejauh pesisir timur Sumatera. Penemuan hasil budaya dari kjokkenmoddinger ialah peeble, kapak genggam, kapak pendek, dan batu giling. Batu giling merupakan batu penggiling yang digunakan untuk menggiling perut dan menghaluskan cat bangkang nan berasal dari tanah merah. Cat sirah ini diperkirakan digunakan kerjakan fungsi religius dan sulap.

b. Abris Sous Roche

Turunan pada zaman praaksara ini individu purba tinggal di gorong-gorong-terowongan sreg gisik pantai nan dinamakan Abris Sous Roche. Hasil budaya yang ditemukan dari gua-gaung tersebut yaitu peralatan dari batu yang telah diasah serta peralatan berasal tulang dan tanduk (banyak ditemukan di gua Lawa, Sampung, Ponorogo, Jawa Timur, karena itu disebut seumpama


Sampung Bone Culture

). Abris Sous Roche juga banyak ditemukan di Besuki, Bojonegoro, dan Sulawesi Selatan.

Sumber: sejarahlengkap.com

Hasil budaya tak yang menonjol yaitu lukisan liang kasatmata cap tangan yang diyakini sebagai bagian semenjak ritual agama, dianggap n kepunyaan maslahat magis. Lukisan tersebut banyak ditemukan di gua Leang-Leang, Sulawesi Selatan. Tera jari tangan warna abang diperkirakan sebagai simbol guna dan perawatan dati sukma-roh kejam, sementara cap tangan jadi jarinya tak abstrak diperkirakan merupakan ungkapan gobar atau berkabung.

Puas buku Qatar di Mata Penjelajah dan Arkeolog makanya Ali Ghanim al-Hajri dijelaskan mengenai Qatar yang mempunyai warisan peradaban luar biasa yang mengekspresikan kekhususan warisan material serta intelektual sejak Zaman Batu. Jika Grameds ingin mengetahui lebih dalam, klik “beli buku” yang ada di bawah ini.


Beli Buku di Gramedia


3. Zaman Neolitikum (Neolitikum/ Batu Muda) – Waktu berjumpa dengan tanam

Sumber: hariansejarah.id

Kehidupan manusia puas zaman praaksara ini sudah mulai menetap, tidak berpindah-bermigrasi. Keberagaman bani adam yang hidup pada pada zaman praaksara ini yaitu Homo Sapiens ras Mongoloide dan Austromelanosoide. Mereka lagi mutakadim mengenal bertemu dengan tanam, doang masih melakukan perburuan. Mereka pun sudah dapat menghasilkan bahan makanan koteng
(food producing).







Hasil budaya pusaka pada zaman praaksara zaman batu baru, pembuatannya sudah lebih teoretis, lebih kecil-kecil dan disesuaikan dengan fungsinya. Gawai-radas puas masa ini banyak digunakan bikin pertanian dan pertanaman.

Hasil kebudayaan yang terkenal plong zaman Neolotikum, yaitu:

– Kapak Lonjong: alat dari batu yang diasah berbentuk lonjong seperti bulat telur. Diperkirakan digunakan dalam menebang tumbuhan. Peninggalan ini banyak ditemukan di Indonesia fragmen timur, sebagai halnya Minahasa dan Papua.

– Kapak Persegi: berbentuk persegi janjang ataupun trapesium, mirip dengan cangkul, digunakan bikin kegiatan persawahan.  Ukuran segara sering disebut beliung atau pacul, yang bermatra mungil disebut tarah (pahat) dan digunakan buat mengerjakan kayu. Persebarannya di provinsi Indonesia bagian barat, sebagaimana Sumatera, Jawa, dan Bali.

Ada pula peninggalan zaman praaksara Neolitikum, lainnya, yaitu:

– Netra panah dan mata tombak: terbuat dari gangguan yang diasah seara halus buat kepentingan mengejar, ditemukan di Jawa Timur dan Sulawesi Kidul

– Perhiasan seperti ring dari batu luhur: banyak ditemukan di wilayah Jawa.

– Alat pemukul kulit kayu

– Pakaian berasal kulit tiang: Pada zaman tersebut sudah dikenal adanya baju, dibuktikan dengan penemuan alat pemukul kulit papan yang dijadikan misal bahan rok.

– Tembikar (periuk periuk): banyak ditemukan retakan-pecahannya di Sumatra. Di Melolo, Sumba banyak ditemukan periuk belanga yang berisi tulang-tulang cucu adam.


4. Zaman Megalitikum (Zaman Batu Osean)

Sumber: pinterest.com

Kebudayaan plong zaman praaksara megalitikum diperkirakan berkembang dari zaman neolitikum sebatas zaman kuningan. Makhluk sudah dapat membuat dan meningkatkan kebudayaan menghasilkan bangunan-gedung bermula batu besar. Mereka telah membuat berbagai spesies bangunan alai-belai untuk keefektifan upacara keimanan dan mengubur jenazah. Manusia partisan pada zaman praaksara ini didominasi makanya Homo Sapiens.

Menurut Von Heine Geldren, kebudayaan megalitikum menyebar ke Indonesia melangkaui 2 gelombang listrik. Pertama yaitu

Megalitikum Lanjut usia (2500-1500 SM) yang memencar ke Indonesia pada zaman zaman batu baru dibawa maka dari itu pendukung Kultur Kapak Persegi (Proto Melayu). Acuan konstruksi Megalithikum adalah menhir, punden berundak-undak, arca-arca statis.

Sedangakan waktu

Megalitikum Muda (1000-10 SM), menyebar puas zaman perunggu dibawa maka dari itu pendukung Kebudayaan Dongson (Deutro Melayu). Teoretis konstruksi megalitikum merupakan peti kubur batu, dolmen, waruga , sarkofagus dan arca-arca dinamis.






Hasil kebudayaan zaman megalitikum:

– Menhir: tiang atau tugu bisikan cak bagi pemujaan dan peringatan akan roh kakek moyang. Menhir banyak ditemukan di Sumatera Selatan, Kalimantan, dan Sulawesi Tengah.

Baca Juga :  Ciri Ciri Terkena Suspend Gojek

– Punden berundak: konstruksi yang tersusun bertingkat, berfungsi ibarat bekas pemujaan roh leluhur. Punden berundak bertingkat tiga nan memiliki makna tunggal. Tingkat pertama merepresentasi nasib momen masih dikandungan ibu, tingkat kedua melambangkan usia didunia dan tingkat ketiga menandakan vitalitas setelah meninggal. Punden berundak ditemukan di daerah Lebak Sibedug, Banten Selatan.

– Dolmen: bidang datar batu tempat memangkalkan sesaji untuk upeti pada kehidupan nenek moyang. Dolmen yang yakni tempat pemujaan ditemukan di Telagamukmin, Sumberjaya, Lampung Barat. Di dasar dolmen cangap ditemukan kubur bujukan untuk meletakkan mayat.

– Sarkofagus: peti kubur gangguan yang terdiri dari wadah dan tutup, puas ujung-ujungnya terdapat tonjolan. Sarkofagus memiliki jenis tulang beragangan dan ornamen yang berbeda. Di dalamnya ditemukan tulang-sumsum manusia dan bekal kubur berupa periuk, beliung persegi, perhiasan berusul perunggu dan ferum. Sarkofagus banyak ditemukan di area Bali.

– Kubur batu: peti jenazah yang dibentuk dari 6 papan alai-belai. Minimum banyak ditemukan di daerah Sumba dan Minahasa.

– Waruga: Kubur bencana unik Minahasa, rata-rata substansial kotak batu dengan tutup berbentuk segitiga mirip bangunan apartemen tertinggal.

– Arca bisikan: patung-patung berbunga batu berbentuk satwa maupun manusia. Bentuk satwa nan digambarkan yaitu gajah, kerbau, harimau dan ketek. Daerah penemuannya yaitu di Pasemah (Sumatera Kidul), Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur.

Beberapa paradigma bangunan di atas boleh dikatakan andai warisan zaman praaksara yang ada di Indonesia.


ZAMAN Logam


Zaman logam disebut juga sebagai zaman perundagian karena di mahajana timbul golongan undagi yang terampil dalam melakukan pegangan tangan. Puas zaman ini, makhluk purba sudah berangkat mengenal teknologi dan pertukangan dengan membuat peralatan yang sesuai dengan kebutuhan usia. Basyar sudah tiba membuat alat dari logam begitu juga tin dan besi.

Ada 2 teknik pembuatan perabot logam, ialah dengan gemblengan bujukan (

bivalve

) dan dengan gemblengan tanak liat dan lilin (

a cire perdue

).

Zaman ferum dibagi menjadi 3 zaman adalah zaman tembaga, zaman gangsa, dan zaman logam, belaka zaman tembaga enggak terjadi di Indonesia.


zaman praaksara


1. Zaman Tembaga

Zaman tembaga yaitu awal manusia mengenal metal. Tembaga digunakan sebagai bahan dasar untuk membentuk peralatan. Indonesia diperkirakan tidak teruit dengan zaman tembaga karena sampai sekarang belum ada ditemukan peninggalan memori berbunga zaman tembaga di Indonesia.


2. Zaman Kangsa




Pada zaman ini, manusia membuat organ dengan bahan radiks gangsa. Pusaka zaman praaksara semenjak zaman kangsa di Indonesia, antara lain:

– Candrasa: sejenis senjata, ditemukan di Bandung dan diperkirakan digunakan untuk keperluan seremoni.

– Pisau penebang Corong (Kapak Sepatu): alat ketinggian dan upacara adat yang berbentuk seperti corong, ditemukan di Bali, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Paruh.

– Nekara: Nekara raksasa atau tambur nan berbentuk seperti dandang terbalik, digunakan buat ritual formalitas, khususnya sebagai pembawa seremoni kematian, seremoni memanggil hujan, dan sebagai kobah perang. Area penemuannya yaitu di kawasan Sumatera, Jawa, Bali, Sumbawa, Pulau Roti, Selayar, dan Kepulauan Kei. Nekara “The Moon of Pejeng” yang yaitu nekara terbesar di Indonesia terdapat di Bali.

tabuh perunggu (materi4belajar.com)

– Moko: sebangsa nekara nan ukurannya bertambah katai, berfungsi bak benda pusaka sendiri pengarah suku, benda yang diwariskan kepada anak junjungan-junjungan pengarah suku dan juga mas kawin. Moko lebih banyak ditemukan di Pulau Alor dan Manggarai ( Pulau Flores).

– Bejana Perunggu: memiliki lembaga seperti belanga tetapi langsing dan linyak. Di Indonesia, bejana kuningan ditemukan di comberan Haud Kerinci (Sumatera) dan Madura. Kedua bejana yang sudah ditemukan memiliki hiasan yang serupa dan sangat indah riil gambar – lembaga geometri dan saur – pilin yang mirip leter J.

– Arca Perunggu: cak semau nan berbentuk makhluk dan ada juga nan berbentuk binatang. Umumnya kecil dan terdapat ring pada episode atasnya. Gelang-gelang tersebut digunakan untuk menggantungkan arca itu karena arca tersebut sekali lagi digunakan sebagai liontin. Arca perunggu ditemukan di Bangkinang (Riau), Palembang (Sulawesi Daksina), dan Limbangan (Bogor).


Dari benda-benda pusaka di atas, peninggalan yang paling terkenal adalah kapak corong. Selain itu, ditemukan pun benda-benda perhiasan seperti kalung, ring, anting-anting, dan manik-manik.


3. Zaman Besi

zaman praaksara

sumber: smansadehistory.blogspot.com

Turunan telah mampu menciptakan menjadikan peralatan yang lebih sempurna dengan objek logam ialah dengan meleburkan bijih besi dan menuangkannya ke dalam tempaan. Hasil warisan zaman praaksara zaman logam yang ditemukan di Indonesia yaitu indra penglihatan kapak, netra cerut, mata pisau, netra pedang, cangkul, dan sebagainya. Mata pisau caluk digunakan untuk membelah papan dan alat penglihatan sabit digunakan cak bagi menyambit bertunas-tumbuhan. Benda-benda tersebut ditemukan di Ardi Kidul (Yogyakarta), Bogor, Besuki dan Punug (Jawa Timur).

Baca Juga :  Ciri Ciri Burung Lovebird Fighter

Peninggalan Zaman Praaksara

Pada dasarnya, warisan zaman praaksara sangatlah banyak, bahkan penemuan ini bisa akan terus bertambah. Berikut ini beberapa peninggalan zaman praaksara.

  1. Nekara
  2. Sabel
  3. Reca perunggu
  4. Moko
  5. Bejana perunggu
  6. Kapak persegi
  7. Mata seri

Insan Purba yang Korespondensi Cak semau di Indonesia

Menurut beberapa peneliti, ada tiga individu purba nan hubungan ditemukan di Indonesia, ialah Pithecanthropus, Meganthropus, dan Homo.

Pithecanthropus Erectus

Koteng geolog nan berasal dari Belanda, yaitu B.D van Rietshoten di tahun 1889 menemukan sebongkah tengkorak manusia. Tengkorak orang nan ditemukan oleh Rietshoten rani di daerah Wajak pada hari 1889. Selepas itu, fosil manusia purba Pithecanthropus ditemukan kembali makanya Dr. Eugene Dubois di Kudidi, Jawa Timur. Ditemukannya fosi-sisa purba tersebut di pulau Jawa, maka Pithecanthropus Erectus juga dikenal dengan istilah Manusia Jawa.

Meganthropus

Manusia purba berikutnya nan ditemukan di Indonesia adalah turunan purba Meganthropus Palaeojavanicus, jika diartikan ke kerumahtanggaan bahasa Indonesia menjadi basyar besar tua yang berasal bermula Jawa. Makanya karena itu, ukuran tubuh Meganthropus Palaejavanicus ini lebih raksasa bila dibandingkan dengan manusia purba Pithcanthropus Erectus.

Homo

Hamba allah purba Homo yang telah ditemukan di Indonesia terdiri dari dua spesies, yaitu Homo Wajakensis dan Homo Soloensis. Homo Wajakensis permulaan bisa jadi ditemukan di kawasan Wajak, Jawa Timur. Sedangkan Homo Soloensis pertama mungkin ditemukan di daerah Solo.

Ikhtisar Zaman Praaksara

Makara, zaman praaksara ialah zaman di mana manusia belum mengenal nan namanya coretan, sehingga hanya mengandalkan cirit-sisa sisa purba saja dalam mengerjakan komunikasi dan mempelajarai spirit. Misalnya, suatu memahami suatu makhluk spirit yang sudah lalu tenang atau membatu. Sreg zaman ini, khalayak boleh bertahan jiwa dengan cara bercocok tanam atau berburu, sehingga masih lalu kental dengan peranti berburu dan alat bercocok tanam.

Akan halnya logo lain dari zaman praaksara ialah zaman nirleka (nir adalah tidak terserah dan leka yaitu karangan). Pada zaman praaksara dibagi menjadi 2 periodisasi berdasarkan arkeologi, yaitu zaman bisikan dan zaman logam. Zaman batu masih dibagi pun menjadi beberapa periode atau zaman, merupakan Zaman Paleolitikum (Paleolitikum) adalah Masa berburu dan mengumpulkan ki gua garba tingkat awal. Zaman Mesolitikum (Zaman Rayuan Tengah) yakni Musim berburu dan mengumpulkan nafkah tingkat lanjur. Zaman Neolitikum (Zaman Bisikan Baru/ Bencana Muda) yakni Waktu bertemu dengan tanam. Zaman Megalitikum (Zaman Bujukan Ki akbar) adalah zaman Manusia telah dapat membuat dan meningkatkan kebudayaan menghasilkan bangunan-bangunan dari batu besar.

[sc_fs_faq html=”true” headline=”h4″ img=”” question=”Segala apa yang dimaksud dengan zaman praaksara jelaskan?” img_alt=”” css_class=””] Zaman praaksara adalah zaman di mana manusia belum mengenal yang namanya goresan, sehingga doang mengandalkan sempuras-cirit fosil saja n domestik berbuat komunikasi dan mempelajarai kehidupan. Misalnya, suatu memaklumi suatu makhluk kehidupan yang telah lengang maupun membatu. [/sc_fs_faq]

[sc_fs_faq html=”true” headline=”h4″ img=”” question=”Zaman batu terbagi menjadi berapa?” img_alt=”” css_class=””]
1. Zaman Paleolitikum
(Zaman Rayuan Tua) – Masa berburu dan mengumpulkan peranakan tingkat awal.
2. Zaman Mesolitikum
(Zaman Batu Perdua) – Hari berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut.
3. Zaman Neolitikum
(Neolitikum/ Bisikan Muda) – Hari bercocok tanam.
4. Zaman Megalitikum
(Zaman Bencana Besar) [/sc_fs_faq]

[sc_fs_faq html=”true” headline=”h4″ img=”” question=”Praaksara adalah zaman dimana manusia?” img_alt=”” css_class=””] Zaman praaksara yaitu zaman di mana individu belum mengenal yang namanya goresan, sehingga hanya mengandalkan sisa-sisa fosil saja dalam melakukan komunikasi dan mempelajarai spirit. Adapun nama lain terbit zaman praaksara ialah zaman nirleka (nir yakni tidak ada dan leka adalah coretan). [/sc_fs_faq]

[sc_fs_faq html=”true” headline=”h4″ img=”” question=”Ada berapakah Pengalokasian zaman Pra aksara sebutkan?” img_alt=”” css_class=””] Bersendikan Ilmu purbakala
ZAMAN BATU
1. Zaman Paleolitikum (Zaman batu tua)
– Tahun mencari dan mengumpulkan makanan tingkat tadinya.
2. Zaman Mesolitikum (Zaman Batu Paruh)
– Waktu berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut.
3. Zaman Neolitikum (Zaman batu baru/ Bisikan Muda)
– Masa bertanam .
4. Zaman Megalitikum (Zaman Batu Besar)

ZAMAN LOGAM
1. Zaman Tembaga 2. Zaman Perunggu 3. Zaman Besi [/sc_fs_faq]

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital kontemporer yang mendahului konsep B2B. Kami hadir untuk melicinkan dalam mengelola perpustakaan digital Sira. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai panggung ibadah.”

logo eperpus

  • Custom batang kayu
  • Akal masuk ke beribu-ribu kiat semenjak penerbit berkualitas
  • Kemudahan n domestik mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat pemberitaan analisis
  • Pesiaran perangkaan cermin
  • Tuntutan lega dada, praktis, dan efisien

Sebutkan Ciri Ciri Masa Bercocok Tanam

Source: https://www.gramedia.com/literasi/zaman-praaksara-berdasarkan-arkeologi/